Halaman

Sabtu, 14 Februari 2026

Menikmati Semua Hal yang Dibolehkan

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bercerita, ”Bapak saya itu sering mengajarkan, kalau ada hal-hal yang mubah, yang enggak maksiat, ya nikmati saja. Karena orang itu sampai cari kesenangan lewat maksiat, karena enggak bisa menikmati sesuatu yang dibolehkan Allah. Jadi, penting menikmati yang dibolehkan Allah itu.”

”Saya dulu itu janggal melihat Bapak, apalagi Mbah Mun, guru saya. Beliau itu sering guyon, sering ceria. Kadang semalaman gojlok-gojlokan sama teman-temannya. Terus beliau cerita, ’Banyak orang yang malam ini berjuang untuk tidak dugem, tidak maksiat.’ Itu kalau berjuang sendiri berat. Kalau asyik jagongan, makan-makan, masak-masak, itu terus asyik.”

”Sebab itu, di antara konsep Qur’an itu qul bi fadlillahi wa birahmatihi fa bidzalika falyafrahu. 


قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
QS. Yunus (10): 58

Orang itu harus asyik dengan hal-hal yang dibolehkan Allah. Itu sebabnya saya menyaksikan sendiri, guru-guru saya, Bapak saya, Abi Quraish, semuanya orang-orang yang ceria. Karena bisa ceria dengan hal yang enggak maksiat itu luar biasa. Apresiasi Allah Ta’ala itu luar biasa. Sampai Imam al‑Ka‘bī dalam usul fikih menjelaskan, mubah dikatakan mubah itu keliru. Katanya, mubah itu wajib.”

”Karena ma min mubahin illa wayatahaqaqu fihi tarqu haramin, fayalzamu minas sukun tarqul qatli wa min sukut tarqul qodf.

ما مِنْ مُبَاحٍ إِلَّا وَيَتَحَقَّقُ فِيهِ تَرْكُ حَرَامٍ، فَيَلْزَمُ مِنَ السُّكُونِ تَرْكُ الْقَتْلِ، وَمِنَ السُّكُوتِ تَرْكُ الْقَذْفِ.

"Mubah, sesuatu yang boleh, hakikatnya adalah wajib. Karena ketika kita melakukan mubah, artinya meninggalkan keharaman. Sementara meninggalkan haram itu adalah wajib.”

Jika Tahlilan Itu Baik, Mengapa Para Sahabat Tidak Melakukannya?

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bilang, ”Maka orang-orang di luar sana yang mengatakan, ’Andaikan tahlilan itu baik, pasti dilakukan oleh para sahabat,’ itu adalah logika yang keliru. Sahabat tentu tidak mungkin menahlili Nabi Muhammad, apalagi berdoa, in kaana musi’an. Masa mendoakan nabi pakai andaikan ada keburukan, tentu itu tidak benar. Nabi adalah manusia terbaik.”

”Jadi yang paling penting adalah bahwa dalam tahlil, kita tidak meminta kepada mayit. Tujuan kita datang ke kuburan adalah untuk mendoakan, dan memohonkan ampunan bagi mayit, bukan meminta sesuatu dari mereka. Maka tidak tepat jika dianggap sebagai perbuatan syirik atau kufur.”

”Kalau dilihat dari jauh lalu disimpulkan macam-macam, itu bukan dasar yang jelas untuk berfatwa. Fatwa tidak bisa hanya berdasarkan asumsi atau pengamatan sepintas.”

”Oleh karena itu, kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa mazhab kita benar. Bahwa tahlilan di kuburan bukanlah perbuatan kafir, karena kita tidak meminta kepada mayit, justru kita mendoakan mereka, dan memohonkan ampunan untuk mereka.”

Surah Tabarok dan Potensi Kerusakan Bumi

Dalam sebuah pengajian Gus Baha bercerita, ”Kenapa surah Tabarok itu spesial? Di situ manusia diingatkan oleh Allah Taala: a amintum man fis-samā`i ay yakhsifa bikumul-arḍa fa iżā hiya tamụr

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Kok kamu hidup di bumi tenang-tenang saja? Bisa saja bumi ini tamur atau likuifaksi. Semua tafsir mengartikan tamur itu tatoribu wa tatafiu fauqokum: bumi itu bergelombang, menggeliat, likuifaksi, kemudian bumi ini di atas kamu.”

اَمۡ اَمِنۡتُمۡ مَّنۡ فِى السَّمَآءِ اَنۡ يُّرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبًا‌ ؕ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ كَيۡفَ نَذِيۡرِ

”Terus potensi lagi, kata Allah: ayursila alikum hasiba: Apa juga kamu merasa baik-baik saja ketika Allah memutuskan benda-benda langit jatuh ke bumi? Terakhir, Allah juga mengingatkan bagaimana sistem bumi yang bisa menyerap air. Harusnya bumi itu enggak ada air karena bumi itu khasnya menyerap air. Qul aroitum in asbaha maukum guron famay ya'tikum bima main: Bagaimana kalau bumi ini tahu-tahu menghisap semua air, kemudian kita enggak menemukan air? Kamu bisa apa, siapa yang bisa mendatangkan air?”

قُلۡ اَرَءَيۡتُمۡ اِنۡ اَصۡبَحَ مَآؤُكُمۡ غَوۡرًا فَمَنۡ يَّاۡتِيۡكُمۡ بِمَآءٍ مَّعِيۡنٍ

”Lalu dengan peringatan Allah seperti ini, orang disuruh hati-hati cara mengelola bumi ini. Makanya saya senang kalau ini ada gerakan-gerakan untuk menyelamatkan bumi. Kata ulama-ulama: tahkallaqu bi akhlakillah. Jadi Allah itu begitu bangganya ketika cerita menumbuhkan beberapa bijian, beberapa makanan, buah-buahan yang kamu butuhkan supaya kamu hidup di bumi ini nyaman, mata’alakum wlian’amikum.”

”Sehingga dalam sebuah hadis diterangkan, enggak ada orang muslim, enggak ada manusia yang menanam pohon kemudian berbuah dan dimakan oleh manusia maupun binatang kecuali itu menjadi sedekah. Begitu juga ketika Allah mengkritik orang-orang yang jahat, yang tidak baik. Kata Allah: Wa idzaa tawallaa sa'aa fil ardi liyufsida fiiha wa yuhlikal harsa wannasl: Jadi ciri utama orang yang tidak baik itu adalah yuhlikal harsa wannasl: yang merusak tanaman, merusak tetumbuhan, merusak populasi.”

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

Selasa, 30 Desember 2025

ketika lampu-lampu mulai dipadamkan

rumah adalah ruang
tamu yang lengang ketika
lampu-lampu
mulai dipadamkan

tempat paling nyaman selalu masa lalu
jalan yang sering kamu lalui dulu
kini menjadi lorong gelap tanpa lantai
nostalgia tempat seseorang pernah tinggal
yang kamu pijak agar jatuh lebih dalam

kesedihan menenggelamkan paru-paru
dan segala hal di sekitarmu menjadi tidak berarti
saat kematian tidak memilih tanah
dan kefanaan tidak peduli perasaan

dunia adalah bajingan
dan ingatan itu jarak yang aneh:
dekat hingga menyakitkan,
jauh hingga mustahil disentuh
dalam kenangan seribu
tahun dan kemarin itu satu
waktu menggeram di langitlangit kamar

seperti kita tujuh puluh tahun yang lewat
atau sembilan puluh tahun mendatang
apakah hal yang tak kita ingat berarti tak ada?

suatu malam di tengah hutan aku memandangi bintang
memikirkan cahaya dari hal yang sudah padam
rembulan membuat bayangan berjalan lebih dulu dariku
desir angin mengulang namamu
dengan suara yang pelan

jalan yang pernah kita lalui
menghilang seperti jalan setapak
ditelan ilalang
aku mencarinya,
tapi hanya menemukan diriku
yang lebih muda dan bodoh

ruang waktu adalah rak buku di perpustakaan
yang kita tidak pernah cukup tinggi untuk meraihnya
di sana, wajahmu, wajahku,
wajah mereka yang pergi,
tersimpan dalam buku-buku
yang terkadang kita baca ulang

setiap kehilangan melesap satu kata
dari kosakata hidup kita,
membuat kalimat mana pun
terasa rengkah

bulan desember penuh hujan
dan sayangku,
akan selalu ada hujan di perjalanan
terkadang kita berlari menghindari gerimis
terkadang badai membuat kita
berteduh pada naungan peron kereta
dan kita terus menari bersama di tengahnya

malam ini udara di ruangan tetap hangat
bukan karena perapian,
tapi karena jiwa kita yang penuh,
karena nyala harapan yang ringkih
masih berbinar redup,
karena rasa takut masih membuat
jari-jariku gemetar

aku bersyukur,
dalam segala riuhsedan ini,
kita berada di
halaman yang sama



30 Des 2025

Selamat Hari Lahir,
yang fana adalah dunia, kamu semesta

Rabu, 22 Oktober 2025

Di Garum Kamu Tinggal, Ke Sana Kami Pulang

Untuk EDP


Aku membeli buku puisi yang ditulis oleh seseorang yang sudah tiada. Barangkali, aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya membaca suara yang tak lagi punya tubuh. Aku duduk di beranda sore itu, membawa secangkir teh yang sudah mulai dingin, sambil memandang lalu lalang orang. Dunia selalu tampak sibuk, tanpa peduli ada yang sedang belajar hidup tanpa seseorang.

Sesekali aku membaca puisi itu dengan suara keras, hanya untuk mendengar rima dan getar suaraku sendiri yang tiba-tiba digampar kesedihan. Ia datang bukan dengan teriakan. Ia kabut yang tiba-tiba menempel di kaca jendela; diam dan membuat pandangan mata buram.

Meskipun sangat mencintai bunga, kamu tidak akan memerlukanya lagi saat tiada. Hingga ketika aku datang menjengukmu ke makam di Garum, aku tidak membawa bunga. Aku duduk di tepian, memandangi awan-awan di langit yang cerah, dan menikmati semangkuk es kacang merah atas namamu. Mencoba menghabiskan waktu dengan tanpa penyesalan.

Jika musim hujan tiba, aku akan menikmati secangkir jahe hangat di ujung meja bersama orang-orang kesayanganmu. Aku suka membayangkan aromanya tumpah ke udara, mencari jalan pulang menuju ruhmu yang tenang. Sambil menatap tetes gerimis yang menuruni kaca, bagai kenangan yang tidak tahu bagaimana cara untuk berhenti jatuh.

Aku tahu, bunga tidak perlu tumbuh di antara kembang lain. Karena kamu sudah mekar di dalam jiwa setiap orang yang pernah mengenalmu. Di dalam mereka yang mencintaimu, kamu tumbuh tanpa tanah, tanpa musim, tanpa henti.

Terakhir kali aku mendengarmu berbicara, kamu mencari nama adikmu. Percayalah, ia akan baik-baik saja, walaupun ia perlu menangisi perpisahan yang tidak pernah tepat waktu, walaupun dunia yang berengsek ini tidak membiarkan pikirannya beristirahat barang sebentar, walaupun ia mengerti bahwa kehilangan yang sama sudah melukai banyak orang lain, walaupun tidak ada seorangpun yang akan bisa membayangkan apa yang seorang kakak pernah berikan untuk adiknya.

Kamu selalu lebih khawatir pada kesakitan adikmu daripada kepedihanmu sendiri. Kata-kata terakhirmu dalam telpon: “Aku baik-baik saja.” Ia tantrum mengulangi kata-katamu, sambil tubuhnya terguncang oleh isak yang tak sempat menjadi doa: mengapa kamu tidak jujur tentang penyakitmu? Mengapa kamu tidak sempat mengucapkan selamat tinggal? Mengapa kamu tidak membiarkannya melakukan sesuatu, sekecil apa pun itu, untukmu?

Waktu perlahan akan selalu bisa mencicil hutang penjelasan. Secara bertahap, ia akan belajar berkenalan dengan bentuk tak terlihat dari kepergianmu. Ia akan mulai kembali berkawan dengan kesedihan yang datang tiba-tiba, mengetuk pintu ketika pagi dan tidak pulang sampai malam. Menghayati segala tanya dengan awalan mengapa. Ia akan belajar bahwa yang paling menyakitkan dari luka kehilangan adalah bukan pada yang sudah ia lakukan, tapi pada yang belum. Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin menangis saja, tanpa ada yang bertanya mengapa.

Hidup menjadi tidak wajar setelah kehilangan lekas. Ada hari-hari ketika langit terasa terlalu rendah, dan lampu-lampu jalanan menyalakan ingatan yang meremukkan hati. Ada rumah kosong yang menyisakan perih kehampaan. Ada komentar di kolom Instagram yang tidak akan pernah terbalas. Ada suara yang masih melekat. Tidak ada lagi tangan yang bisa dijabat atau tubuh yang bisa dipeluk. Di tengah keanehan itu, ada kesadaran yang tetap: bahwa kematian tidak mengakhiri hubungan, dan cinta tidak tahu cara untuk mati.

Kami masih menyebut namamu, di antara sendok, piring, dan bising celoteh anak-anak, sambil sekali lagi menangisi kefanaan. Akan selalu ada kamar yang nyaman di hati kami untukmu. Di mana tidak ada badai atau malam atau rasa sakit yang dapat menjangkaumu lagi.

Saat ini, mungkin kamu sedang membaca puisi ini sambil tersenyum. Kelak kami akan mengerti, bahwa tidak ada yang benar-benar pergi. Akan tiba saatnya kami melihat wajahmu yang cantik lagi, di negeri tempat semua air mata akan terhapus dari hati, dan kehilangan tak lagi punya arti.


Garum, 22 Oktober 2025






Rabu, 08 Oktober 2025

Orang Pertama Tunggal

Saya baru selesai membaca kumpulan cerpen Haruki Murakami yang berjudul Orang Pertama Tunggal. Seperti biasa, karakter-karakter ciptaan Murakami terasa ganjil. Dan seperti biasa, ia meninggalkan pembaca dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial.

Di Bantal Batu bercerita tentang kesepian. Tentang beberapa Tanka yang ditulis seorang perempuan yang karakter "Aku" kenal belasan tahun lalu, saat usianya baru 19 tahun. Membaca Di Bantal Batu membuat saya teringat pada alegori tentang pencarian diri. Tentang kematian, tentang orang-orang dari masa lalu yang kini tak lagi jelas keberadaannya. Tentang kenangan yang samar, yang datang seperti bayangan dan hilang begitu saja.

Krim adalah kisah tentang kekosongan—bagaimana hidup bisa menjerumuskan kita ke dalam sebuah momen yang tampak sama sekali tidak berarti. Namun, justru dari ketidakberartian itu lahir sebuah paradoks. Kita tiba-tiba mengerti “krim dari krim”—inti dari inti, intisari kehidupan. Dan setelah inti itu ditemukan, segala hal lain dalam hidup terasa sepele.

Charlie Parker Plays Bossa Nova berbicara tentang upaya untuk bersahabat dengan kematian. Atau mungkin lebih tepatnya, menanyakan hal yang paling penting dalam hidup: bagaimana rasanya mati muda, ketika segalanya baru saja dimulai? “Coba bayangkan, bagaimana jika mati di usia 34 tahun?” Ada kebetulan yang ganjil, ada warna musik jazz yang kaya. Permainan kata Murakami terasa nyata, karena ia melukiskan sesuatu yang abstrak, sambil mengkonkritkan abstraksi musik yang sesungguhnya tidak pernah ada, apalagi bisa didengar. Imajinasi yang mustahil, namun kita diajak untuk percaya. Karena kebohongan sastra, adalah kebohongan yang layak dipercayai.

With the Beatles mungkin adalah satu-satunya cerita yang sulit saya tebak arahnya. Awalnya saya kira Murakami hendak meringkas gejolak tahun-tahun The Beatles: warna, politik, huru-hara, dan semua yang menyertainya. Namun, semakin ke tengah, arah cerita justru berbelok ke sesuatu yang tak terduga: pertemuan dengan kakak laki-laki pacarnya, yang menderita kehilangan ingatan parsial. Mati-matian saya coba mengaitkannya dengan The Beatles, dengan Murakami, dengan gadis penyuka album The Beatles yang muncul di awal cerita. Tapi saya tidak menemukan alegori, parabel, atau kaitan apa pun yang mudah ditangkap. Mungkin saya kurang teliti. Atau mungkin pengetahuan saya tentang mereka terlalu tipis. Yang tersisa hanyalah alur yang maju bertahun kemudian setelah kejadian di masa lalu yang jauh, sangat khas Murakami —kaitan yg kadang ganjil antara masa lalu yang jauh dan masa kini. Betapa satu pertemuan yang sederhana di masa lalu bisa hadir kembali bertahun-tahun kemudian, bahkan dalam detail yang terkecil. Betapa anehnya ingatan.

Kumpulan Puisi Yakult Swallows adalah kisah paling ringan dan jenaka. Murakami seolah ingin bersenang-senang, bermain-main dengan pembacanya. Mereka yang sudah beberapa kali membaca karyanya tentu tahu: kadang ia menaruh kelucuan, atau menyelipkan komedi gelap, satir, bahkan slapstik. Dengan kelakuan konyol para karakternya, ia menghadirkan hiburan yang terkadang tidak kita duga. Namun, dalam cerita ini, nuansanya dibuat sederhana, seolah tanpa teka-teki. Membacanya seperti membuka buku harian Murakami sendiri. Kita dibawa ke dalam kesehariannya yang apa adanya. Bahkan ia menamakan karakter utama dalam cerita itu dengan Haruki Murakami si penulis. Mungkin memang inilah caranya berbicara langsung dengan pembaca. Dan pada akhirnya, dengan santai ia menutup kisah ini: “Maaf. Anu, ini bir hitam semua.”

Carnaval dimulai dengan janji yang menarik tentang tampilan luar dan dalam manusia. Murakami membuka kisahnya dengan penggambaran seorang perempuan yang buruk rupa, ia sengaja menggunakan kosa kata yang kasar, seolah ingin membawa kita lebih dekat pada inti kemanusiaan.

Di tengah cerita, Murakami banyak menyinggung Carnaval, sebuah gubahan piano karya Schumann. Ia menggambarkannya dengan begitu detail dan hidup, hingga pembaca terdorong untuk ikut mendengarkan nada-nadanya seperti yang dialami oleh tokoh “Aku". Dalam gema musik itu, Carnaval berubah menjadi alegori tentang manusia, tentang bagaimana kita semua, sadar atau tidak, hidup di balik topeng yang kita ciptakan sendiri.

Dan pada akhirnya, Murakami dengan sengaja menggantung cerita itu — tidak memberi jawaban, hanya meninggalkan pertanyaan retoris: “Kebahagiaan, bukankah pada akhirnya hanyalah sesuatu yang relatif?”

Pengakuan Monyet Shinagawa adalah satu-satunya cerpen dalam kumpulan ini yang sudah pernah saya baca sebelumnya. Kisahnya sederhana, runtut, dan cenderung populer. Namun sekali lagi, kita menjumpai gaya khas Murakami yang memadukan realitas dengan sesuatu yang samar, antara yang nyata dan yang mustahil. Makna serta pesan yang ingin disampaikan pun relatif mudah dicerna oleh pembaca kebanyakan.

Meski tidak seringan Kumpulan Puisi Yakult Swallows, cerita tentang seekor monyet yang bisa berbicara terasa ringan dan menarik. Ia membuat kita penasaran, menebak-nebak alegori macam apa yang ingin diungkap Murakami kali ini. Di akhir kisah, kita disodorkan tema yang sungguh universal; tentang cinta. Tentang perasaan yang murni, yang ironisnya justru dialami oleh seekor monyet. Apakah ini dasar dari istilah Cinta Monyet? Entahlah. Tapi barangkali, Murakami hanya ingin menunjukkan bahwa cinta, betapapun ganjil bentuknya, selalu lahir dari kerinduan akan diakui, dimengerti, dan diterima.

Sementara itu, Orang Pertama Tunggal, cerpen yang menjadi judul utama kumpulan ini, hadir sebagai penutup. Sekali lagi, sebagaimana kita lihat, hampir semua karyanya bisa dibaca sebagai alegori, meski ia jarang menulis alegori secara eksplisit. Dunia Murakami adalah di mana realitas dan mimpi menumpuk, dan di sanalah alegori bersembunyi. Begitu juga terjadi dalam cerita ini. Di sini, simbolisme mencapai puncaknya: kejadian ajaib, suasana ganjil, dan kondisi supranatural berpadu menjadi ruang refleksi antara mimpi dan kesadaran. Realisme magis dan surealisme kembali hadir, bukan sekadar gaya, tetapi cara Murakami menjelaskan yang tak bisa dijelaskan.

Begitulah akhirnya saya membaca kembali cerpen-cerpen Murakami, setelah sebelumnya menelusuri Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan. Dengan bahasa yang sederhana namun puitis, ia menulis tentang kesepian, kehampaan, dan cinta yang bersembunyi di antara hal-hal kecil: pertemuan kembali dengan seseorang dari masa lalu, sepotong musik jazz atau gubahan piano, atau seekor monyet yang berbicara. Semua tampak absurd, tapi justru di situlah kehidupan menemukan maknanya.

Murakami, seperti selalu, tidak menawarkan jawaban. Ia hanya membuka ruang sunyi agar pembaca bisa mendengar gema dirinya sendiri. Barangkali itu inti dari seluruh kisah dalam Orang Pertama Tunggal; bahwa pada akhirnya, kita semua hanyalah suara yang mencoba menjelaskan kesepian dengan bahasa yang tak pernah cukup.






Selasa, 07 Oktober 2025

Kita Membenci Orang Lain Hanya Karena Mereka Bukan Keluarga

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bilang, "Cara berpikir Abu Al-Hasan As-Sadili itu begini: kebencian kita terhadap orang lain sering kali muncul hanya karena mereka bukan bagian dari keluarga kita. Coba kalau itu keluarga kita, pasti kita akan berpikir ulang.”

"Contohnya, kamu membenci seseorang karena dia tidak salat, mesti sebabnya karena dua: pertama, karena dia tidak salat, dan kedua, karena dia bukan anak kamu. Kalau itu anak kamu, kamu pasti akan beristighfar berhari-hari untuk dimaafkan Allah. Tapi kalau orang lain, kamu langsung menghakimi. Jadi pertanyaannya: apakah kamu membenci karena dia tidak salat, atau karena plus dia bukan anak kamu?”

“Begitulah cara berpikir Abu Al-Hasan. Kebencian terhadap maksiat itu wajar, kita semua pasti membenci maksiat. Tapi sering kali kita tidak adil dalam menyikapinya. Satu orang kita laknat, sementara yang lain kita doakan. Ujung-ujungnya, ada unsur kepentingan pribadi.”

“Kalau yang melakukan maksiat itu ada hubungannya dengan kita, misalnya keluarga atau orang dekat, kita mendoakannya agar diampuni. Tapi kalau tidak ada hubungan, kita langsung menghakimi dan mencela. Ini jelas tidak adil.”