Halaman

Senin, 27 Juli 2015

Kisah Seorang Pemuda yang Membaca The Alchemist

Tahun 2007. Pada kursi panjang di ruangan itu, seorang anak muda berpakaian rapih duduk menunggu acara dimulai. AC meruapkan bau pewangi ke seluruh ruangan. Sementara di luar, matahari pagi di musim panas yang selalu tepat waktu, bersinar jumawa. Pemuda itu menjadi salah satu peserta yang paling awal tiba. Suasana masih sepi. Baru beberapa menit kemudian, beberapa orang datang memenuhi ruangan. Beberapa orang lewat di depan pemuda itu tanpa menegur. Beberapa orang hanya melempar senyum.

Dua puluh menit kemudian acara dimulai. Dalam acara, ia bertemu dengan seorang wanita yang kelak menjadi istrinya. Itu adalah pertemuan pertama mereka. Wanita itu menjadi salah satu pengisi acara. Ia pintar dan mandiri, itu kesan pertama pemuda itu. Semakin lama mengenalnya lebih dekat, setiap orang akan setuju bahwa ia memiliki segala hal untuk menjadi seorang wanita yang sempurna.

Bertahun-tahun kemudian, pemuda itu berpikir bahwa bagaimana dua orang yang awalnya tidak saling kenal bertemu adalah sebuah rahasia semesta. Bagaimana dua orang itu kemudian menjalin persahabatan sampai akhirnya menikah juga merupakan jalan yang misterius. Mungkin jika mereka tidak ikut acara tersebut, mereka tidak akan bertemu. Namun mungkin juga mereka bisa bertemu di tempat dan waktu yang lain, seperti memang jalannya sudah begitu. Pemuda itu mengenal hal tersebut dengan istilah maktub.

Hari bergerak maju, sampai suatu waktu, mereka menjadi rekan kerja yang sangat akrab. Menjadi kawan dekat. Suatu hari, ketika pemuda itu ulang tahun, ia dihadiahi sebuah buku yang selalu ia bicarakan dengan si wanita, The Alchemist.

Buku itu bercerita tentang sesuatu yang sederhana.Tentang Santiago, seorang pengembala domba yang ingin membuktikan mimpinya. Suatu hari, ketika sedang tidur pada sebuah gereja yang terbengkalai —dengan atap yang sudah runtuh dan sebatang pohon sycamore yang sangat besar tumbuh di empat sakristi pernah berdiri— ia bermimpi tentang harta karun di sebuah negeri yang jauh, negeri piramida-piramida. Setelah melawati berbagai macam rintangan dan keraguan, akhirnya ia sampai di tempat yang sangat ia kenal dalam mimpinya. Namun sebelum ia sempat menggali harta karun itu, ia bertemu perampok. Sang perampok bertanya dari mana Anak itu berasal dan apa tujuannya datang ke tempat itu. Karena takut dibunuh, Anak itu menjawab jujur bahwa ia pernah bermimpi tentang harta karun di bawah sebuah piramida dan ia datang untuk membuktikan mimpi tersebut. Tak disangka perampok tersebut tertawa. Perampok itu mengatakan betapa bodohnya Anak itu percaya dengan mimpi. Perampok itu mengatakan bahwa dulu ia juga pernah bermimpi tentang harta karun yang ada pada sebuah gereja yang terbengkalai —dengan atap yang sudah runtuh dan sebatang pohon sycamore yang sangat besar tumbuh di tempat sakristi pernah berdiri, pada sebuah negeri dimana rumput tumbuh subur dan para gembala mengembalakan domba mereka. Sang perampok tidak jadi membunuh Anak itu, dan Anak itu kembali ke tempatnya berasal. Di sana, ia menemukan harta karunnya.

Pemuda itu telah membaca The Alchemist bertahun-tahun sebelum ia bertemu dengan wanitanya, namun buku hadiah itu begitu istimewa karena diberikan pada hari ulang tahunnya disertai doa yang paling tulus yang pernah ia dapat.

Begitulah hubungan mereka terjalin dengan wajar. Obrolan yang asik, diskusi yang sengit, beserta beberapa keinginan dan tujuan yang saling bersinggungan. Sampai akhirnya, mereka tiba pada pengakuan diam-diam, penuh debar, penuh kegugupan.

Ingatan sungguh aneh, seketika ia bisa menghangatkan hati, di sisi lain, ia juga bisa mencabiknya menjadi bagian-bagian kecil. Seperti elang yang tiba-tiba menancapkan cakar yang dalam pada diri manusia yang sering terlalu cepat bergegas.

Pemuda itu ingat, suatu pagi setelah bangun tidur, sekonyong-konyong ia tertancap pada sebuah kalimat dalam The Alchemist: “Remember that wherever your heart is, there you will find your treasure.”

Dan yang terlintas dikepalanya adalah segera melamar wanitanya.

Sebelum pagi yang mencerahka itu, ia telah membaca kalimat tersebut beberapa kali, namun belum pernah menjadi begitu menyentuh. Ia tidak peduli tentang enam tahun selisih usia dengan wanitanya. Kini hatinya telah memilih.

Ayah pemuda itu berbisik kepadanya sebelum pernikahan, “Jangan terlalu khawatir terhadap penilaian orang lain. Kamu tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka pikirkan, tapi apa yang kamu kerjakan. Jalanilah apa yang telah mantap kau putuskan.”

Ah, mencerahkan sekali kalimatnya, pikir pemuda itu dalam hati. Ia curiga ayahnya juga membaca The Alchemist, “If someone isn't what others want them to be, the others become angry. Everyone seems to have a clear idea of how other people should lead their lives, but none about his or her own.”

Pemuda itu siap. Menikah adalah tentang kesiapan mental yang di dalamnya terdapat kerelaan untuk berkorban. Sebagaimana hal-hal lain di dunia, dalam pernikahan juga ada permasalahan. Setiap pasangan akan menghadapi segala persoalan yang mungkin belum pernah mereka hadapi sebelumnya. Mengatakan menikah selalu menyenangkan adalah hal yang tidak seimbang. Lagipula, hukum menikah, menurut kesepakatan fuqoha, juga berbeda antara satu orang dan orang lain, mulai dari wajib bahkan sampai haram. Jadi menikah atau tidak adalah perkara yang tidak selalu mudah, dan tidak adil menanyakan orang lain, apalagi yang tidak dikenal baik, dengan pertanyaan, “Kapan nikah?” karena menikah memang tidak wajib bagi semua orang.

Pemuda itu sadar. Ia mengerti bahwa dengan menikah ia akan menghadapi dua keaadaan. Makin berkembang atau makin stagnan dan beku. Pernikahan dapat membunuh segala potensinya. Dihentikan oleh istri dan anak-anak, dikhawatirkan oleh soal-soal rumah tangga dan dikalahkan oleh keselamatan keluarga. Ia sadar, setelah hari itu, akan ada banyak hal yang mungkin akan ia tinggalkan seiring dengan banyak hal lain yang akan dilakukan. Ia akan jarang punya waktu untuk sekedar mengunjungi kawan-kawan lama.

Ia siap dengan mental dan sadar akan masalah dan resiko. Namun kesiapan dan kesadaran saja tidak selalu cukup untuk mengalahkan kekhilafan. Suatu hari, ketika pemuda itu berselisih paham dengan wanitanya, ia curhat kepada seorang kawan. Orang bilang, pria tua di persimpangan jalan itu adalah Mikhail; artinya pemberi sejuk bagi hati-hati yang haus. Ia selalu bisa mendengar keluh kesah dan cerita apa saja, dari siapa saja. Orang-orang yang bercerita selalu senang. Ia hanya bicara seperlunya, sesekali berpendapat dan bertanya, selebihnya menyimak makna.

“Bagaimana kabar kedua putrimu?” pria tua memulai berbasa-basi, tidak lama setelah pemuda itu duduk di sampingnya.
“Mereka baik.” Pemuda itu menjawab cepat.
“Setelah mereka dititipkan kepadamu, apa yang kau rasakan?”
“Aku seperti punya dua jantung tambahan yang berdetak bersamaan dalam dadaku.”
“Menyenangkan?”
“Menyenangkan juga mengkhawatirkan.” Pemuda itu berhenti sebentar, mencari kata-kata yang tepat, “Aku merasa punya semangat ganda, seperti mampu berlari tiga kali marathon, tapi di sisi lain aku tahu bahwa satu waktu jantung akan berhenti berdetak, karena mereka hanya titipan.”

Persimpangan jalan itu tidak ramai, tidak juga sepi. Pada sebuah taman penuh pohon rindang tidak jauh dari persimpangan itu mereka duduk pada sebuah balai-balai bambu.

“Aku butuh menjadi Professor Xavier.” Ujar pemuda itu kepada si pria tua setelah hening yang lama.
“Tidak Wolverine?”
“Ia tidak bisa membaca mbakyuku.” Pemuda itu seperti menemukan emosinya, “Aku kudu memahami apa yang tidak ia katakan. Ia senang mengatakan yang bukan ia maksudkan.”
“Tidak ada yang lebih buruk dari itu,”
“Apa yang anda bisa sarankan untukku?” pemuda itu mengharap.
“Hatinya sebentuk daun kering, dalam dunia sendiri yang terasing.” Pria tua berkomentar, tapi terdengar seperti berpuisi, “Kamu harus telah selesai dengan hidupmu ketika memutuskan menikah.”

Pemuda itu pulang dengan kepala berat. Kata-kata pria tua itu menghujam berakar bercabang dalam dirinya. Setelah menikah seharusnya ia tidak bersikap mau menang sendiri. Seharusnya ia telah selesai dengan urusan sepele itu. Terkadang dia berpikir bahwa dia memang sesekali menjadi begitu brengsek.

Ia sering menganggap istrinya boros, tidak punya management waktu yang baik dan terlalu menyulitkan diri dengan hal-hal remeh. Sementara, sebagai suami, pemuda itu sering lupa bahwa ia juga tidak sempurna; sering berprasangka, kurang komunikasi, tidak mendengarkan, cuek, keras kepala, jorok, dan mengkritik istri di depan anak-anak.

Sekarang ia mengerti tentang saran dari kawan yang memintanya untuk selesai dengan diri sendiri, yaitu tentang mengurangi keegoisan dan menjalin komunikasi yang baik. Ia ingat sebuah dialog pada The Zahir, ketika Esther memberikan penjelasan kenapa ia senang meliput perang.

“Aku tidak tahu, tapi dengan pergi ke sana aku bisa melihat bahwa, seaneh apa pun kedengarannya, orang merasa bahagia waktu mereka dalam perang. Bagi mereka, dunia ini punya arti. Seperti kukatakan tadi, kekuatan pengorbanan mereka demi suatu tujuan mulia memberi arti bagi hidup mereka. Mereka mampu memberikan cinta yang tak terbatas, karena mereka tidak bisa kehilangan apa pun lagi, tidak ada lagi yang tersisa. Prajurit yang menderita luka fatal tidak pernah minta pada tim medis, ‘Tolong selamatkan aku!’ Kata-kata terakhir mereka biasanya, ‘Katakan pada istri dan anak-anakku, aku sayang pada mereka.’ Pada saat-saat terakhir mereka, mereka bicara tentang cinta!”

Begitulah seharusnya orang yang telah selesai dengan dirinya. Sesekali pemuda itu membayangkan berbicara kepada tim medis, “Katakan pada istri dan anak-anakku, mereka adalah kenangan terbaik di dunia.”

Ia terus belajar untuk menjadi ideal. Tidak bisa menjadi sempurnya memang, namun berusaha untuk memperbaiki segala kekurangan, juga kembali bangkit setelah kegagalan. Walaupun terkadang, ia merasa begitu dungu dengan kerap melakukan kesalahan yang berulang. Beruntung istrinya bisa memahami dan memaafkan kebodohannya.

Beberapa tahun setelah menikah, kehawatiran-kehawatiran yang pemuda itu risaukan tentang potensinya tidak terjadi, berganti dengan hal-hal yang tidak pernah ia duga. Ia terus berkembang dan mungkin akan terus berkembang. Seperti Jane Hawking dalam The Theory of Everything, wanitanya membantu pemuda itu menjadi jauh lebih hebat. Menyelesaikan kuliah, menulis beberapa buku dan membuka setiap kemampuan mengagumkan yang dimilikinya. Ya, tidak perlu Mario Teguh untuk tahu bahwa behind every great man there's a great woman.

Pemuda itu tidak pernah ragu dengan pilihan hati yang ia ambil bertahun-tahun yang lalu sampai sekarang —karena “You will never be able to escape from your heart. So it's better to listen to what it has to say.”— dan ingin terus menjalani setiap momen hidupnya dengan tanpa penyesalan. Hidup mengajarkan semua orang bahwa segalanya adalah tentang momen. Kehidupan selalu bergerak maju, sesaat saja momen terlewat, bahkan satu detik saja terlewat, ia tidak bisa diulang. Ia tidak seperti acara TV yang jika kamu terlewat menyaksikannya, kamu bisa melihatnya di youtube. Hidup juga mengajarkan bahwa momen yang nyata adalah sekarang. Tentang betapa berharganya momen, lebih tepat kamu menanyakannya kepada orang yang sedang sekarat.


Pemuda itu menginginkan momen-momen itu. Setahun terakhir ini ia menikmati momen beranjak dewasa bersama wanitanya, mengukir kenangan-kenangan manis bersama anak-anak, menikmati masa kecil mereka yang akan berlalu sangat cepat. Kepolosan dan kekanak-kanakan mereka yang tidak akanlama, yang akan segera menjadi kenangan. Ia ingin merawat kenangan baik itu dalam ingatannya. Karena suatu hari nanti, sebagian kita hanya akan jadi ingatan bagi sebagian yang lain, dan dalam semua kenangan itu kita hidup.


Selasa, 17 Maret 2015

Percakapan Pemuda dan Pak Haji Sehabis Salat Maghrib

Di dalam sebuah surau, setelah selasai wirid, pemuda itu bertanya kepada Pak Haji, “Aku selalu gagal dalam banyak hal.” Katanya memulai, “Ketika mau menikah dengan wanita yang aku mau, aku gagal. Ketika aku ingin sukses menjalankan bisnis, aku gagal. Bahkan aku gagal untuk hal yang sangat remeh seperti memasak nasi di rice cooker.”

Pak Haji tersenyum sambail manggut-manggut, “Kamu itu punya kelebihan.”

Pemuda itu bingung, “Maksud Pak Haji? Bagaimana selalu gagal bisa menjadi kelebihan?”

“Ya begitulah. Satu hal yang mungkin kamu butuhkan; melihatnya dari perspektif yang berbeda.” Pak Haji mengelus-elus jenggotnya, “Kamu bilang kamu selalu gagal dalam segala hal kan?”

“Iya.” Pemuda itu yakin.

“Segala hal?”

“Hampir semua hal.”

“Kalau begitu, berusahalah untuk gagal.”

Pemuda itu mengernyitkan alis makin tidak mengerti. Pak Haji seperti bisa memahami, kemudian mengulang, “Ya, lihatlah dari pandangan yang baru. Kalau kamu berusaha untuk sukses tapi gagal, cobalah berusaha untuk gagal,” Pak Haji diam sejenak, sambil kembali mengelus-elus jenggot ia melanjutkan, “Kalau kamu bilang kamu selalu gagal, berarti kamu pun akan gagal ketika berusaha untuk gagal, jadi kamu akan sukses.”

Jumat, 13 Maret 2015

Anak-anak, Sekolah dan Sikap Belajar

“Education is what remains after one has forgotten everything he learned in school.” - Albert Einstein

“If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.” - Albert Einstein


Waktu kecil saya adalah anak yang suka membangkang, sisa-sisanya mungkin masih terlihat sampai sekarang. Tentu pembangkangan itu tidak selalu terkatakan, kebanyakan terpendam dalam hati. Di dalam hati, saya bisa membangkang dengan bebas. Menurut saya waktu itu, orang dewasa angkuh karena suka memaksakan kehendak.

Maka ketika punya anak, saya sudah menyiapkan mental untuk menghadapi pembangkangan mereka. Menurut saya, punya anak itu perlu pemikiran sejauh 50 tahun ke depan. Karena memiliki anak ketika seorang belum siap mental dan material adalah tindakan yang sadis. Saya merasa sudah siap dengan segala hal tentang mereka, termasuk jika mereka suka membangkang seperti bapaknya dulu. Like father like son, heh?

Pembangkangan yang masih saya ingat sampai sekarang adalah ketika saya menolak untuk suka Matematika. Tidak membangkang dengan kata-kata memang, tapi dengan perbuatan. Itu terjadi waktu MI, waktu guru saya menyuruh menghapalkan perkalian sampai seratus. Ketika hari pengujian datang, saya berpura-pura sakit dan membolos. Oh, sejak kecil kemampuan numerik saya memang dangkal, bahkan sampai kelas 3 MI saya tidak bisa berhitung sampai seratus.

Menurut saya pembelajaran lebih butuh kesesuaian dan implementasi. Jadi jangan ajarkan anak membaca, tapi kenalkan dan tumbuhkan kecintaan kepada buku-buku cerita yang perlu ia baca sendiri. Jangan ajarkan mereka berhitung, tapi tunjukan kepada mereka pentingnya tahu harga sebuah mainan. Dengan begitu mereka termotifasi. Mereka butuh motifasi dan dorongan, bukan paksaan. Dengan mendekatkan kegunaan membaca dan berhitung, mereka akan termotifasi, dan terbangkitkan kesenangan dan keinginannya. Apa yang bisa mengalahkan keinginan anak-anak jika mereka ingin? Bahkan keinginan, passion dan energi mereka sulit dibayangkan orang dewasa.

Anak kecil (terutama usia PAUD, 0-6 tahun) adalah pembelajar sejati. Mereka belajar dari kesalahan dan pengalaman. Mereka tidak pernah takut salah, selalu ingin tahu dan mencoba. Bagi mereka segala hal yang baru itu menarik dan memancing keingintahuan.

Menyuruh anak-anak itu belajar adalah dengan menyuruh mereka bermain. Dengan bermain mereka belajar olah raga, storytelling, berhitung, mengenal warna, membaca, berbicara, drama, menyusun tak tik, jujur dan lain-lain. Tapi mereka juga rentan intimidasi, tidak suka direndahkan, benci dibanding-bandingkan, dan lain-lain. Mereka cenderung ingin dihargai dan didengarkan. Mereka juga peniru yang mahir. Mereka mencontoh apa yang ada di sekeliling mereka. Jadi menyuruh anak-anak salat adalah hal yang sia-sia, jika mereka tidak menemukan contoh dan teladan. Begitu yang saya pahami dulu, yang akhirnya mendapat justifikasi ketika saya kuliah dan mengenal teknik-teknik pengajaran.

Sampai sekarang, saya masih tidak suka Matematika. Saya tidak menyalahkan sekolah atau guru saya, tapi juga tidak menyalahkan diri saya sendiri. Bahkan waktu kelas dua Aliyah, ketika saya mendapat angka 5 untuk nilai Matematika di rapot, saya masih bersikap biasa saja dan tidak marah kepada siapapun.

Pada dasarnya saya tidak benci berhitung, selama saya merasa itu berguna untuk saya. Sewaktu Aliyah, saya senang dengan mata pelajaran Falak (Astronomi) dan selalu mendapat nilai bagus. Saya senang menghitung lamanya siang dan malam, menghitung awal pergantian bulan juga kapan terjadi gerhana. Selama saya mendapat nilai bagus dalam pelajaran-pelajaran yang saya suka, saya cenderung mengabaikan nilai-nilai buruk pada belajaran yang tidak saya suka. Buat saya, itu adalah hal yang wajar dan fair saja.

Hari ini saya kembali memikirkan sikap itu, juga inti dari sikap belajar. Terimakasih untuk ibu-bapak yang sangat terbuka dengan sikap saya waktu itu.


Kamis, 26 Februari 2015

Desain Sampul Terbaik - ISLAMIC BOOK AWARD 2015

"I don't believe in the kind of magic in my books. But I do believe something very magical can happen when you read a good book." — J.K. Rowling


Hari ini saya mengucapkan selamat kepada buku Di Bawah Bendera Sarung yang memenangkan Desain Sampul Terbaik dalam ISLAMIC BOOK AWARD 2015. Selamat kepada desainer sampulnya Kang Agung Wulandana, Mbak Dyah Agustine sebagai editor dan Mizan Pustaka sebagai penerbit.




Bagi yang belum baca buku ini, berikut beberapa review:


Di Bawah Bendera Sarung

by 
really liked it 4.00  ·   Rating Details  ·  7 Ratings  ·  2 Reviews
"Saudara-saudara sekalian yang terhormat," kata menteri yang katanya sering puasa Senin-Kamis itu memulai sambutan.

"Meskipun Bapak-bapak Kiai yang ada di sini tahajud siang-malam, belum tentu lebih mulia dari seorang yang mengerti teknologi," lanjutnya berapi-api.

Mendengar sambutan itu banyak dari kiai yang tersinggung, tapi nggak mungkin langsung mendebatnya. Menit berikutnya, para kiai satu demi satu meninggalkan ruangan. Para santri beranggapan bahwa para kiai mungkin tersinggung karena pak menteri melecehkan keberadaan mereka di mata para santrinya. Tapi, ternyata bukan. Di luar ruangan, seorang kiai berkomentar tentang sambutan sang menteri, "Mana ada tahajud siang-malam."




Apa jadinya jika seorang jebolan pesantren menuliskan pengalaman hidupnya sebagai santri dengan sudut pandang humor?
 (less)
Paperback134 pages
Published September 2014 by Pastel

COMMUNITY REVIEWS

(showing 1-10 of 10)
Vivi
Dec 27, 2014Vivi rated it really liked it
Shelves: indonesia
kocak dan lucu. sayangnya ceritanya kurang banyak. :p.
Apriastiana Dian
Dec 12, 2015Apriastiana Dian rated it really liked it
Tadinya ngira kalau buku ini murni nyeritain kehidupan di pesantren, tapi ternyata cuma di beberapa bab aja. Plusnya dari buku ini mungkin dari humor Islami yang disuguhkan.
Nida Fadilah
Nida Fadilahmarked it as to-read
May 06, 2015
Ali
Alirated it really liked it
Mar 22, 2015
Ananda
Anandarated it really liked it
Jan 09, 2015
Ipink
Ipinkrated it it was amazing
Nov 06, 2014
Nailal Fahmi
Sep 24, 2014Nailal Fahmi rated it really liked it  ·  (Review from the author)
Dyah
Dyahrated it liked it
Jul 13, 2015

Minggu, 22 Februari 2015

Sepotong Kebijakan

Iblis sedang berbicara kepada teman-temannya ketika seorang pemuda berjalan di depan mereka. Mereka menyaksikan ia lewat untuk kemudian membungkuk dan mengambil sesuatu.

“Apa yang dia temukan?” tanya salah satu teman Iblis.
“Sepotong kata-kata bijak.” jawab Iblis.
Teman-teman Iblis terlihat sangat khawatir. Semua hal telah mereka lakukan untuk menjerumuskan manusia, tapi dengan sepotong kata-kata bijak yang ditemukan pemuda itu, ia bisa terselamatkan. Tapi Iblis tetap bergeming, menatap jauh ke ufuk.
“Apakah kamu tidak khawatir?” kata salah satu temannya, “Dia menemukan sepotong kata-kata bijak!”
“Saya tidak khawatir.” jawab Iblis.
“Apakah kau tahu apa yang akan ia lakukan dengan sepotong kata-kata bijak itu?” kata temannya yang lain.
“Seperti biasa, dia akan menyampaikan ke orang lain, bukan ia resapi untuk dirinya sendiri. Keegoisan telah ada pada darahnya, sehingga ia hanya ingin menuntut orang lain berbuat baik. Dan kalian tahu? Dengan setitik egoisme, semua kata-kata bijak yang ia pungut semakin menjauhkannya dari kebijakan.”

Rabu, 18 Februari 2015

Rubik dan Sebentuk Energi

Suatu pagi, sepulang kerja, saya mampir ke tukang photocopy untuk membeli sampul plastik untuk beberapa buku. Di sana, saya melihat ada beberapa rubik digantung di atas etalasa kaca depan, ketika saya pegang, salah satu rubik itu jatuh dari gantungannya. Mungkin ini jalan untuk benda ini jadi milik saya, pikir saya waktu itu. Sejujurnya saya masih percaya pertanda. Maka saya beli dan bawa rubik itu pulang.

Sampai di rumah, Nada memegang rubik itu dengan tampang heran bercampur senang, sambil tak henti-hentinya bertanya. Ini apa, Pak? Mainnya gimana? Kok bisa diputer? Ini buat Nada? Dedek boleh ikutan main? Seperti anak kecil seusianya yang selalu penasaran, matanya berkilat-kilat melihat mainan yang baru pertama kali ia lihat, tanpa peduli bagaimana cara memainkannya.

Sampai ketika ia berhasil mengacak-acak warna-warni itu, dia datang kepada saya dan meminta disusun ke bentuk awal. Di situlah saya baru sadar; saya nggak bisa. Nada terus meminta, melihatnya senang dengan mainan itu, saya menyanggupi untuk membuat rubik itu ke bentuk awal.

Dua hari belajar, dengan bantuan internet, saya menghapal rumus rubik dan mampu menyusun kembali ke bentuk awal. Saya memberikan rubik yang telah sempurna itu ke Nada, ia senang, dan itu juga membuat saya senang. Ia memainkannya, maksud saya mengacak-acaknya lagi, dan memberikan pada saya untuk disempurnakan. Saya melakukan lagi. Ia kembali mengacak dan saya kembali membentuknya. Begitu terus sampai beberapa kali, dan kemampuan saya untuk menyelesaikan makin cepat, dan bagi saya membentuk rubik menjadi hal yang tidak lagi sulit.

Saya pernah memegang dan mengutak-atik rubik, tapi menyelesaikan ke bentuk sempurna baru kali itu saya lakukan. Berhasil menyelesaikan rubik bukanlah hal yang terlalu membahagiakan buat saya, bahkan menurut saya biasa saja. Dengan sedikit usaha, semua orang bisa melakukannya, tapi tentu saja tidak semua orang mau melakukan usaha itu. Saya mempelajarinya dengan hati yang ringan, dengan niat bahwa saya punya janji kepada Nada. Jadi tujuan saya menyelesaikan rubik bukan untuk menyelesaikan rubik, tapi karena ingin melihat Nada senang. Saya pikir itulah energi yang menggerakan; menjadikan usaha yang cukup sulit —terutama buat saya, menjadi tidak terasa sama sekali. Saya semakin menyadari energi itu ketika tahu bahwa kawan saya yang telah beberapa tahun berlajar tapi tidak juga bisa. Saya pikir dia bukan tidak mampu, tapi kekurangan motifasi. Kekurangan energi.


Tiba-tiba saya ingat energi cinta. Tentang bahwa sejarah baru berubah ketika kita mampu memanfaatkan kekuatan cinta. Seperti kita memanfaatkan tenaga angin, tenaga air, atau tenaga atom. Begitulah, rubik itu datang kepada saya untuk mengajarkan tentang energi cinta. And when it comes, I lose control.

Minggu, 15 Februari 2015

Keadilan dan Kebaikan Bagi Semua

“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q. S. Al Maa’idah: 8)

"It is a man's own mind, not his enemy or foe, that lures him to evil ways." – Buddha

Setelah pembunuhan 3 orang Muslim oleh seorang atheis di Chapel Hill kemarin (February 10, 2015), banyak Muslim yang menghujat pemberitaan media mainstream Amerika yang tidak adil. Melalui tulisan ini saya tidak ingin menambah kritikan tersebut, hanya mau menanyakan hal yang lebih esensial; kapan media bertindak adil dan tidak memihak?

Saya hawatir bukan media yang bertindak tidak adil, tapi para penonton atau pembaca yang menginginkan pemberitaan tidak adil itu. Bagaimanapun mereka jualan, dan penjual menjual apa yang diinginkan pembeli. Sama seperti di Indonesia ketika terjadi konflik Israel-Palestine, hampir seluruh media mainstream di Indonesia membela Palestine. Ketika itu, pernahkah kita memprotes bahwa media mainstream di Indonesia memihak? Tidak, karena kita memang menginginkan berita yang memihak itu. Kita memilih untuk membaca, melihat dan mendegarkan media yang memihak Palestine daripada Israel.

Kemudian media yang memihak Palestine berkilah bahwa mereka telah adil memberitakan, kemudian media yang memihak Israel (iya di sana, bukan di Indonesia) berkilah bahwa mereka telah berlaku adil. Kemudian mereka yang membenci Yahudi mengatakan kejahatan itu merupakan konspirasi Yahudi. Kemudian sebagian pembenci Islam mengatakan itu adalah bukti ajaran Islam yang brutal. Dan tidak ada yang mau dikritik apalagi disalahkan.

Jadi jika ada yang berteriak media jangan memihak, memang sudah sejak lahir mereka telah memihak. Bahkan bukan hanya media yang memihak, para penonton pun memihak, memihak pada apa yang ingin mereka dengar dan lihat. Jika ada yang tidak sesuai dengan keinginan mereka maka mereka berteriak media memihak, tapi jika media menayangkan apa yang ingin mereka dengar, mereka bilang media telah adil.

Keberpihakan media memang menjadi masalah, namun keberpihakan para penikmat media adalah masalah lain. Pada akhirnya semua tergantung kepada individu masing-masing, kita yang mememegang remot kontrol TV masing-masing kan? Kita juga bebas memilih bacaan mana yang ingin kita baca.

Pertanyaan selanjutnya adalah; bisakah kita meminta diri sendiri untuk bersikap adil sebelum menyuruh orang lain melakukannya?

Begini, saya pernah mendengar seorang pemuka agama ditanya ketika ada orang yang mengatasnamakan agama menyerang atau melakukan aksi kekerasan, “Itu bukan perbuatan orang-orang yang beragama.”

Setengah bercanda saya mau bilang, mungkin orang yang tidak beragama kesal sehingga melakukan penembakan di Chapel Hill kemarin. Setelah itu, mungkin saja ada pemuka atheis yang mengatakan perkataan yang kurang lebih sama, “Itu bukan perbuatan orang-orang yang tidak beragama.”

Ah, itu hanya candaan saya saja. Inti dari candaan itu adalah kritik kepada diri sendiri; kita membenci stereotiping sambil tetap menstereotipkan hal-hal lain. Ketika orang Muslim melakukan kekerasan, kita mengatakan jangan stereotiping, jangan menyalahkan agama tapi orangnya. Tapi ketika ada seorang Yahudi misalnya melakukan hal yang sama, kita membenci seluruh agamanya. Apakah itu adil?

Intinya, lewat tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa tindak kejahatan atau tindakan kekerasan kepada orang lain adalah berdasarkan tindakan dan pikiran mereka sendiri. Apakah agama dan keyakinan memberikan kontribusi? Tentu saja, tapi agama dan keyakinan versi mereka, dengan tafsiran mereka. Agama bisa dipilih-pilih, diambil salah satu yang menarik bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Emha Ainun Nadjib pernah bilang, “Semua pemeluk Islam berjuang dengan pandangan-pandangannya masing-masing mendekati sejatinya Islam. Sehingga tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok ini atau itu. Kalau ada teman melakukan perjuangan "islamisasi", "dakwah Islam", "syiar Islam", bahkan perintisan pembentukan "Negara Islam Indonesia" – yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah Islamnya mereka masing-masing.”

Kemudian, bisakah sumber dari agama dipersalahkan? Bisa saja, tapi ingat, sumber itu tidak berdiri sendiri, ada konteks ketika sumber/dalil itu turun, ada juga penafsiran yang beragam. Apapun agama atau bukan agamanya, tindakan baik akan selalu baik dan tindakan jahat akan selalu jahat. Orang berlaku jahat karena ia ingin berlaku jahat, walaupun ia meniatkan kebaikan. Seperti kata Gandhi, "I object to violence because when it appears to do good, the good is only temporary; the evil it does is permanent."

Saya tidak sedang membela atau menentang siapun di sini, hanya ingin berlaku adil. Jadi mari berlaku adil dan baik kepada semua orang, walau mereka yang kita benci.


Wallahu'alam bissowab