Halaman

Sabtu, 01 Agustus 2020

Pernikahan, Ilham dan Detik-Detik yang Menghancurkan

“Nuhun pisan, Bang!” katanya ketika saya ingin menyalami dan menyelamati di pelaminan.

“Bangsat lu, Ga!” respon saya sambil memeluknya.

Kami tertawa bersama.

Itu hari pernikahan kawan saya Rangga. Dalam usia yang belum menginjak 30, ia sudah menikah dua kali. Tentu tidak ada yang pantas dibanggakan akan perkara itu, kecuali anda Vicky Prasetyo.

Seminggu sebelum itu, saya main ke rumahnya, kunjungan pertama kali ke sana. Sore itu cerah dengan langit biru yang jernih, saya tiba di depan rumahnya ketika ia sedang siap-siap mengayak pasir. Di atas pintu depan rumah tertera plat bertuliskan KPR-BTN, tanpa nomor RT/RW.

“Sambil ngaduk ya, Bang,” Ia sedang merenovasi rumah bagian belakang. Saya duduk di kursi kecil, menemaninya mengaduk pasir dan semen sambil bercerita banyak hal. Terakhir kami bertemu sekitar 3 tahun yang lalu, banyak cerita yang terlewat.

Ia bercerita kalau setelah kegagalan pernikahannya yang pertama, sempat trauma dan enggan menikah lagi. Status duda membuatnya minder menjalin hubungan yang serius.

“Lu pernah bilang trauma, trus apa yang buat lu yakin sekarang?” tanya saya sambil menyeruput kopi dingin. Ia memutuskan untuk menikah lagi kali ini, dengan wanita yang baru dikenalnya, bahkan belum setahun.

“Gak tau, Bang.” Katanya sambil menyendok adukan ke dalam ember. Ia berhenti sebentar, duduk kemudia meneruskan, “Hidayah, mungkin.”

“Sama yang dulu juga lu bilang gitu,” saya tertawa.

“Iya, ya?” ia menggaruk kepala dan ikut tertawa, “ya pokoknya gitu lah, Bang.”

Walaupun tidak lengkap, ia pernah bercerita tentang kisah cintanya dari semenjak kuliah. Hubungannya dengan teman kuliah yang ia pacari beberapa tahun, yang masing-masing keluarga sudah pernah bertemu, akhirnya gagal dan putus. Tentu ia tidak menyerah, ia mencari pengganti dan memilih satu dari dua mantan, yang kemudian berlanjut pada pernikahan. Sayang pernikahan itu tidak berlangsung lama. Ia bercerai. Terpuruk. Sampai kemudian ia menjalin hubungan dengan yang berbeda agama, yang akhirnya juga kandas. Dan sekarang, ia menikah untuk yang kedua kali.

Pernikahan dilaksanakan tanggal 19 Juli. Karena masih masa pandemi, maka acara dilangsungkan dengan sederhana. Tanpa pesta mewah atau tamu undangan, hanya dirayakan dua keluarga mempelai. Tanggal 18 Juli, sehari sebelum hari pernikahan, saya menelponnya. Meminta alamat lokasi acara.

“Besok jadi jubir ya, Bang.” ia meminta dari seberang telpon. Sebelumnya memang ia sudah meminta, tapi belum pasti dan akan dikabari lagi, tentu bukan sehari sebelum hari H.

“Serius, Ga? Lah gua kira gak jadi. Emang gak ada keluarga yang bisa?” tanya saya.

“Gak ada, Bang. RT di sini juga baru, jadi gak mau.”

Dan begitulah saya, menjadi juru bicara mempelai pria dengan pemberitahuan yang sangat mendadak. Itu pengalaman pertama saya sebagai jubir pengantin. Di dalam kendaraan menuju lokasi, saya berkali-kali mengusap-usap tangan karena gugup, sementara Rangga yang menjadi calon mempelai kelihatan sangat santai. Maka “bangsat” adalah kata yang sangat cocok untuk menggambarkan keadaan itu. Seingat saya, ketika menikah saya tidak senervous itu.

Singkat cerita, alhamdulillah acara pernikahan berlangsung lancar sampai akhir. Peran yang diberikan juga bisa saya lakukan dengan baik, walau tidak istimewa. Saya senang bukan hanya karena tidak ada kendala tapi juga karena akhirnya kawan saya bisa move on dan menemukan keberanian untuk berumah tangga kembali.

Ia bilang pernikahan ini terjadi karena Hidayah, atau mungkin lebih tepat kalau saya sebut Ilham, atau Petunjuk Allah yang timbul di hati. Petunjuk ini bisa bermacam-macam, bisa melalui mimpi, bisikan di hati, tanda, isyarat dan hal-hal lain. Namun Petunjuk Tuhan pada sebuah pilihan adalah satu hal, dan mempertahankan pilihan itu adalah hal lain. Manusia tidak bisa mempersalahkan petunjuk yang ia anggap dari Tuhan atas sebuah pilihan, jika dikemudian hari pilihan itu diketahui menjadi pilihan yang buruk. Karena bersandar dan pasrah hanya pada “Petunjuk Tuhan” saja tidak cukup. Manusia juga diberikan tanggungjawab untuk berusaha dan belajar, ditimpa cobaan dan musibah untuk menguji keimanan. Maka seperti banyak orang katakan, memulai itu mudah, yang sulit adalah mempertahankan.

Saya mengenal Rangga sebagai anak yang baik, mudah bergaul, senang membantu, asik diajak bercanda, dan banyak hal baik lain. Ia bilang saya adalah orang yang rajin belajar, tapi sejujurnya saya banyak belajar dari perjalanan hidupnya. Darinya saya belajar bahwa butuh bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan, dan hanya butuh beberapa detik untuk menghancurkannya.

Kenangan seindah atau seburuk apapun pada akhirnya hanya ada dalam ingatan. Terhadap pengalaman yang buruk kita menyesal, bertanya mengapa hal itu bisa terjadi, mengapa kita bisa melakukan hal seburuk itu. Pada pengalaman yang baik kita menjaga, terkadang mengenangnya, walau tidak sempurna. Bahkan kenangan-kenangan baik bisa hilang tak bermakna. Orang-orang yang pernah dekat, sekarang bisa menjadi sangat jauh atau dibenci, yang nomor telpon, social media dihapus, bahkan namanya tidak ingin didengar. Perasaan yang tidak dikendalikan pikiran, bisa membuat orang bertindak kejam. Sekejam melupakan dan menganggap seseorang tidak pernah ada. Semua sikap itu tentu pilihan. Sebagaimana kemampuan memaafkan dan merelakan juga sebuah pilihan.

Umur Rangga memang di bawah umur saya, namun saya percaya bahwa kedewasaan itu adalah tentang pelajaran yang kita dapat dari pengalaman, bukan tentang seberapa banyak ulang tahun yang dirayakan. Einstein pernah bilang, “Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman.” 

Saya tidak mengatakan kawan yang paling tahu apalagi mengerti Rangga. Walaupun begitu, sebagai kawan, saya senang jika bisa membantu. Saya senang bisa menjadi bagian dari pernikahannya. 

Sambil menunduk, saya mengangkat tangan mengamini doa yang dipimpin oleh penghulu.

“Allahumma alif baynahuma, kama allafta bayna adam wa hawa, wa allif baynahuma kama allafta bayna Yusuf wa zulaykha, wa allif baynahuma kama allafta bayna ‘ali ibni abi Talib wa fatimatazahra, wa allif baynahuma kama allafta bayna sayyidina Muhammad wa khadijatalkubra,”

“Ya Allah, satukan, lembutkan hati mereka berdua seperti Engkau menyatukan Adam dan Hawa, seperti Yusuf dan Zulaikha, seperti Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, seperti Sayyidina Muhammad dan Sayyidah Khadijah al-Kubro.”

Saya mengamini dan dengan sepenuh hati menambahkan, “Baarakallahu lakuma wa baarakaa alaikuma wa jamaa bainakumaa fii khoir. Mudah-mudahan Allah memberkahi kalian berdua, dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kalian berdua pada kebaikan.”

Allahumma aamiin.

Selasa, 28 Juli 2020

Perasaan Ini Tidak Pernah Bisa Sederhana

Aroma garam pada siang yang cerah berganti suara ombak dihembus angin selatan yang tenang. Langit berpendar bulan separuh tertutup kabut dan mendung, sebuah bintang bersinar tangguh namun akhirnya kalah, redup dan menyerah. Di kamar ini hanya ada kita, dan aku masih menatap anak-anak yang tertidur pulas karena letih bermain air seharian, sebagian seprai yang mereka tiduri basah karena ompol.

Tadi sore udara dingin bertiup menerbangkan raksi pokok kayu, menggigilkan kulit dingin sehabis terbasuh air. Cericit burung di dahan-dahan yang tinggi beriringan dengan derau jeram aliran sungai yang beriak karena tangan-tangan kecil menghangatkan suasana. Kecipak air dan tawa mereka menggema seperti suara peri di pucuk-pucuk daun-daun hutan.

Sinar mentari pagi merambat, menyapa embun di puncak pohon pinus, kabut di jalan mulai naik ke atas bukit kemudian hilang ditelan langit. Aku membuka jendela lebih lebar mempersilahkan udara masuk, mengamati anak-anak yang bermain di bawah naungan atap tingkap. Kamu sudah terjaga, memeluk selimut putih yang kusut penuh ruas, menemani Aira yang masih belum mau beranjak dari kasur.
Dalam seluruh kesadaran itu, aku menghayati waktu yang berjalan perlahan.

Pada kenangan di hamparan masa yang terus terbentang, kita hanya sebutir pasir. Dari sejak kita pergi ke Majalengka 11 tahun yang lalu, waktu seperti bergegas cepat, menacapkan tapal sejarah dan terus melaju. Walaupun ia selalu berada di belakang dan tidak pernah berhasil mengejar kita yang sekarang. Kita melihatnya sesekali dalam album kenangan berwarna lusuh penuh corak kekuningan pada ingatan yang semakin rapuh.

Apa yang kamu rasakan saat-saat itu? Dan apa yang kamu rasakan saat ini ketika mengenangnya?

Bahasa tidak akan punya cukup ungkapan dan selalu miskin untuk menggambarkan emosi. Karena tidak sama duka ketika kamu kehilangan dan kesakitan. Berbeda pilu ketika usiamu 5 dan 23 bahkan terhadap sesuatu yang sama. Tidak persis lara yang kamu rasa dengan seekor rusa yang kehilangan anaknya. Lain kecewa yang kamu alami hari ini, kemarin, atau lusa. Ada jarak antara murammu di sini dan di tengah tempat antah berantah. Tambahkan perasaan lain dan kamu tidak akan menemukan nama dan kosakata untuk merangkumnya.

Kemudian apakah kamera bisa menangkap rasa? Bagaimanapun, video atau foto, tidak mungkin utuh mencakup dan menerjemahkan perasaan bahagia ketika kamu melihat pantulan senja jingga di air kolam bersama suara tawa anak-anak yang bermain air, atau perasaan tenang ketika kita berpelukan meringkuk di bawah selimut yang tebal sementara di luar kemah suara gemircik air dan udara dingin menusuk tulang, atau perasaan damai karena kebersamaan di rumah yang nyaman pada sebuah sore yang hujan ditemani kudapan hangat. Alat penangkap gambar itu memberi batas yang tentu lebih kecil dari sebuah realitas yang senyatanya, lebih kecil dari apa yang kita rasa di hati.

Bahwa rasa ini tidak bernama bukan karena ia tak bermakna, tapi karena kata tidak akan pernah bisa dan selalu gagal merangkum kemudian memberi istilah padanya. Bahagia, tenang, damai dan cinta tidak pernah sederhana.

Aku tahu, tidak ada cinta yang sempurna sebagaimana tidak ada penderitaan dan keputusasaan yang sempurna. Pada perasan-perasan yang berjalin dan berkelindan, kita menguji diri untuk saling menerima kekecewaan, merelakan kelalaian-kelalaian kecil, perdebatan-perdebatan kecil, kehawatiran dan kecemasan yang sesaat dibandingkan dengan langkah kita yang masih panjang. Kita saling membaca dan menekuni lika-liku dan keruwetan masing-masing. 

Terimakasih untuk sinisme, humor, perhatian, dan wangimu. Terimakasih untuk penghargaan, hadiah-hadiah, persahabatan, dan meruah rasa. Maka perasaanku padamu berubah, mencari ukuran yang tidak akan pernah cukup. Maka kerinduanku padamu berbunga menuju sesuatu yang tidak sempat sempurna. Renjana ini tidak akan menemukan wadah serasi dan terus mencari bentuk yang utuh sampai setiap degup jantung hening.

Apakah orang lain perlu tahu tentang gembira-rindu-puas-damai-baik-beruntung-cerah-sendu-hitam-biru-ungu tumpang tindih rasa ini? Jika kamu menghayatinya dalam hati, seperti kesadaranku saat ini, maka untukku sudah cukup. Anggapan orang lain menjadi tidak penting.

Hari ini, di hadapan perasaan dan kenangan itu, mari kita bersyukur sejenak, karena kita masih di sini, berpegang tangan dalam kesadaran.

Kamis, 23 Juli 2020

puisi untuk sapardi

ia meletakan sekuntum bunga di jantung puisi
di dalam sana ruh kita saling menyapa
pada usia yang setara

tak ada yang lebih duka
dari fana waktu

tak ada lagi cinta kayu kepada api
tak ada hari nanti atau hari ini

“hanya doaku yang bergetar malam ini
dan tak pernah kaulihat siapa aku
tapi yakin aku ada dalam dirimu” *

aku menjadi ricik
karna mencintaimu
dan kau menjadi puisi
dalam wajah rembulan

-------------------------
* bait dalam puisi Hanya - SDD

Kamis, 09 Juli 2020

HARI KEBERUNTUNGAN SUSAN

Oleh: Nada Narendradhitta

Pada suatu pagi, Susan Si Tupai sedang mencari makan. Hari itu sangat gelap walau masih pagi, Susan mendongak, ia melihat sesuatu di langit, “Oh, itu seperti meteor bentuk hati yang diceritakan nenek.” ujarnya kepada diri sendiri. Meteor itu menyala seperti api, berwarna pink, ekornya seperti buntut rubah, melayang dari barat ke timur, ke arah matahari yang tertutup awan. Matahari yang tertutup awan membuat meteor itu lebih kelihatan.

Tiba-tiba Lily Si Kelinci datang, “Hai Susan kamu sedang apa!?”

“Oh! Lily kau membuatku kaget!” Susan yang sedang bengong memandagi langit berseru sebal.

“Hehehe, maaf Susan” jawab Lily sambil tertawa, tawanya terdengar lembut.

“Ngomang-ngomong...” kata Susan.

“…Langit gelap sekali ya,” Lily melanjutkan.

“He-eh. Kamu lihat meteor bentuk hati gak?” tanya Susan agak tidak sabar.

“Mmm kurasa aku tidak melihatnya” jawab Lily.

“Haloo kalian sedang apa?” tanya Peter Si Kura-Kura.

“Kakek lihat meteor bentuk hati gak?” tanya Susan.

“Oh ya! Jam berapa? Katanya binatang yang melihat itu akan beruntung,” kata kakek Peter.

“Iya aku tadi pagi melihatnya, baru saja Kek!” kata Susan.

“Wow kau beruntung, Sus” kata Lily mulai mengerti.

Susan mengangguk tak acuh, ia mendongak matanya tertuju pada buah kenari besar di pohon.

Malam harinya Susan tersentak bangun karena ia haus. Dia pergi ke dapur untuk membuat minuman hangat, lalu ia melihat sesuatu, terang benderang di hutan. Dari rumah pohon yang besar, ia melihat melewati jendela dapur yang besar. Susan penasaran Lalu ia keluar mencari sumber terang itu, dia memanjat dari pohon ke pohon, dan apa yang Susan lihat?

Yang dia lihat adalah… Bintang!!

“Apa yang terjadi kenapa kamu di sini?!” tanya Susan penasaran.

“Aku jatuh.” Kata bintang itu, “Aku ingin kembali ke angkasa.”

“Mmm sepertinya aku bisa bantu kamu” kata Susan sambil berpikir, “Eh kamu tungu di sini dulu ya,” kata Susan lalu pergi.

Lima menit kemudian Susan kembali lagi membawa sesuatu yang cukup besar, “Ini adalah balon udara buatanku sendiri” kata Susan, “Kamu akan bisa terbang menggunakan ini…”

“Ooh kamu baik sekali!” seru sang bintang, “Ini hadiah untukmu.”

Si Bintang mengubah Susan menjadi… Ratu!! Ratu Bintang, sejak saat itu Susan tinggal di atas awan, dan saat Susan ingin bermain dengan temannya dia akan turun lagi ke hutan, dan kembali ke awan sesudah bermain.

Sabtu, 13 Juni 2020

Emma, Abby dan Tentang Cerita-cerita Cinta

Saya dan Abby ada dalam satu ruangan, masing-masing duduk di kursi dengan sebuah meja memisahkan kami. AC dan Kipas Hexos menyala. Abby meletakan hanphone dan rokok di atas meja, kemudian mulai bercerita. Cerita tentang kisah cintanya. Ia bilang saya adalah orang terakhir yang diceritakan diantara kawan-kawan kami yang lain.

“Jadi apa saran lu buat gua?” Abby bertanya setelah selesai menceritakan proses mulai dekat dengan Emma —yang juga kawan saya— sampai akhirnya menyatakan perasaan kepada wanita itu.

“Gentar gua kalo nyuruh ngasih saran,” saya menjawab cepat.

“Hampir semua orang yang gua minta saran, bilang supaya jangan nyakitin dia. Gak ada satupun yang nyaranin dia, buat gak nyakitin gua. Dikira gua gak punya hati kali.”

Dan kami tertawa bersama.

Emma dan Abby baru beberapa minggu jadian. Seperti layaknya orang yang sedang jatuh cinta, Abby menceritakan betapa spesialnya Emma, betapa unik, baik dan manisnya dia. Sementara Emma juga menceritakan hal yang sama tentang Abby. Ia menceritakan betapa sayang Abby kepadanya, betapa baik dan banyak kesamaan mereka; film, warna, selera makanan, tangan yang memakai jam dan banyak lagi.

“Gua ngerasa beda banget pacaran sama dia,” Emma bercerita suatu waktu, “Kayak, asik aja gitu,”

“Asiknya gimana?” Saya penasaran.

“Gak tahu. Kayaknya emang gua lebih cocok sama orang yang lebih tua deh.”

"Yang lebih dewasa maksud lu," Saya menafsirkan.

Emma dan Abby merasa cocok satu sama lain dan ingin hubungan yang serius. Hal-hal yang mereka ceritakan adalah hal yang biasa terjadi ketika awal-awal pacaran. Bagi saya kisah mereka seperti kebanyakan cerita cinta yang saya tahu. Saya pernah mengalaminya, dan sering menyaksikan terjadi pada kawan-kawan saya, atau menghayatinya lewat “Ada Apa dengan Cinta?”

Bukan saya meremehkan kisah mereka, justru saya menghargai dan seperti bisa merasakan kembali rasa itu. Tentang kegugupan ketika mengatakan cinta untuk pertama kali, tentang pengakuan diam-diam, debar di dada, kupu-kupu dalam perut, lagu-lagu cinta yang kembali jadi punya arti, perasaan senang dan senyum yang tak henti-henti, menjaga dan memperlihatkan hal-hal baik, menyembunyikan hal-hal buruk, melakukan kebohongan-kebohongan kecil serta hal-hal yang menyenangkan lain.

“Gua belum ngerasa pantes ngasih saran. Hidup sendiri aja belom bener,” kata saya ke Abby.

“Gua gak minta saran yang macem-macem. Kasaih saran yang normal aja.” sambil menghembuskan asap rokok, Abby masih meminta.

Saya kagum dengan kerendahhatiannya. Secara umur, ia lebih tua, secara pengalaman dan pergaulan tentu ia punya lebih banyak, jadi saya tidak tahu saran apa yang sebenarnya diharapkan.

Saya berpikir sejenak.

Menyarankan untuk tidak menyakiti pasangan membuat saya gentar, karena secara langsung nasihat itu menohok diri sendiri. Lagipula, tidak menyakiti adalah pesan yang abstrak, karena ukurannya tidak jelas. Apa yang dimaksud “menyakiti”? Dan apakah manusia bisa tidak menyakiti manusia lain selama-lamanya? Pesan itu mengingatkan saya pada janji Watanabe untuk tidak pernah melupakan Naoko dalam Norwegian Wood – Haruki Murakami.

Saya mengenal Emma lebih lama daripada saya mengenal Abby. Saya ikut menyaksikan ketika Emma jatuh ke jurang cinta yang paling dalam, saya ada di sana ketika akhirnya ia patah hati yang paling remuk, saya mendengarnya menangis, memahami gugatan dan pemberontakannya untuk melepas jilbab. Namun pada akhirnya, —karena segala sesuatu pasti punya akhir— sekuat tenaga ia bangkit, dan sekarang ia jatuh cinta lagi. Saya kira Abby juga punya kepahitan yang sama. Ia adalah duda beranak satu.

Mereka adalah orang-orang yang dipertemukan trauma. Patah hati memang meninggalkan trauma, sekecil atau setipis apapun. Bisa berwujud kecemasan atau ketakutan. Tidak jarang membuat pandangan hidup menjadi buram. Satu hal yang mereka pahami, bahwa mereka tidak merencanakan hal-hal buruk terjadi kepada mereka sebelumnya. Tentu, tidak ada orang yang merencanakan apalagi mengharapkan hal itu akan terjadi lagi. Saya pribadi berharap hubungan mereka bisa berlangsung panjang.

Ilmu pengetahuan berkembang, begitu juga ilmu pengetahuan tentang bagaimana menjalin hubungan. Gottman, peneliti dan direktur eksekutif dari Relationship Research Institute, mengklaim bahwa hanya 3 jam dengan pasangan sudah cukup baginya untuk memprediksi apakah mereka akan tetap bersama di masa depan (3-5 tahun) dengan akurasi lebih dari 90%. Saya membaca Gottman dan saran-saran untuk memperkuat hubungan, namun saya tidak bisa memprediksi apapun di masa depan karena manusia adalah mahluk yang kompleks. Di luar para peneliti dan para relationship expert itu, saya juga belajar banyak dari kawan-kawan.

Saya punya beberapa kawan yang dengan tulus menceritakan kisah cinta mereka, dengan segala romansa dan masalah-masalahnya. Sebagai penikmat cerita, saya selalu senang mendengarkan. Cerita mereka bahkan sering menjadi inspirasi tulisan. Karena sejatinya mengamati manusia adalah pekerjaan penulis. Hemingway, penulis peraih Nobel itu bilang, "I like to listen. I have learned a great deal from listening carefully. Most people never listen." Walaupun sebagai orang yang tidak terlalu punya banyak teman, belakangan saya juga kaget sendiri tentang beragam cerita-cerita mereka.

Tentu tidak semua cerita cinta yang saya dengarkan berisi baik-baik saja. Beberapa kawan bercerita tentang masalah-masalah; sex before married, perselingkuhan, tidak ada restu orang tua, perceraian, kematian pasangan, perbedaan agama, perasaan yang hilang dan hal-hal yang tidak selesai.

Dari pengalaman dan pengetahuan mereka saya belajar bahwa seberapa mesra dan menggebu suatu hubungan di awal, gairahnya akan memudar dan sebaiknya ada perasaan lain untuk menggantikan.

Saya tidak ingin menyajikan pandangan yang muram tentang cinta, namun kita semua tahu bahwa cinta bukan sesuatu yang diam. Ia bergerak, tumbuh bahkan bisa mati. Pada jalur positifnya, cinta bisa menjadi energi yang menggerakkan, ia membuat seorang menjadi pribadi yang lebih baik.

Menutup tulisan ini, saya akan kembali mengutip Murakami.

Pada suatu hari, hiduplah seorang pemuda dan seorang gadis. Usia pemuda itu delapan belas tahun; dan gadis itu enam belas tahun. Pemuda itu tidak terlalu tampan, dan gadis itu tidak terlalu cantik. Mereka adalah muda-mudi yang seperti pada umumnya cenderung kesepian. Namun mereka percaya sepenuh hati bahwa di dunia ini ada pasangan hidup yang 100% sempurna untuk mereka. Ya, mereka percaya pada mukjizat. Dan bahwa mukjizat bukanlah hal yang mustahil.

Suatu hari, si pemuda dan gadis itu tak sengaja berjumpa di ujung jalan.

“Luar biasa,” ujar si pemuda. “Aku sudah mencarimu seumur hidupku. Kau mungkin tidak mempercayai ini, tapi kau adalah gadis yang 100% sempurna untukku.”

“Dan kau,” balas gadis itu. “Kau adalah pemuda yang 100% sempurna untukku, persis seperti pemuda yang kubayangkan selama ini. Seperti mimpi rasanya.”

Mereka duduk di atas kursi taman, berpegangan tangan, dan menceritakan kisah hidup mereka masing-masing selama berjam-jam. Mereka tidak lagi kesepian. Mereka telah menemukan dan ditemukan oleh pasangan masing-masing yang 100% sempurna untuk mereka. Betapa indahnya menemukan dan ditemukan oleh pasangan yang 100% sempurna untuk kita. Sebuah mukjizat, sebuah pertanda.

Namun, saat mereka duduk dan berbincang, masih ada sedikit rasa ragu yang menggantung di dada: apa mungkin impian seseorang terkabul begitu saja dengan mudahnya?

Maka, ketika keduanya terdiam, si pemuda mengambil kesempatan untuk berkata kepada gadis itu: “Mari kita uji diri kita—sekali ini saja. Jika kita memang pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain, maka di suatu saat, di suatu hari, kita pasti berjumpa lagi. Dan ketika itu terjadi, dan kita tahu bahwa kita adalah pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain, maka kita akan menikah saat itu juga. Bagaimana?”

“Ya,” kata si gadis. “Itu yang harus kita lakukan.”

Kemudian mereka berpisah. Si gadis melangkah ke arah timur, sementara si pemuda ke arah barat.

Meski begitu, proses uji itu sebenarnya tidak perlu mereka lakukan, karena mereka memang benar pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain—dan pertemuan awal mereka adalah sebuah mukjizat. Tapi mereka tak mungkin mengetahui semua ini di usia belia. Gelombang takdir yang dingin dan tak pandang bulu terus membuat mereka terombang-ambing tanpa akhir.

Pada suatu musim dingin, si pemuda dan si gadis menderita sakit flu yang terjangkit di mana-mana. Setelah dua minggu terkapar tanpa daya, mereka pun lupa terhadap tahun-tahun remaja mereka. Ketika mereka tersadar, ingatan mereka sama kosongnya seperti celengan baru.

Keduanya adalah individu yang cerdas dan ambisius; dan dengan usaha keras mereka berhasil membangun hidup mereka hingga menjadi sosok terpandang di masyarakat. Syukurlah, mereka juga menjadi warga yang taat peraturan dan tahu caranya naik kereta bawah tanah tanpa tersesat; yang sanggup mengirimkan surat dengan status kilat di kantor pos. Dan mereka juga sanggup jatuh cinta, terkadang cinta itu mengisi hati mereka sampai 75% atau bahkan 80%.

Waktu berlalu dengan kecepatan tak terduga; mendadak si pemuda telah berusia 32 tahun dan si gadis 30 tahun.

Di suatu pagi yang cerah di bulan April, dalam perjalanan untuk membeli secangkir kopi, si pemuda melangkah dari arah barat ke timur, sementara si gadis, dalam perjalanan ke kantor pos, melangkah dari arah timur ke barat. Keduanya menelusuri pinggiran jalan yang memanjang di sebuah area pusat perbelanjaan di Tokyo yang bernama Harajuku. Mereka saling melewati satu sama lain tepat di tengah jalan. Ingatan mereka kembali samar-samar dan untuk sesaat hati mereka bergetar. Masing-masing merasakan gemuruh yang mendesak dada. Dan mereka tahu:

Dia adalah gadis yang 100% sempurna untukku.

Dia adalah pemuda yang 100% sempurna untukku.

Namun, sayang, gema ingatan mereka terlalu lemah; dan pikiran mereka tak lagi jernih seperti empat belas tahun lalu saat pertama kali berjumpa. Tanpa mengutarakan sepatah kata pun, mereka melewati satu sama lain begitu saja, hilang di tengah keramaian. Selamanya.


(On Seeing the 100% Perfect Girl One Beatiful April Morning - Dikutip dari sini)


Seperti karya sastra yang baik, cerita itu punya banyak makna. Apa yang orang dapat dari sebuah karya terkadang berbeda satu sama lain. Murakami tidak menyuapi kita tentang norma-norma, tapi lebih dalam, ia menumbuhkan kesadaran dan membuat kita merenung kemudian bertanya kepada diri sendiri. Pada saya pertanyaan itu berupa; apakah ada jodoh yang 100% cocok? Jika itu ada, bagaimana kita tahu? Apakah kita berani untuk ambil segala resiko, atau malah terlalu gegabah dan sombong untuk pasti bisa bersamanya?

Itu pertanyaan-pertanyaan untuk saya. Bagi orang lain, pertanyaan-pertanyaan itu bisa berbeda tergantung latar belakang dan pengalaman hidup mereka. Maka saya selalu pada posisi tidak percaya diri jika diminta memberi saran, karena pengalaman dan latar belakang orang berbeda-beda. 

“Tawakal.” Saran saya ke Abby akhirnya. Apa boleh buat, ia sudah dua kali meminta.

“Apaan tuh?” Abby mengernyitkan dahi.

“Di Katolik mungkin juga ada konsep itu,” saya menjelaskan.

Sebagai seorang kawan, saya senang melihat mereka bahagia. Cara menjalin hubungan harmonis tidak diajarkan di sekolah. Oleh karenanya, butuh kerendahatian, bahkan waktu seumur hidup untuk belajar mengerti dan memahami satu sama lain.

Saya percaya cinta akan menuntun mereka.

Jumat, 29 Mei 2020

Norwegian Wood; Sebuah Review

Ketika sedang berjalan-jalan berdua di tepi hutan pinus di musim gugur, Naoko pernah meminta kepada Watanabe, “Aku ingin kau mengingatku. Maukah kau terus mengingatku bahwa aku ada dan pernah berada di sampingmu seperti ini?”

Dengan kepercayaan diri dan kesombongan khas anak muda yang sedang dimabuk cinta, Watanabe menjawab lantang, “Tentu saja! Aku akan terus mengingatnya,”

“Kau betul-betul tak akan melupakan aku selama-lamanya?” Naoko bertanya pelan seolah berbisik.

“Sampai kapanpun aku tak akan melupakanmu,” Watanabe masih dengan keyakinan, bahkan ia mengukuhkan janji, “Tak mungkin aku dapat melupakanmu.”

Duapuluh tahun kemudian, Watanabe menyadari keluguan dirinya ketika menjanjikan hal bodoh itu. Umurnya 37 tahun ketika menyadari itu, ia sedang duduk di dalam Boeing 747 yang mendarat di Hamburg. Orkestra yang memainkan Norwegian Wood mengalun elegan dari pengeras suara mengiringi penumpang yang mulai turun satu persatu. Watanabe masih terduduk di kursinya, membungkuk menutupi wajah dengan kedua tangan. Kepalanya bergolak seperti mau meledak. Pikirannya terbawa bersama alunan suara dari masa lalu, masa ketika Naoko masih hidup, ketika mereka berdua senang mendengar petikan gitar yang mengalunkan Norwegian Wood.

Dua puluh tahun yang lalu, tidak beberapa lama setelah Naoko meminta Watanabe berjanji, Naoko bunuh diri. Ia menggantung diri pada batang pohon di sebuah pagi yang masih sunyi. Mudah saja mengingat seseorang atau sesuatu ketika itu baru saja terjadi. Namun seiring berjalannya waktu, kenangan itu perlahan memudar, dan Watanabe terlalu banyak melupakan semuanya. Kenangan Naoko di benaknya bertahun-tahun yang lalu, perlahan tapi pasti melindap. Seiring mengaburnya ingatan itu, Watanabe menjadi lebih mengerti mengapa Naoko meminta untuk tidak pernah melupakannya. Mungkin Naoko tidak benar-benar mencintai Watanabe dan hanya ingin membuatnya nelangsa. Karena tidak ada yang lebih menyakitkan dari janji yang tidak bisa kamu lakukan kepada orang yang telah tiada. Manusia adalah mahluk lemah, menjanjikan untuk selalu mengingat sebuah kenangan selama-lamanya adalah sesuatu yang tidak realistis. Kecuali kamu ingin melanggar janji sendiri, atau ingin membuat dirimu nelangsa, sebaiknya jangan kamu ucapkan.

Itulah pesan yang saya dapat setelah membaca ulang Norwegian Wood. Adalah keahlian Murakami untuk menyajikan banyak makna, dan memang begitu karya sastra seharusnya. Apa yang orang dapat dari sebuah karya terkadang berbeda satu sama lain. Bahkan satu orang yang sama, berbeda apa yang didapat ketika ia membaca ulang sebuah karya. Begitulah yang terjadi kepada saya ketika membaca ulang Norewegian Wood.





Merawat Anak

Percakapan dengan kawan lama tidak pernah berlangsung sebentar, dan hujan di malam 31 Desember membuat percakapan selama apapun menjadi wajar, karena kami jadi punya alasan untuk tidak buru-buru pulang. Bahkan jika banjir melanda sebagian negara, kami akan meneruskan percakapan di atas bahtera Nabi Nuh.

“Bagi orang yang terlalu sering sakit hati, juara memang terdengar bercanda.” Kata saya ke Qoffal. Saya sudah memprediksi, bahkan dari sebelum peretengahan musim, bahwa Liverpool akan juara Liga Inggris. Saat itu Qoffal masih belum yakin, katanya semua hal masih bisa terjadi.

Benar saja. Kami bertiga yang malam itu berada di pelataran rumah sakit tidak ada yang menyangka bahwa saat itu, jauh di tempat lain, sebuah virus telah menjangkit dan akan menyebar untuk mengacaukan tatanan dunia, termasuk sepakbola. Jadi kemungkinan Liverpool juara bisa gagal atau paling tidak tertunda sampai waktu yang entah kapan.

“Liperpul emang lagi keren-kerennya sih.” Edo menimpali.

“Nanti saya baru yakin kalo sepertiga musim masih konsisten kayak gini, bang.” Qoffal sangsi.

Saya tidak punya keresahan sama sekali ketika Si Merah tidak menjuarai apapun musim ini, atau gagal secara dramatis di Champion saat melawan Atleti. Mungkin Liverpudlian bisa merasakan bagaimana sakitnya fans Barca dengan kekalahan yang sama pahitnya musim lalu, tapi bagi saya itu malam yang biasa saja. Saya tetap bangun selepas azan subuh dan dua kali menekan snooze alarm.

Keresahan satu orang bisa menjadi keresahan orang lain tapi bisa juga tidak, maka malam itu kami lebih banyak mendiskusikan keresahan bersama. Kami punya banyak keresahan; tentang keimanan, praktek agama, pendidikan dan anak-anak.

Edo sedang meresahkan anaknya yang tahun ini lulus SD dan akan masuk pesantren. Saya meresahkan praktek agama dan keimanan yang arogan. Sementara Qoffal saat itu sedang resah karena Syatir, anaknya yang baru berumur beberapa Minggu, sedang berjuang melawan Serratia Marcescens di ruang ICU. Ia masih ragu dan menimbang tindakan Bronkoskopi. Di ruangan sebelah ICU tempat berkumpul keluarga pasien, ketika panggilan terdengar dari paging pengeras suara, para keluarga khawatir itu adalah panggilan pemberitahuan tentang kematian. Bagi seorang bapak, saya bisa merasakan beratnya beban itu. Bagi saya, yang selalu memindahkan saluran atau mematikan TV ketika ada berita tentang kekerasan pada anak, tidak bisa membayangkan akan kuat berada di posisi Qoffal saat itu.

Nada juga pernah bertarung melawan bakteri yang menyerang Bronkus-nya. Maka saya sedang tidak menyenangkan siapapun ketika bilang bisa merasakan apa yang dirasakan Qoffal. Keinginan setiap bapak ketika melihat anak dalam kepedihan pasti sama, berharap sakit itu bisa berpindah kepada dirinya. Namun sebagai manusia yang lemah, kita tidak bisa sombong. Kita hanya mampu berusaha, bersabar dan berdoa, pada akhirnya Allah yang punya rencana.

Mei tanggal 22, Qoffal menghubungi saya minta doa untuk Si Bontot, karena ngedrop dan tidak sadarkan diri. Sampai akhirnya 26 Mei yang lalu, Syatir menghembuskan nafas terakhir. Alhamdulillah inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Saya belajar bahwa sekuat apapun kita mencoba melindungi anak kita, pada akhirnya mereka akan terluka juga, dan kita akan terluka dalam proses itu.

Ya Allah yang Maha Pengasih, jadikan dia sebagai pahala yang disegerakan, dan simpanan abadi, dan sumber pahala bagi orang tuanya.

Ya Allah yang Maha Pemurah, jadikan dia yang menunggu kedua orang tuanya, simpanan dan pemberi syafaat yang dikabulkan.

Alfatihah...