Halaman

Sabtu, 17 Januari 2015

Marah dan Menyalahkan Orang Lain

"You never really learn much from hearing yourself speak." — George Clooney

"If a man thinks he is not conceited, he is very conceited indeed." — C.S. Lewis

Marah adalah hal yang wajar, tapi marah dan kemudian menyalahkan orang lain adalah hal lainnya. Menyalahkan orang lain ketika suatu hal terjadi adalah hal yang paling mudah. Sementara, semua orang punya anjing di dalam diri masing-masing yang disebut “ego”. Ia tidak rela disalahkan. Jika seorang menyalahkan orang lain, maka orang lain itu akan menyalahkan hal lain lagi, dan begitu terus tidak ada habisnya. Begitulah, masing-masing kita punya anjing ego.

Budaya Jepang untuk introspeksi dan menyalahkan diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain mungkin patut ditiru. Ketika telunjuk kita menunjuk orang lain, maka tiga jari kita yang lain sedang menunjuk diri kita sendiri. Kita tentu tahu bagaimana seorang menteri perhubungan Jepang segera mengundurkan diri dari jabatannya ketika terjadi kecelakaan kereta api. Bahkan setelah ketahuan berbuat cela, orang-orang itu rela mati untuk menghindari rasa malu.

Tentu tidak harus mati untuk menunjuk diri sendiri dan introspeksi. Saya bisa membayangkan jika semua orang menunjuk diri sendiri dan introspeksi, maka akan terjalin kehidupan yang lebih harmonis. Kita akan lebih mudah memaafkan dan mengoreksi diri. Orang-orang akan saling meminta maaf. Puncaknya, segala masalah akan terselesaikan dengan semakin mudah. Mungkin itu terdengar utopis, tapi coba berikan kepada saya hal lain yang lebih baik?

Tulisan ini sebenarnya untuk dua kawan saya yang sedang tidak saling bicara. Sampai hari ini, dua kawan saya yang sudah saling kenal cukup lama itu masih bertengkar. Bahkan, mereka tidak saling tegur sapa sampai beberapa bulan, padahal hampir setiap hari mereka bertemu. Memang apa masalahnya? Oh, percayalah, kamu nggak akan mau mendengarnya karena terlalu sepele. Lalu kenapa mereka tidak bisa menyelesaikan dengan berdamai? Hem, ingat anjing ego yang saya bahas tadi? Ya, saya sudah menyarankan mereka untuk saling bertemu dan berdamai, tapi mereka bilang tidak perlu. Sepertinya mereka berhasil menembak mati segal hal yang tidak lebih penting dari ego mereka.

Kemudian saya berpikir tentang saya sendiri, apakah saya akan seperti itu jika dihadapkan dengan kesempatan untuk bermusuhan? Mungkin permasalahannya bisa berbeda, tapi bukankah setiap orang punya egoisitas masing-masing termasuk saya?

Saya memang tidak bisa memprediksi masa depan, namun saya bisa memastikan kepada diri saya sendiri untuk terus mengingat dan belajar. Selalu ada pelajaran dari semua hal, dan saya akan terus mengingatkan diri saya pribadi tentang akhlak standar seorang muslim sebelum memutuskan untuk bertengkar. Berikut yang saya susun dari beberapa sumber:

Tabayyun

Tabayyun adalah kehati-hatian terhadap informasi yang beredar, kemudian mencari kejelasan suatu masalah hingga tersingkap dengan jelas kondisi yang sebenarnya dengan  pemahaman yang mendalam.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS. Al-Hujuraat: 6)

Jika ada seorang kawan menceritakan kejelekan orang lain, biasanya saya diam tidak berkomentar, kemudian mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Saya pikir itu adalah hal paling baik dan paling sopan yang bisa saya lakukan. Mungkin saja, dimata saya orang itu jujur, tapi kita sedang membahas ketelitian ketika mendapat informasi. Jadi ketika ada orang yang mengatakan kejelekan orang lain, maka hal yang pertama harus kita lakukan adalah jangan percaya.

Bagimana cara bertabayyun? Cara paling mudah adalah bertanya kepada yang bersangkutan langsung. Untuk membaca cara bertabayyun lainnya, silahkan masuk ke sini. 

Jangan berprasangka buruk dan mencari-cari kesalahan orang lain

Apa gunanya mengetahui keburukan orang lain? Supaya kita nggak terakibat dari keburukannya? Itu hal yang mungkin berguna, tapi kebanyakan akibat dari melakukan itu adalah membuat kita sombong karena merasa lebih baik.

Allah SWT juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah sebagian kalian menggunjingkan (ghibah) sebagian yang lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat:12)

Untuk membaca lebih lanjut silahkan ke sini.

Adil

Allah berfirman dalam surat Al Maa’idah ayat 8, “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Saling berwasiat kepada kebenaran dan kesabaran

Ajaran itu ada dalam surat Al Ashr. Imam Syafi’i berkata, “Andai Allah Ta’ala tidak menurunkan pada hamba-Nya kecuali surat ini, maka itu sudah cukup bagi mereka”.

Mengapa saling berpesan kepada kebenaran dan kesabaran? Karena hidup yang bahagia adalah hidup bermasyarakat, dan saling mengingatkan akan nilai-nilai kebenaran berguna agar nilai-nilai tersebut dapat dijunjung tinggi bersama. Namun Saling menasihati kepada nilai-nilai kebenaran saja belum cukup. Hidup bukanlah jalan yang datar saja, kesulitan datang sama banyaknya dengan kemudahan, karenanya penting juga untuk saling menasihati kepada nilai-nilai kesabaran.

Untuk lebih lengkap silahkan baca di sini. 

Waktu bermusuhan dan memutus silaturahmi

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk tidak menyapa saudaranya lebih dari 3 hari.” (HR. Bukhari)

"Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi." (HR. Bukhori dan Muslim)

Untuk bacaan lebih lanjut di sini.


Kepada kawan saya yang bertengkar itu, mohon maaf yang sebesar-besarnya jika tulisan ini mengusik egomu, maka silahkan abaikan saja tulisan ini. Kamu mungkin bisa membacanya beberapa tahun lagi ketika kamu siap.

Ya, ingatlah tulisan ini beberapa tahun lagi, dan ceritakan kembali alasan kemarahan dan permusuhanmu, maka itu akan menjadi komedi terbesar dalam hidupmu.


Wallahu ‘alam bissowab

Selasa, 13 Januari 2015

Belajar Tentang Hidup, Keindahan, Kekuatan dan Kebahagiaan dari Kupu-Kupu

Tanyalah tentang arti satu menit kepada orang yang sekarat, begitu yang pernah kawan saya katakan ketika menjelaskan makna waktu dan hidup. Kepada kupu-kupu, kita bisa bertanya dua hal sekaligus; tentang hidup, juga tentang keindahan. Hampir tidak ada yang menyangkal bahwa kebanyakan kupu-kupu yang berumur sangat singkat itu punya sayap dengan corak dan warna yang cantik. Maka tanyalah tentang arti keindahan padanya, mungkin ia akan menjawab, "Kalian akan selalu menyenangi keindahanku, tapi jarang memikirkan jalan perubahan yang aku tempuh untuk mencapai keindahan itu."

Getar sayap kupu-kupu memang lembut, ringan sekaligus rapuh, tapi kita juga mengenal Butterfly Effect, bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian.

Kupu-kupu juga mengajari kita akan arti kebahagiaan. Bukankah kebahagiaan itu seperti kupu-kupu? Yang jika dikejar, ia selalu di luar jangkauan, tetapi, jika kamu duduk dengan tenang, ia mungkin akan turun mendekatimu.

Minggu, 04 Januari 2015

Reason #178 to have kids

Anak kecil itu lucu, dan kamu nggak akan pernah tahu lucunya sampai menghadapinya sendiri.

Safa, berumur dua tahun, mengucapkan BAHAYA untuk mengatakan BAHAGIA. Jadi ketika ia bernyanyi Muhammadku-nya Hadad Alwi, saya khawatir nyanyiannya di dengar MUI.

“Siapa yang cinta pada nabinya
Pasti BAHAYA dalam hidupnya”
“Bukan bahaya, dek. Tapi bahagia.” Saya menjelaskan.
“Bahaya.” Jawab dia jelas.
“BA” kata saya.
“BA” kata Safa.
“HA” saya melanjutkan.
“HA” katanya.
“GI”
“GI”
“A”
“A”
“BA-HA-GIA”
“BAHAYA”

Ini mulai terdengar seperti Srimulat. Akhirnya saya mengajarkan kata senang untuk mengganti bahagia.
Safa juga pernah mengganti kata AGUNG menjadi AGUS dalam lagu Pelangi.

“Pelangi-pelangi, alangkah indahmu
Merah-kuning-hijau di langit yang biru
Pelukismu AGUS siapa gerangan…”

Sebenarnya saya nggak terlalu peduli dia ganti kata itu menjadi AGUNG, AGUS, atau SARIMIN. Tapi dia bernyanyi di ruang tunggu dokter yang senyap, dan suaranya terdengan jelas oleh banyak orang.

Di hari yang lain, Safa bernyanyi Paman Datang-nya Tasya dan mengganti kata TERNAK menjadi ANAK.

"Kemarin paman datang…
Pamanku dari desa…
Bercerita paman tentang ANAKNYA
Berkembang biak semua…”

Saya nggak bisa membayangkan kalau kata ANAK berubah makna menjadi TERNAK dan kata TERNAK bermakna ANAK. Jadi kalau ada kawan lama bertemu percakapannya akan seperti ini:

“Woy, Bro. Lama nggak keliatan. Gimana kabarnya? Istri sehat? TERNAK udah berapa sekarang?”
“Alhamdulillah sehat. TERNAK masih dua, satu di JIS, yang besar lagi di Singapore.”
“Oh, sama. TERNAK saya juga lagi sekolah di Singapore.”

Saya membayangkan, Prof. Yohanes Surya berbicara, “Carikan saya TERNAK yang paling bodoh dari Papua, akan saya latih jadi pintar.” Ia memperbaiki kacamatanya, tersenyum, dan melanjutkan, “Jika TERNAK-TERNAK Papua bisa menjadi juara olimpiade matematika, maka semua TERNAK-TERNAK Indonesia yang paling bodoh sekalipun diseluruh nusantara bisa.”

Luar biasa TERNAK-TERNAK Indonesia!

Safa juga suka membuat kata yang mungkin hanya dia sendiri yang memahaminya. “Dedek mau Pimpom.” Suatu hari dia bilang di sela-sela bermain.

“Pimpom itu apa?” Saya penasaran.
“Pimpom itu Makil.” Kata dia. Saya membuka kamus Bahasa Zimbabwe, tapi percuma.
Saya kembali bertanya, “Makil itu apa?”
“Makil itu Baso.” Ah, ini mulai terdengar seperti Bahasa Indonesia.
Tapi saya nggak yakin dan bertanya lagi, “Emang Baso apa?”
“Baso itu Pocong.” Jawabnya yakin.
Saya mulai komat-kamit Merukyah.

Ia juga punya trauma yang berlebihan terhadap semut, juga serangga. Iya, serangga yang hewan kecil itu, bukan yang pergi ke Amerika dan baru ngabarin Cinta setelah 12 tahun. Bukan. Ketakutan yang makin akut itu berawal karena ia pernah digigit semut hitam. Dan dia bisa histeris kalau lihat kecoak, semut, Suju, Big Bang, Shinee. Oh, maksud saya, segala macam serangga. Tipikal cewek banget dia.

"Kecewekan"-nya bahkan sudah mulai kelihatan dari Bahasa yang ia pakai. Jadi suatu hari saya kebagian memandikannya. Setelah ada di dalam kamar mandi, saya mengambil gayung dan siap-siap mengguyur, tapi dia ngomong, “Dedek mandi sendiri aja!”

“Bener mau mandi sendiri?” tanya saya.
“Iya.”
Saya keluar kamar mandi.

Dari dalam kamar mandi dia teriak, “JANGAN DITINGGAAAAALL!”

LAH KATANYA MAU MANDI SENDIRI!!


See? Bahasa Venus banget kan?

Sabtu, 03 Januari 2015

Menjadi Pemaaf

Muhammad Rasulullah dan Zaid baru saja meninggalkan rumah tempat pertemuan dengan tiga tokoh masyarakat Bani Tsaqif di kota Thaif,  ketika tak lama kemudian penduduk kota itu, berhamburan keluar dari rumah mereka, menyoraki, mencaci maki, dan berteriak menghina Rasul.

Semua tumpah ruah. Kaum dewasa dan bahkan juga anak-anak, mulai melempari keduanya dengan batu dan apa saja. Zaid berusaha melindungi Rasul. Batu terus beterbangan. Darah bercururan dari tubuh keduanya. Rasulullah dan Zaid terus berlari sejauh mungkin menghindari murka penduduk Thaif. Dengan amarah dan beringas, penduduk Thaif tetap mengejar. Sampai akhirnya, setelah jauh berlari dari kejaran penduduk Thaif, mereka tiba di suatu tempat bernama Qarnis-Tsa’alib. Lelah dan sakit merasuki tubuh keduanya.

Di angkasa, sekumpulan awan seperti meneduhi keduanya yang sudah letih berlari menyelamatkan nyawa. Saat itulah Rasulullah mendengar ucapan salam dari Jibril, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaum Tsaqif serta jawaban mereka atas ajakanmu. Bersamaku ini adalah malaikat penjaga bukit yang diutus Allah untukmu. Maka perintahkanlah apa saja yang Engkau kehendaki. Seandainya Engkau ingin dia menghimpitkan bukit Abu Qubais dan bukit Ahmar ke tubuh dan seluruh perkampungan mereka, niscaya dia akan melakukannya!”.

Sekumpulan awan memang meneduhi keduanya, namun lelah yang luar biasa dan sakit dari luka akibat lemparan batu masih perih beliau rasakan. Bukan hanya itu, di tahun tersebut, dua orang yang sangat dicintai oleh Rasul, dua pelindung beliau, telah berpulang. Abu Thalib, sang paman, dan isteri tercinta, Khadijah. Tahun itu disebut oleh para pakar sejarah Islam sebagai tahun kesedihan.

Di tahun kesedihan seperti itu, Muhammad Rasulullah mendapat perlakuan yang keji dari kaum Tsaqif. Mereka berteriak teriak melecehkannya dengan berbagai umpatan dan kata-kata kotor. Konon, dengan nada sinis, seorang dari mereka berteriak bertanya mengapa Allah sudah begitu lemah sehingga harus mengutus seorang seperti Muhammad, meminta-meminta perlindungan kepada kaum Tsaqif! Di saat sedih, duka dan terluka seperti itu, Jibril menawarkan untuk membalas perbuatan mereka.

Apakah nabi menerima tawaran itu? Tidak. Dengan segala kebaikan hati, Muhammad yang mulia menolak tawaran itu. Beliau bahkan berdoa agar Allah memberi hidayah kepada mereka, dan mendoakan agar keturunan mereka menjadi orang-orang yang akan menyembah Allah semata.


***

Kelahiran Muhammad mungkin bisa mengingatkan kita bahwa setiap orang mampu menumbuhkan Muhammad dalam dirinya. Muhammad adalah “Sang Terpuji”, yaitu manusia yang seluruh tindak-tanduknya memberikan ketenteraman, teladan, dan cahaya bagi semua manusia dan alam semesta.

Belajar dari peristiwa Thaif, kita ditunjukkan oleh Rasulullah sikap ketika menghadapi kezaliman. Jika mengingat peristiwa yang dihadapi rasulullah, apakah kita masih akan terus menutup pintu maaf bagi saudara sendiri karena hal-hal kecil? Padahal Muhammad yang mulia mencontohkan ketika beliau disiksa, dihina, dicaci maki, disoraki, difitnah, bahkan dianggap sesat di Thaif, masih memaafkan bahkan tanpa diminta.

Memberi maaf adalah perbuatan yang mudah tapi sangat sulit dilakukan. Kita senang memaafkan kesalahan orang lain bila orang lain itu mau mengakui kesalahannya terlebih dulu, padahal Rasulullah tidak pernah meminta kepada mereka yang telah menyakiti untuk mengakui kesalahannya. Begitulah yang ia lakukan ketika berhasil menaklukan kota Mekah, ketika Fathu Makkah.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad Salawllahu Alayhi Wasallam. Semoga kita semua bisa melahirkan sifat-sifat kemuhammadan dalam diri kita, memancarkan cahaya terpuji dalam tindakan dan perilaku keseharian kita, meneruskan teladan terbaik dari sebaik-baiknya manusia yang pernah dilahirkan di muka bumi.

Shollu ‘ala Muhammad!

Disusun dari berbagai sumber:


Senin, 29 Desember 2014

Sebuah Usaha Mengikat Makna

Anak itu ingin mati di hari Senin pagi,
dan dibangkitkan pada Sabtu yang cerah,
agar ia bisa bernyanyi,
“Surga itu dipenuhi hari libur yang sesak dengan kenangan.”

Ia datang mabuk adanya 
karena terlalu banyak minum puisi di kedai kopi,
kepalanya berat dengan deru debar derai degup desah detak demam dengung ingatan

Kau akan selalu mengendap di setiap ranting-ranting hati
yang butuh suluh pada deretan musim yang gaduh
hingga jihad kataku tetap terjaga sampai kalimat akhir paripurna

Ia, si kurus yang gelisah, akhirnya berjumpa,
sebentuk Rachel kepada Bruce atau Lois kepada Clark,
“Aku bersedia menunggu matahari pagi di pantai itu,
agar bisa menjadi lindap bayangmu.”

Ia tak peduli walau hanya seperti
berbicara kepada diri sendiri,
“Dalam setiap puisi yang kueja,
selalu ada kata yang gagap menangkap makna.”


Karawang, 30 Desember 2014



Senin, 22 Desember 2014

Battle of Five Armies; Sebuah Review

Kemarin gue dan istri nonton film terakhir dari trilogi The Hobbit. Sebelumnya gue sudah baca novel dan nonton dua penggalan pertama trilogi ini. Seperti dua film sebelumnya, film ini juga menyuguhkan hal yang berbeda dari versi novelnya. Secara keseluruhan film ini keren, gue klik 8 bintang di akun IMDb.

Jadi ceitanya, ada hobbit (makhluk kecil tapi bukan cebol, seukuran setengah dari ukuran manusia) bernama Bilbo, yang diminta penyihir Gandalf untuk menemani 13 kurcaci yang dipimpin Thorin untuk merebut kembali kerajaan para kurcaci di Lonely Mountain yang saat ini sedang dikuasai Smaug si naga.

Kurcaci dalam film ini nggak digambarkan berhidung bangur, rapih pake baju warna warni dan pake topi Sinterklas kayak di Snow White. Kalian nggak akan menemukan kurcaci unyu seperti mereka di film ini. 13 kurcaci ini adalah kurcaci-kurcaci badass! Kurcaci preman. Gue nggak bisa bayangin gimana kalo Snow White waktu itu masuk ke rumah kurcaci-kurcaci model gini.



Dalam penggalan terakhir ini, diceritakan 13 kurcaci itu telah sampai di Lonely Mountain dan berhasil masuk mengusir Smaug keluar dari istana. Smaug kemudian menyerang dan meluluhlantakkan Laketown, desa nelayan yang terdekat dari pegunungan itu. Tapi akhirnya Smaug mati dipanah oleh Bard (manusia penghuni Laketown). Cerita pertarungan naga dan manusia-manusia Laketown itu membuka adegan di tiga puluh menit pertama film ini, tapi gue kurang beruntung, nggak bisa lihat karena telat masuk.

Walaupun telat, film ini sangat bisa dinikmati di menit berapapun. Apalagi kalau sudah tahu jalan ceritanya. Film ini juga ngasih gue pengetahuan baru; troll nggak jadi batu waktu kena matahari dan Legolas bisa kehabisan anak panah. Lewat tulisan ini gue nggak akan ngasih review panjang-panjang, cuma mau berbagi hal-hal lucu aja.

Peter Jackson


Dalam Battle of Five Armies ini, seperti film-film Middle Earth-nya Peter Jackson sebelumnya, menampilkan sinematografi yang ajib, mulai dari penggambaran Longlake di tengah danau, pegunungan Erebor yang diukir seperti istana, hingga pemandangan alam yang subhanallah. Gue rasa orang atheis manapun akan percaya Tuhan kalo lihat itu beneran.

Setting untuk pembuatan film ini ada di Selandia Baru. Kenapa Selandia Baru? Karena selain punya banyak tempat wisata alam yang keren, Selandia Baru juga asal dari sang sutradara, Peter Jackson. Gue yakin kalo sutradaranya Riri Riza, pasti setting-nya jadi di Belitong. Bilbo akan diperankan oleh Ikal dan Gandalf diperankan Pak Harfan. Judulnya berubah jadi The Hobbit; Battle of Rainbow Troops.

Bahasa

Di film itu ada berbagai macam makhluk, dari mulai manusia, peri, penyihir, orc, kurcaci, hobbit dan lain-lain. Mereka juga punya bahasa masing-masing. Walaupun begitu, semua mereka bisa mengerti satu bahasa, bahasa persatuan mereka, Bahasa Inggris. Tapi sampe di sini gue bingung, yang ngajarin mereka Bahasa Inggris itu siapa coba? Gue curiga ada tempat kursus Bahasa Inggris di Middle Earth. Entah di Shire, atau dekat Mirkwood, atau Laketown tapi tentu bukan di Lonely Mountain. Gue juga curiga Smaug punya guru privat yang ngajarin dia Bahasa Inggris.

Perang untuk Emas

Awalnya gue bingung gimana cara Azog ngumpulin orc segitu banyak. Tapi setelah gue lihat emas yang jadi selimut Smaug di trilogi ke dua, gue jadi tahu rahasianya. Gue yakin dia pake sistem multi-level marketing. Jadi mungkin di situ sore yang cerah, dengan santainya Azog nyamperin 2-3 orc terus membuka pembicaraan dengan kalimat, “Bro, mau punya emas berlimpah?”

Thorin Keluar dari Istananya

Jadi waktu para five armies bertarung, Thorin dan kawan-kawan kurcaci yang berjumlah belasan itu masih sembunyi di dalam Erebor. Mereka keluar dengan dramatis ketika Dain, sepupunya Thorin, dan tentaranya sudah terdesak mundur. Mereka mendobrak batu-batu di pintu masuk dengan lonceng besar, kemudian, mereka yang hanya 13 kurcaci itu, berlari keluar untuk membantu.

Gue yakin diantara ribuan tentara kurcaci itu ada satu yang sinis, “Yaelah bro, udah cuma 13 orang, datengnya telat lagi!”

Udah gitu, di tengah perang, masih sempet-sempetnya Thorin ngobrol sama sepupunya Dain.

Gue yakin diantara ribuan tentara kurcaci itu ada satu yang sinis, “Yaelah bro, udah datengnya telat, kebanyakan ngobrol lagi. Dasar bos magabu doang nih!”

Perang Antara Five Armies

Awalnya trilogi terakhir ini akan dikasih judul There and Back Again seperti anak judul novelnya, tapi ternyata berubah jadi Battle of Five Armies. Sebenernya Tolkien jelasin di novelnya bahwa Lima Tentara itu adalah Orc dan Serigala Liar melawan Peri, Manusia dan Kurcaci.

Tapi gue coba ngitung the five armies dalam film itu: Orc dan troll melawan peri, kurcaci, dan manusia. Itu memang lima, tapi ini berarti menafikan perjuangan beberapa jenis tentara lain. Terus penyihir (walaupun cuma Gandalf dan Radagast), Hobbit (walaupun cuma Bilbo), kawanan elang, kelelawar, srigala, cacing raksasa dan Beorn dianggap apa? Cuma figuran?

Berarti perjuangan mereka ini nggak dianggap. Heh, ini Peter Jackson curang. Gue ngebayangin kalo aja Bilbo dan Gandalf tahu bahwa mereka nggak dihitung dalam five armies. Jadi ketika makhluk-makhluk yang dianggap five armies itu lagi sibuk bertarung Bilbo dan Gandalf bercakap-cakap.
“Bro, kita nggak dianggap nih.” Kata Bilbo ke Gandalf.
“Maksudnya?”
“Iya, di trilogi terakhir ini anak judulnya five armies. Dan five armies itu kita nggak masuk di dalemnya.”
“Ah yang bener lo, bro?” Gandalf kaget
“Iye, bener! Samber gledek dah!” buset ini Bilbo apa Mandra?
“Nah elo enak udah jadi main title-nya, Bo. Lah gue sama Radagast? Kampret emang si Peter Jackson nih!”
Tapi untungnya, sampai perang selesai, Gandalf nggak tahu.

Bilbo Pulang

Dalam dua sekuel sebelumnya diceritakan perjalanan Bilbo dan 13 kurcaci menuju Lonely Mountain yang penuh bahaya. Melewati hutan Mirkwood yang gelap, dihadang orc, lewat Misty Mountain dan macem-macem. Lah terus, di akhir film ini, Bilbo balik lagi ke Shire hanya dalam waktu tiga detik.

Gue curiga Shire itu sebenernya ada di balik Lonely Mountain, cuma waktu pertama kali mereka pergi ke sana arahnya salah. Ini nggak ubahnya lo mau ke Singapore dari Jakarta, tapi arah jalannya ke Papua Nugini.

-------------------

Tapi kelucuan-kelucuan itu hanya ada dalam khayalan gue aja. Aslinya, film ini punya dialog melalui karakter-karakter yang pas dan berima seperti puisi, bagus banget buat dijadiin “quotes”. Film ini juga memberi pesan moral yang kuat tentang peperangan yang terjadi sering hanya karena ambisi duniawi yang sebenarnya nggak pantas menjadi dasar dari sebuah pertikaian. Pesan itu yang mungkin coba disampaikan Tolkien dalam novelnya dan Peter Jackson memberi interpretasi melalui film ini dengan brilian. Seperti yang diucapkan Thorin ke Bilbo sebelum mati, "Farewell, Master Burglar. Go back to your books, your fireplace. Plant your trees, watch them grow. If more of us valued home above gold, it would be a merrier world."


Untuk pembaca yang mengagumi Tolkien dan ingin membaca bacaan yang lebih serius, gue pernah nulis tentang Pragmatism of Bilbo Baggins. Untuk yang baru pertama nonton film ini, sebaiknya nonton dulu The Hobbit yang pertama dan kedua supaya jalan ceritanya nyambung. Tapi gue sepakat, semua orang yang sudah nonton film ini atau LOTR pasti akan menganggap film-film dengan setting Middle Earth lain seperti hanya sekedar sinetron.




Selasa, 30 September 2014

Lima Hal Tentang Buku Ke Lima

1. Naskah yang paling lama ditulis

Naskah ini ditulis hampir tiga tahun, bahkan “embrio”-nya sudah ditulis sebelum novel pertama terbit sekitar tujuh tahun yang lalu. Kalo sapi, umur segitu udah siap buat dikurban. Kalo jomblo, udah siap-siap ganti kelamin.

Kenapa bisa selama itu? Ya, karena terlalu banyak diedit dan direvisi. Guru menulis gue bilang merevisi itu harus bagus. Menulislah cepat, dan mengeditlah dengan bagus, sebagus mungkin, begitu katanya. Bodohnya, gue melupakan pentingnya deadline. hehe.

Inilah naskah, yang sampai sejauh ini, paling gue inginkan. Mungkin ini bukan naskah terbaik yang akan kalian baca, tapi inilah naskah yang terbaikyang pernah gue tulis.

2. Naskah yang paling banyak ditolak penerbit

Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa penulis yang pernah menerbitkan buku akan lebih mudah menembus penerbit ketika menulis buku selanjutnya. Namun pada kenyataanya nggak semudah itu. Gue sering ditolak penerbit, dan dari empat naskah gue sebelumnya inilah naskah yang paling banyak ditolak penerbit. Naskah ini ditolak oleh 44 penerbit. Selisih satu penerbit dengan John Grisham sebelum novel pertamanya A Time to Kill diterbitkan. Dia ditolak 45 kali. Untung penerbit itu bukan cewek, bayangin kalo cowok ditoalak segitu banyak cewek. Bapuk abis tuh orang.

Bukan, gue bukan sedang menyandingkan diri sendiri dengan John Grisham. Gue nggak mungkin menulis sebagus dia, dan nggak pernah bercita-cita menjadi dia atau siapapun. Jangankan menjadi orang lain, menjadi diri sendiri aja nggak gampang.

Terkadang penolakan memang membuat kita frustasi dan mencari dukun, tapi belajar dan mencoba lagi adalah cara paling baik untuk nggak gagal. Seorang kawan pernah menulis di status facebook-nya, “kita tidak gagal, kecuali sudah tidak mau mencoba lagi.”

3. Naskah pertama yang dieditori cewek

Editor itu ibarat rekan bisnis, karena dengan merekalah naskah kita didiskusikan, ditambahkan, dikurangi dan diolah sedemikian rupa untuk membuat buku yang akan diterbitkan nanti sempurna dan menarik banyak pembaca.

Editor untuk naskah gue ini unik —atau gue yang membuatnya begitu. Dia adalah editor cewek satu-satunya dan yang paling strict serta perfectionist yang pernah gue temui. Setidaknya gue nggak menemukan editor seperti dia ketika menulis buku-buku sebelumnya. Dia juga kreatif dan akomodatif. Di tangannya naskah gue jadi lebih keren. Dia mengusulkan untuk menambahkan ilustrasi komik di setiap awal judul, memilih font yang enak dilihat dan yang terpenting merancang cover yang sangat menarik minat pembaca. Karena ditulis cowok dan dieditori cewek, mudah-mudahan naskah ini bisa mewakili selera pembaca yang beragam.

4. Observational Comedy

Buku ini sebagian besar (atau mungkin seluruhnya) bercerita tentang pengalaman yang gue alami. Sebenernya gue nggak lucu-lucu amat, bahkan beberapa kawan menyebut gue terlalu serius. Terutama kalo lagi becanda. Gue juga menjalankan hidup yang biasa-biasa aja dan jarang mengalami kejadian lucu. Tapi gue tahu bahwa menulis cerita lucu bukan berarti harus mengalami kejadian lucu. Apa yang gue tulis adalah hal-hal yang sebenarnya terlihat sederhana, namun disampaikan dengan bahasa humor. Jadi santai aja waktu bacanya, ini komedi, soob…

Sekedar informasi, secara gampang komedi dibedakan menjadi dua yakni Observasional dan Situasional. Observasional yaitu komedi yang terciptaberdasarkan hasil observasi seseorang, dan Komedi Situasional yaitu komedi yang tercipta berdasarkan situasi yang pernah dialami. Nah, dalam naskah yang terakhir ini gue banyak mengeksplorasi Komedi Observasional.

Guru menulis komedi gue pernah bilang bahwa menulis komedi yang baik sebenarnya nggak harus lucu, tapi soal bagaimana kita berhasil memberikanpersepsi unik dari satu hal yang mengandung unsur kebenaran yang sederhana. Jika komedi bisa ditafsirkan menjadi lebih luas seperti itu, maka mungkin benar apa yang pernah Charley Chaplin bilang, “Life is a tragedy when seen in close-up, but a comedy in long-shot.“

5. Naskah komedi ke dua

Menulis komedi sebenarnya gampang-gampang susah. Buku ke lima ini merupakan buku komedi ke dua yang ditulis setelah sebelumnya, sekitar 6 tahun yang lalu, novel komedi pertama gue terbit. Sebegitu lamanya ya karena memang sulit. Sesulit FPI ngislamin Ahok.

Bahkan Raditya Dika sendiri pernah bilang kalo menulis komedi itu susah, terutama dalam hal mencari ide cerita. Dan ide cerita yang bagus itu berasaldari kegelisahan, dasar semua tulisan yang bagus berasal dari kegelisahan yang tulus. Namun gue yakin dan optimis bisa menulis komedi lagi setelah buku ini. Paulo Coelho pernah nulis, "Sesuatu yang terjadi sekali padamu maka hanya akan terjadi sekali, namun sesuatu yang terjadi padamu dua kali maka akan terjadi untuk ketiga kalinya.” 

Gue berharap hal itu terjadi. Amiin.

Your Humble Writer,

Nailal Fahmi


Ps: