Akhir bulan ini tiga orang teman saya menikah. Ketika mereka mengabarkan berita itu, saya dengan enteng bertanya, kenapa menikah?
Jawaban mereka berbeda-beda, ada yang menjawab untuk meneruskan keturunan, ada yang berterus terang karena usia yang semakin menua dan ada yang memilih tidak menjawab. Saya pun tidak banyak mendebat alasan atau bukan alasan mereka, karena merekalah yang akan menjalankan pernikahan, jadi seharusnya merekalah yang memahami untuk apa mereka menikah, tanpa doktrin dari siapapun.
Niat adalah hal yang paling penting dalam Islam. Karena itu penyebab ibadah seseorang diterima atau ditolak. Segala perbuatan pasti punya niat. Ia ada di hati dan tidak bisa dimanipulasi. Karena tidak ada satu orang pun yang tahu apa yang ada dalam hati selain dirinya sendiri, dan tentu saja Tuhan. Apa yang diniatkan begitulah jadinya. Menikah karena menginginkan keturunan, maka begitulah jadinya. Ia akan mendapatkannya. Menikah karena usia yang semakin menua, maka begitulah jadinya. Ia juga akan mendapatkannya.
Karena niat begitu penting maka saya mengenal beberapa orang yang tidak mau menikah karena mereka tidak menemukan tujuan yang pas dari pernikahan untuk mereka. Mereka tidak mau didikte oleh masyarakat dan adat istiadat. Mereka berpikir kalaulah mereka mau menikah nanti itu karena mereka mau menikah bukan karena paksaan atau tuntutan dari siapapun. Mereka tidak mengaggap meneruskan keturunan dan umur adalah tujuan yang pas. Ditambah lagi karena mereka mungkin menemukan alasan-alasan yang tidak sejalan dengan prinsip mereka seperti menikah karena melihat orang lain menikah, takut kesepian, merasa bersalah dan kasihan (telah sekian lama pacaran), desakan orang tua dan karena materi. Atau, gabungan dari semua alasan-alasan tersebut.
Menurut saya, tidak ada dari alasan-alasan tersebut yang benar atau salah. Masing-masing akan menemukan tujuannya. Sebagaimana segala hal juga mempunyai tujuan masing-masing. Namun tujuan yang mana yang paling ideal itulah pertanyaan selanjutnya. Dan sudah semestinya kita meniatkan pernikahan pada hal yang lebih tinggi dari hal-hal tersebut.
Segala puji bagi Allah Sang pemilik Hati, Penguasa Hati dan Maha membolak-balikkannya.
Selamat menikah kawan-kawan. Selamat menempuh hidup yang tidak benar-benar baru.
-:(الراحمون يرحمهم الرحمن تبارك وتعالي/ ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء):-
Sabtu, 26 Oktober 2013
Sabtu, 19 Oktober 2013
Sebuah Cerita untuk Kakak
Seperti biasa, bersama senja yang hampir padam, anak itu pulang. Pada trotoar, ia manghitung langkah yang tak ingin sudah. Seperti tidak ingin sampai di rumah.
Dalam kepalanya masih bergelayut teori-teori kehidupan dari para dosen, tentang hidup dan bagaimana seorang seharusnya hidup. Tentang moral dan bagaimana seharusnya orang bermoral. Juga tentang filsafat hidup yang absurd. Anak itu mencoba menghitung, sudah berapa semester ia kuliah; lima semester.
Ia jenuh dengan rutinitas ini. Ia ingin bebas seperti angin. Adakah orang yang mengerti aku, teriaknya dalam hati. Setiap kali menapaki jalan yang dilaluinya setiap sore selama beberapa tahun itu, ia merasa seperti musafir. Bukan, bukan merasa, tapi itulah keinginannya. Ia ingin berjalan pada jalan itu, pada senja itu, pada kesendirian itu selama-lamanya bak musafir —kesendirian kadang membuat orang berpikir macam-macam.
Setelah kematian ayahnya tepat dua tahun tiga belas hari yang lalu, ia selalu ingat pesannya.
“Azalea!” ujar ayahnya yang terbaring lemah di rumah sakit, beberapa hari sebelum kanker membunuhnya, “Kamulah satu-satunya anak yang paling dekat dengan ayah. Maukah kau memenuhi permintaan terakhir ayah. Ayah merasa umur ayah tidak akan lama lagi. Maukah kau?”
Anak itu mengangguk. Dalam keadaan seperti itu ia selalu ingin memenuhi permintaan apapun. Sambil dalam hati ia masih terus berharap, berdoa agar tuhan masih mau memanjangkan umur ayahnya.
Dengan suara yang lemah ia melanjutkan, “Jika memang tuhan mencabut nyawaku, aku ingin kamu dan kakak-kakakmu rukun. Kerena pertengkaran dengan saudara tidak ada gunanya sama sekali…”
Kata-kata itu mengiang, melengking halus dalam relung telinganya. Bersamaan dengan itu ia teringat saudara-saudara kandungnya; empat orang kakak dan satu orang adik. Dua orang kakak yang jauh umurnya telah menikah dan tinggal jauh di luar kota, adik satu-satunya masih duduk di bangku SD. Sementara dua kakak yang lain yang lebih dekat umur dengnanya tidak bisa banyak diharapkan. Dia semakin terpukul karena kakak yang paling dekat umur dengannya, saat ini jarang sekali pulang ke rumah. Memang begitu sikapnya, bahkan semenjak ayahnya masih hidup. Entah apa yang dilakukan penganguran itu di luar sana bersama teman-temannya.
Semilir angin membawa debu jalanan dan meniupkannya pada rambut si anak. Sesekali ia mengusap peluh pada dahinya dengan sapu tangan. Terkadang ia memiringkan badan berbagi jalan pada trotoar dengan pedagang kaki lima dan pejalan kaki yang berbeda arus dengannya. Suara bising kendaraan yang lalu-lalang menyadarkan dirinya akan keegoisan Jakarta.
Dalam hiruk pikuk itu ia meneruskan pikirannya sendiri.
Ia teringat ibu; wanita tua dan sakit-sakitan. Semenjak kematian sang ayah, ibunya menjadi sosok yang pemurung, tak banyak bicara. Biaya hidup dari uang pensiun suami dan anak tertua cukup untuk menghidupinya. Itu membuat ia semakin berat melakukan aktifitas.
Sekali lagi dalam renungan itu ia ingin marah. Ia ingin mencaci dan teriak dengan suara paling keras yang ia miliki. Tapi juga di tengah kemarahan itu, ia selalu merindukan masa kecilnya. Masa ketika ia masih dimanja, masih senang ditemani. Masa-masa terindah dengan ayah dan kakak-kakaknya. Ia merindukan masa-masa itu. Ia kangen kakak dengan umur paling dekat, ketika ia mengajaknya ke taman, selalu setiap hari Minggu. Tetapi itu dulu, ketika ia masih dianggap menggemaskan. Masa-masa yang tidak mungkin terulang kembali. Sekarang, ia merasa masa-masa itu telah jauh sekali berlalu.
Senja di barat hampir di telan gelap. Waktu bergulir tanpa peduli pada pikiran dan nasib orang-orang di dalamnya. Zaman berganti terus menerus, selalu memaksa orang untuk beradaptasi. Terkadang menghancurkan setiap harapan.
Pada trotoar yang panjang itu, ia masih mengulum desah. Terus berharap trotoar itu makin panjang dan panjang.
Satu kelokan lagi ia sudah sampai rumah.
Bekasi, 19 Oktober tujuh tahun yang lalu
Dalam kepalanya masih bergelayut teori-teori kehidupan dari para dosen, tentang hidup dan bagaimana seorang seharusnya hidup. Tentang moral dan bagaimana seharusnya orang bermoral. Juga tentang filsafat hidup yang absurd. Anak itu mencoba menghitung, sudah berapa semester ia kuliah; lima semester.
Ia jenuh dengan rutinitas ini. Ia ingin bebas seperti angin. Adakah orang yang mengerti aku, teriaknya dalam hati. Setiap kali menapaki jalan yang dilaluinya setiap sore selama beberapa tahun itu, ia merasa seperti musafir. Bukan, bukan merasa, tapi itulah keinginannya. Ia ingin berjalan pada jalan itu, pada senja itu, pada kesendirian itu selama-lamanya bak musafir —kesendirian kadang membuat orang berpikir macam-macam.
Setelah kematian ayahnya tepat dua tahun tiga belas hari yang lalu, ia selalu ingat pesannya.
“Azalea!” ujar ayahnya yang terbaring lemah di rumah sakit, beberapa hari sebelum kanker membunuhnya, “Kamulah satu-satunya anak yang paling dekat dengan ayah. Maukah kau memenuhi permintaan terakhir ayah. Ayah merasa umur ayah tidak akan lama lagi. Maukah kau?”
Anak itu mengangguk. Dalam keadaan seperti itu ia selalu ingin memenuhi permintaan apapun. Sambil dalam hati ia masih terus berharap, berdoa agar tuhan masih mau memanjangkan umur ayahnya.
Dengan suara yang lemah ia melanjutkan, “Jika memang tuhan mencabut nyawaku, aku ingin kamu dan kakak-kakakmu rukun. Kerena pertengkaran dengan saudara tidak ada gunanya sama sekali…”
Kata-kata itu mengiang, melengking halus dalam relung telinganya. Bersamaan dengan itu ia teringat saudara-saudara kandungnya; empat orang kakak dan satu orang adik. Dua orang kakak yang jauh umurnya telah menikah dan tinggal jauh di luar kota, adik satu-satunya masih duduk di bangku SD. Sementara dua kakak yang lain yang lebih dekat umur dengnanya tidak bisa banyak diharapkan. Dia semakin terpukul karena kakak yang paling dekat umur dengannya, saat ini jarang sekali pulang ke rumah. Memang begitu sikapnya, bahkan semenjak ayahnya masih hidup. Entah apa yang dilakukan penganguran itu di luar sana bersama teman-temannya.
Semilir angin membawa debu jalanan dan meniupkannya pada rambut si anak. Sesekali ia mengusap peluh pada dahinya dengan sapu tangan. Terkadang ia memiringkan badan berbagi jalan pada trotoar dengan pedagang kaki lima dan pejalan kaki yang berbeda arus dengannya. Suara bising kendaraan yang lalu-lalang menyadarkan dirinya akan keegoisan Jakarta.
Dalam hiruk pikuk itu ia meneruskan pikirannya sendiri.
Ia teringat ibu; wanita tua dan sakit-sakitan. Semenjak kematian sang ayah, ibunya menjadi sosok yang pemurung, tak banyak bicara. Biaya hidup dari uang pensiun suami dan anak tertua cukup untuk menghidupinya. Itu membuat ia semakin berat melakukan aktifitas.
Sekali lagi dalam renungan itu ia ingin marah. Ia ingin mencaci dan teriak dengan suara paling keras yang ia miliki. Tapi juga di tengah kemarahan itu, ia selalu merindukan masa kecilnya. Masa ketika ia masih dimanja, masih senang ditemani. Masa-masa terindah dengan ayah dan kakak-kakaknya. Ia merindukan masa-masa itu. Ia kangen kakak dengan umur paling dekat, ketika ia mengajaknya ke taman, selalu setiap hari Minggu. Tetapi itu dulu, ketika ia masih dianggap menggemaskan. Masa-masa yang tidak mungkin terulang kembali. Sekarang, ia merasa masa-masa itu telah jauh sekali berlalu.
Senja di barat hampir di telan gelap. Waktu bergulir tanpa peduli pada pikiran dan nasib orang-orang di dalamnya. Zaman berganti terus menerus, selalu memaksa orang untuk beradaptasi. Terkadang menghancurkan setiap harapan.
Pada trotoar yang panjang itu, ia masih mengulum desah. Terus berharap trotoar itu makin panjang dan panjang.
Satu kelokan lagi ia sudah sampai rumah.
Bekasi, 19 Oktober tujuh tahun yang lalu
Berdoa di Status Facebook
Saya pernah menulis status facebook: “Banyak orang yang berdoa kepada tuhan di status facebook mereka, seakan-akan tuhan punya account di sini.”
Dan mendapat komentar sebagai berikut.
Qurotul Aeni:
TUHAN punya account dimana mana..terlebh bgi orang2 snantiasa berdzkr menybut Nama Nya.
DirtyHarry CleanestHot:
Lho. Tuhan memang ada dimana mana!
Ira Lathief:
in case you forget, but God is everywhere
Nyra Al-Mushaffa:
seperti orang yaahudi yang meratap di tembok penebus dosa..
pernah berfkir seperti itu ga? wall=tembok kan?
Kazay Zainudin Ajah:
heheh.. kita butuh amin dari banyak orang.
Orang-orang beriman percaya bahwa tuhan ada dimana-mana. Namun saya memilih percaya bahwa Tuhan nggak punya akun facebook, sebagaimana saya meyakini bahwa Tuhan nggak bertangan, bermata, atau berbentuk seperti manusia.
Imam Ali Karamallahu Wajhah pernah menjelaskan, “.... kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya.”
Saya tidak ingin melarang orang untuk berdoa di facebook —lagi pula siapa saya?, hanya saja ingin mengingatkan “tatakrama” doa menurut Islam.
Doa berasal dari bahasa arab الدعاء yang artinya seruan, panggilan, ajakan atau permintaan. Do’a secara pengertian syara’ adalah: memohon kebaikan kepada Allah SWT dengan penuh ketulusan hati, pengharapan, ketundukkan dan kerendahan. Kita juga mengenal ungkapan bahwa doa adalah inti dari ibadah.
Berikut ini ada beberapa pertanyaan dan jawaban berkaitan dengan doa yang saya kumpulkan dari berbagai sumber.
Kapan sebaiknya berdoa dan dimana?
Ada waktu dan tempat tertentu dimana doa lebih diijabah oleh Allah, diataranya: pada Hari Arafah, Bulan Ramadhan, Hari Jum’at, sepertiga terakhir dari malam, waktu Sahur, ketika sedang sujud, ketika turun hujan, antara adzan dan iqamat, saat mulai pertempuran, dalam ketakutan, di atas bukit Shafa atau Marwah, di Masjidil Haram dan sebagainya.
Dan mendapat komentar sebagai berikut.
Qurotul Aeni:
TUHAN punya account dimana mana..terlebh bgi orang2 snantiasa berdzkr menybut Nama Nya.
DirtyHarry CleanestHot:
Lho. Tuhan memang ada dimana mana!
Ira Lathief:
in case you forget, but God is everywhere
Nyra Al-Mushaffa:
seperti orang yaahudi yang meratap di tembok penebus dosa..
pernah berfkir seperti itu ga? wall=tembok kan?
Kazay Zainudin Ajah:
heheh.. kita butuh amin dari banyak orang.
Orang-orang beriman percaya bahwa tuhan ada dimana-mana. Namun saya memilih percaya bahwa Tuhan nggak punya akun facebook, sebagaimana saya meyakini bahwa Tuhan nggak bertangan, bermata, atau berbentuk seperti manusia.
Imam Ali Karamallahu Wajhah pernah menjelaskan, “.... kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya.”
Saya tidak ingin melarang orang untuk berdoa di facebook —lagi pula siapa saya?, hanya saja ingin mengingatkan “tatakrama” doa menurut Islam.
Doa berasal dari bahasa arab الدعاء yang artinya seruan, panggilan, ajakan atau permintaan. Do’a secara pengertian syara’ adalah: memohon kebaikan kepada Allah SWT dengan penuh ketulusan hati, pengharapan, ketundukkan dan kerendahan. Kita juga mengenal ungkapan bahwa doa adalah inti dari ibadah.
Berikut ini ada beberapa pertanyaan dan jawaban berkaitan dengan doa yang saya kumpulkan dari berbagai sumber.
Kapan sebaiknya berdoa dan dimana?
Ada waktu dan tempat tertentu dimana doa lebih diijabah oleh Allah, diataranya: pada Hari Arafah, Bulan Ramadhan, Hari Jum’at, sepertiga terakhir dari malam, waktu Sahur, ketika sedang sujud, ketika turun hujan, antara adzan dan iqamat, saat mulai pertempuran, dalam ketakutan, di atas bukit Shafa atau Marwah, di Masjidil Haram dan sebagainya.
Apakah doa harus diucapkan dalam hati atau terdengar oleh orang lain?
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa ada seorang Badui datang kepada Nabi dan bertanya, “Apakah Tuhan itu dekat sehingga kami dapat munajat kepada-Nya, ataukah jauh sehingga kami harus menyeru-Nya? Maka Nabi terdiam dan sebagai jawabannya turunlah surat Al-Baqarah 186 yaitu: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (katakanlah) bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku”…
Apakah ucapan amin dari banyak orang membuat doa itu lebih cepat terkabul?
Dari Habib bin Maslamah Al Fihri, ia mengatakan, “aku telah mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: ”Tidak berkumpul sebuah kaum muslim, berdoa sebagian dari mereka dan mengamini sebagian yang lain, kecuali Allah Ta’ala menjawab doa mereka”
Apakah dengan mendoakan orang lain (tanpa orang itu tahu karena tidak sedang bersamanya) mendatangkan kebaikan juga untuk kita?
Allah subhanahu wata’ala berfirman, "Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan." (Muhammad: 19).
Dan dalam riwayat dalam Shahih Muslim, dari Abu ad-Darda` RA bahwa Rasulullah pernah bersabda, "Doa seorang Muslim untuk saudaranya dalam keadaan ghaib (tidak ada bersamanya) adalah mustajab (dikabulkan), di samping kepalanya terdapat seorang malaikat yang ditugaskan, setiap dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, maka malaikat yang ditugaskan terhadapnya tersebut mengucapkan, 'Amin (ya Allah kabulkanlah) dan kamu mendapatkan (kebaikan) semisalnya'."
Diriwayatkan dalam kitab Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Ibnu Amr RA, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa seseorang secara ghaib (jauh dari orang yang didoakannya tersebut) yang ditujukan untuk orang yang ghaib (tidak bersama-nya)."
------------------------------------------------------
Saya mengira, ketika kita berdoa di sebuah status, it’s just simply saying to other that we are praying to God. Tanpa embel-embel bahwa tuhan ada dimana-mana apalagi sampai punya akun facebook.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa ada seorang Badui datang kepada Nabi dan bertanya, “Apakah Tuhan itu dekat sehingga kami dapat munajat kepada-Nya, ataukah jauh sehingga kami harus menyeru-Nya? Maka Nabi terdiam dan sebagai jawabannya turunlah surat Al-Baqarah 186 yaitu: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (katakanlah) bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku”…
Apakah ucapan amin dari banyak orang membuat doa itu lebih cepat terkabul?
Dari Habib bin Maslamah Al Fihri, ia mengatakan, “aku telah mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: ”Tidak berkumpul sebuah kaum muslim, berdoa sebagian dari mereka dan mengamini sebagian yang lain, kecuali Allah Ta’ala menjawab doa mereka”
Apakah dengan mendoakan orang lain (tanpa orang itu tahu karena tidak sedang bersamanya) mendatangkan kebaikan juga untuk kita?
Allah subhanahu wata’ala berfirman, "Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan." (Muhammad: 19).
Dan dalam riwayat dalam Shahih Muslim, dari Abu ad-Darda` RA bahwa Rasulullah pernah bersabda, "Doa seorang Muslim untuk saudaranya dalam keadaan ghaib (tidak ada bersamanya) adalah mustajab (dikabulkan), di samping kepalanya terdapat seorang malaikat yang ditugaskan, setiap dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, maka malaikat yang ditugaskan terhadapnya tersebut mengucapkan, 'Amin (ya Allah kabulkanlah) dan kamu mendapatkan (kebaikan) semisalnya'."
Diriwayatkan dalam kitab Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Ibnu Amr RA, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa seseorang secara ghaib (jauh dari orang yang didoakannya tersebut) yang ditujukan untuk orang yang ghaib (tidak bersama-nya)."
------------------------------------------------------
Saya mengira, ketika kita berdoa di sebuah status, it’s just simply saying to other that we are praying to God. Tanpa embel-embel bahwa tuhan ada dimana-mana apalagi sampai punya akun facebook.
Tentang Bagaimana Gue Mulai Terinspirasi dan Menulis
Di luar beberapa wanita yang gue nggak bisa sebutkan nama mereka satu persatu, ada dua orang yang menginspirasi gue untuk menulis.
Pertama Ahmad Rifa’i bin Haji Muchtar, kawan masa kecil. Yang ke dua Hoeda Manis, kawan waktu kuliah. Ahmad Rifa’i adalah penulis dan pemikir berbakat. Walau belum satupun karyanya yang diterbitkan. Sementara Hoeda Manis telah melanglang buana dan telah menulis puluhan buku, mulai dari novel, cerpen, gaya hidup, buku “how to”, fiksi dan non-fiksi. Secara singkat Hoeda adalah penulis serba bisa.
Rifa’i memang belum punya karya yang diterbitin, tapi gaya penulisannya mencerminkan bakatnya yang kuat. Dalam tulisan-tulisannya, atau lebih tepat cerpen-cerpennya, terasa kesadaran akan dirinya sendiri. Sebagian besar opini. Deskripsi ruangnya asik. Analoginya masuk akal, metaforanya cantik. Ia juga menulis puisi. Menurut gue, ia menulis dengan hati. Karena kebanyakan yang ia tulis adalah keresahan-keresahan yang ia rasakan. Menulis adalah cara untuk menuangkan segala perasaan, itu salah satu yang gue pahami. Dan ia melakukannya dengan elegan.
Tapi sayang akhir-akhir ini Rifa’i sudah jarang menulis cerpen lagi. Ia bukannya nggak mau menulis lagi, tapi seprtinya segala inspirasinya memudar satu-satu. Mungkin ia telah berdamai dengan dunia, karena kalau gue baca kembali tulisan-tulisannya yang dahulu, penuh dengan gugatan kepada dunia dan lingkungan di sekelilingnya, gugatan kepada kenyamanan dan kestabilan. Gaya-gaya tulisan anak muda yang mengebu-gebu dengan segala macam pemikiran dan ide yang ia dapat dari buku-buku yang ia baca.
Sementara Hoeda adalah seorang introvert pekerja keras yang brilliant. Lima tahun yang lalu kalian tidak akan menemukan nama orang ini di google. Bukan karena ia tidak eksis, tapi karena ia tidak ingin terkenal. Entah kenapa. Tapi akhir-akhir ini ia mulai muncul. Carilah buku-bukunya di google, tapi buku-buku yang tidak kau temukan di sana niscaya jauh lebih banyak.
Mereka berdualah yang awal mula membuat gue menulis. Hari ini gue mau ngucapin terimakasih.
Pertama Ahmad Rifa’i bin Haji Muchtar, kawan masa kecil. Yang ke dua Hoeda Manis, kawan waktu kuliah. Ahmad Rifa’i adalah penulis dan pemikir berbakat. Walau belum satupun karyanya yang diterbitkan. Sementara Hoeda Manis telah melanglang buana dan telah menulis puluhan buku, mulai dari novel, cerpen, gaya hidup, buku “how to”, fiksi dan non-fiksi. Secara singkat Hoeda adalah penulis serba bisa.
Rifa’i memang belum punya karya yang diterbitin, tapi gaya penulisannya mencerminkan bakatnya yang kuat. Dalam tulisan-tulisannya, atau lebih tepat cerpen-cerpennya, terasa kesadaran akan dirinya sendiri. Sebagian besar opini. Deskripsi ruangnya asik. Analoginya masuk akal, metaforanya cantik. Ia juga menulis puisi. Menurut gue, ia menulis dengan hati. Karena kebanyakan yang ia tulis adalah keresahan-keresahan yang ia rasakan. Menulis adalah cara untuk menuangkan segala perasaan, itu salah satu yang gue pahami. Dan ia melakukannya dengan elegan.
Tapi sayang akhir-akhir ini Rifa’i sudah jarang menulis cerpen lagi. Ia bukannya nggak mau menulis lagi, tapi seprtinya segala inspirasinya memudar satu-satu. Mungkin ia telah berdamai dengan dunia, karena kalau gue baca kembali tulisan-tulisannya yang dahulu, penuh dengan gugatan kepada dunia dan lingkungan di sekelilingnya, gugatan kepada kenyamanan dan kestabilan. Gaya-gaya tulisan anak muda yang mengebu-gebu dengan segala macam pemikiran dan ide yang ia dapat dari buku-buku yang ia baca.
Sementara Hoeda adalah seorang introvert pekerja keras yang brilliant. Lima tahun yang lalu kalian tidak akan menemukan nama orang ini di google. Bukan karena ia tidak eksis, tapi karena ia tidak ingin terkenal. Entah kenapa. Tapi akhir-akhir ini ia mulai muncul. Carilah buku-bukunya di google, tapi buku-buku yang tidak kau temukan di sana niscaya jauh lebih banyak.
Mereka berdualah yang awal mula membuat gue menulis. Hari ini gue mau ngucapin terimakasih.
Jumat, 30 Agustus 2013
Kau tahu Kawan #8
Kau tahu kawan, kebanyakan penulis mendapatkan sebagian besar penghasilan mereka bukan dari menulis.
Naskah yang dalam Tiga Tahun Belakangan Ini Berkali-Kali Gue Revisi Itu Akhirnya Ditolak Sebuah Penerbit Karena Alasan Follower
“Reputasi tidak bisa dibeli, follower bisa dibeli—bahkan secara resmi. Reputasi dibangun dari keahlian, kemampuan, bahkan bakat, juga kerja keras bertahun-tahun. Ia tak terbeli oleh uang, karena harganya tak ternilai.“ - Hoeda Manis
Ehm, dulu gue pernah berniat membeli follower. Tapi akhirnya niatan itu gue urungkan.
Awalnya gue coba-coba search di Google tentang cara memperbanyak follower dan menemukan link yang bisa memberikan follower secara gratis dan berbayar. Gue coba yang gratis. Dan benar, beberapa menit setelah mendaftar di situs tersebut, follower gue langsung bertambah drastis. Sekali lagi, hanya dalam hitungan menit!
Namun, ketika melihat dengan takjub penambahan follower di akun twiter itu, detik itu juga hati kecil gue merasa nggak tenang dan terusik. I know that’s not the decision that I’m gonna take. Akhrinya gue memutuskan untuk membatalkan sarana menadapatkan follower tersebut dan mengganti password di twiter. Dan dengan cepat, follower yang mulai bertambah itu berkurang atau beramai-ramai unfollow. Gue kembali menjadi fakir follower.
Gue nggak punya masalah dengan orang yang punya banyak follower atau sering disebut selebtwit. Apalagi yang mendapatkan followernya dengan jalan yang benar, bukan yang berbayar. Dan gue tahu banyak orang yang di-follow karena twit-twit mereka bukan karena keartisan atau keterkenalan mereka di dunia nyata. Mereka dinilai dan dihargai karena apa yang mereka tulis. Itu menurut gue keren! Dengan jalan itu gue juga mau punya banyak follower.
Tapi kemudian gue juga tahu kalau ada beberapa orang —bahkan orang terkenal— yang memiliki jutaan follower di Twitter, ternyata mendapatkan follower-nya dengan cara membeli. Bahkan mereka membelinya secara resmi melalui Twitter. Coba saja buat akun twitter, pasti lo akan disodori setumpuk akun untuk di-follow. Nah, merekalah pembeli follower resmi via twiter.
Sampai di sini gue takjub.
Sampai suatu saat gue tahu dari twitter bahwa akun @hiumacan pernah ditolak sebuah penerbit di Jogja karena tidak bisa memenuhi sarat dari penerbit tersebut; punya 200,000 folower. Ini gila. Dan kalau nggak mengalami sendiri, gue juga nggak akan percaya bahwa ada penerbit yang menilai penulis dari aktifitasnya di twitter dan dunia maya bukan karena kualitas naskahnya. Ya, kemarin gue mengirim naskah ke sebuah penerbit di Jakarta dan resmi ditolak karena alasan yang kurang lebih sama.
I don’t have any problem with the publishers and can deal with the rejection from them. Sudah puluhan kali gue ditolak oleh penerbit dan nggak pernah sakit hati. Gue rela dan ikhlas dengan penolakan tersebut. Karena mereka menolak naskah tersebut berdasarkan penilaian atas naskahnya, karena tidak sesuai dengan visi misi, tidak sesuai dengan standar penulisan, atau karena naskah gue dianggap belum layak diterbitkan dengan alasan A B C D. Kalaupun ada penerbit yang blak-blakan bilang naskah itu jelek dan berkualitas sampah, gue masih bisa terima itu. Sekali lagi gue rela dan ikhlas kalau penerbit menolak naskah karena alasan-alasan yang berkaitan dengan naskah. Yang gue nggak bisa terima adalah naskah itu ditolak karena tidak adanya cukup banyak follower di twiter. Itu adalah hal yang menurut gue sakit.
Dan yang lebih mengenaskan adalah penerbit tersebut bilang bahwa naskah itu belum dibaca. Oh, my God! Naskah yang paling lama gue tulis itu ditolak bahkan sebelum dibaca. Suram sekali.
Di akhir penolakan itu sang editor bilang, “Hal yang utama kami deteksi di awal adalah aktivitas sang penulis di dunia maya. Itu cukup. Jadi, saran saya, perbaiki aktivitas dunia maya untuk menaikkan grade dan porsi tawarmu.”
Mau gimana lagi?
Gue pun pasrah dan mencoba menghargai cara penilaian penerbit terhadap sebuah naskah. Menolak naskah, apapun alasannya adalah hak penerbit. Tentu mereka punya pertimbangan sendiri. Penerbit mana yang tidak mau untung? Penerbit mana yang nggak memikirkan keterbelian naskah yang mereka cetak? Penerbit mana yang mau rugi karena naskah yang mereka cetak nggak laku?
Ya, gue mencoba mengerti dasar-dasar penilain mereka. Gue mencoba menganalisa apa yang ada di kepala penerbit-penerbit tersebut. Mereka ingin supaya buku terbitan mereka laris dipasaran. Mereka berpikir bahwa banyaknya follower berbanding lurus dengan jumlah buku yang akan terjual. Semakin banyak follower, semakin mudah menjualnya. Itu mungkin salah satu cara untuk bisa menjual buku lebih banyak. Dan sah-sah saja.
Ya, mereka mungkin punya data akan hal tersebut. Mereka punya neraca yang bisa dilihat berkaitan dengan hasil penjualan buku dengan keaktifan penulis di dunia maya. Dan gue nggak punya data lain yang bisa membantahnya. Gue nggak punya data yang bisa mengatakan bahwa penulis yang selebtwit nggak menjamin penjualan bukunya akan bagus. Atau banyak orang yang menjadi penulis sukses terlebih dahulu baru kemudian baru punya twiter. Atau ada banyak penulis-penulis besar dan terkenal yang bukan selebtwit atau jarang ngetwit. Ya, gue nggak punya data yang valid tentang hal tersebut. Namun ada satu hal yang gue tahu; rating blog itu bisa dibuat, follower itu bisa dibeli dan keaktifan di dunia maya itu bisa dengan mudah dibuat bahkan dalam semalam. Googling aja kalo nggak percaya.
Benar memang, sarat punya banyak follower di twitter, rating blog yang tinggi atau keaktifan di dunia maya atau apapun sarat yang diajukan penerbit untuk menerima atau menolak naskah adalah wewenang penerbit yang tidak bisa diganggu oleh penulis. Namun sarat ini juga harus jelas, seperti mencantumkannya dalam website mereka. Agar penulis bisa menimbang-nimbang dan mempersiapkan ke mana mereka akan mengirim naskah. Ini lebih fair.
Huh… Mungkin yang dikatakan Ryan Aditya Achadiat di akunnya @aditryan ada benarnya, “TV penyembah rating. Penerbit penyembah selebtwit.”
Ehm, dulu gue pernah berniat membeli follower. Tapi akhirnya niatan itu gue urungkan.
Awalnya gue coba-coba search di Google tentang cara memperbanyak follower dan menemukan link yang bisa memberikan follower secara gratis dan berbayar. Gue coba yang gratis. Dan benar, beberapa menit setelah mendaftar di situs tersebut, follower gue langsung bertambah drastis. Sekali lagi, hanya dalam hitungan menit!
Namun, ketika melihat dengan takjub penambahan follower di akun twiter itu, detik itu juga hati kecil gue merasa nggak tenang dan terusik. I know that’s not the decision that I’m gonna take. Akhrinya gue memutuskan untuk membatalkan sarana menadapatkan follower tersebut dan mengganti password di twiter. Dan dengan cepat, follower yang mulai bertambah itu berkurang atau beramai-ramai unfollow. Gue kembali menjadi fakir follower.
Gue nggak punya masalah dengan orang yang punya banyak follower atau sering disebut selebtwit. Apalagi yang mendapatkan followernya dengan jalan yang benar, bukan yang berbayar. Dan gue tahu banyak orang yang di-follow karena twit-twit mereka bukan karena keartisan atau keterkenalan mereka di dunia nyata. Mereka dinilai dan dihargai karena apa yang mereka tulis. Itu menurut gue keren! Dengan jalan itu gue juga mau punya banyak follower.
Tapi kemudian gue juga tahu kalau ada beberapa orang —bahkan orang terkenal— yang memiliki jutaan follower di Twitter, ternyata mendapatkan follower-nya dengan cara membeli. Bahkan mereka membelinya secara resmi melalui Twitter. Coba saja buat akun twitter, pasti lo akan disodori setumpuk akun untuk di-follow. Nah, merekalah pembeli follower resmi via twiter.
Sampai di sini gue takjub.
Sampai suatu saat gue tahu dari twitter bahwa akun @hiumacan pernah ditolak sebuah penerbit di Jogja karena tidak bisa memenuhi sarat dari penerbit tersebut; punya 200,000 folower. Ini gila. Dan kalau nggak mengalami sendiri, gue juga nggak akan percaya bahwa ada penerbit yang menilai penulis dari aktifitasnya di twitter dan dunia maya bukan karena kualitas naskahnya. Ya, kemarin gue mengirim naskah ke sebuah penerbit di Jakarta dan resmi ditolak karena alasan yang kurang lebih sama.
I don’t have any problem with the publishers and can deal with the rejection from them. Sudah puluhan kali gue ditolak oleh penerbit dan nggak pernah sakit hati. Gue rela dan ikhlas dengan penolakan tersebut. Karena mereka menolak naskah tersebut berdasarkan penilaian atas naskahnya, karena tidak sesuai dengan visi misi, tidak sesuai dengan standar penulisan, atau karena naskah gue dianggap belum layak diterbitkan dengan alasan A B C D. Kalaupun ada penerbit yang blak-blakan bilang naskah itu jelek dan berkualitas sampah, gue masih bisa terima itu. Sekali lagi gue rela dan ikhlas kalau penerbit menolak naskah karena alasan-alasan yang berkaitan dengan naskah. Yang gue nggak bisa terima adalah naskah itu ditolak karena tidak adanya cukup banyak follower di twiter. Itu adalah hal yang menurut gue sakit.
Dan yang lebih mengenaskan adalah penerbit tersebut bilang bahwa naskah itu belum dibaca. Oh, my God! Naskah yang paling lama gue tulis itu ditolak bahkan sebelum dibaca. Suram sekali.
Di akhir penolakan itu sang editor bilang, “Hal yang utama kami deteksi di awal adalah aktivitas sang penulis di dunia maya. Itu cukup. Jadi, saran saya, perbaiki aktivitas dunia maya untuk menaikkan grade dan porsi tawarmu.”
Mau gimana lagi?
Gue pun pasrah dan mencoba menghargai cara penilaian penerbit terhadap sebuah naskah. Menolak naskah, apapun alasannya adalah hak penerbit. Tentu mereka punya pertimbangan sendiri. Penerbit mana yang tidak mau untung? Penerbit mana yang nggak memikirkan keterbelian naskah yang mereka cetak? Penerbit mana yang mau rugi karena naskah yang mereka cetak nggak laku?
Ya, gue mencoba mengerti dasar-dasar penilain mereka. Gue mencoba menganalisa apa yang ada di kepala penerbit-penerbit tersebut. Mereka ingin supaya buku terbitan mereka laris dipasaran. Mereka berpikir bahwa banyaknya follower berbanding lurus dengan jumlah buku yang akan terjual. Semakin banyak follower, semakin mudah menjualnya. Itu mungkin salah satu cara untuk bisa menjual buku lebih banyak. Dan sah-sah saja.
Ya, mereka mungkin punya data akan hal tersebut. Mereka punya neraca yang bisa dilihat berkaitan dengan hasil penjualan buku dengan keaktifan penulis di dunia maya. Dan gue nggak punya data lain yang bisa membantahnya. Gue nggak punya data yang bisa mengatakan bahwa penulis yang selebtwit nggak menjamin penjualan bukunya akan bagus. Atau banyak orang yang menjadi penulis sukses terlebih dahulu baru kemudian baru punya twiter. Atau ada banyak penulis-penulis besar dan terkenal yang bukan selebtwit atau jarang ngetwit. Ya, gue nggak punya data yang valid tentang hal tersebut. Namun ada satu hal yang gue tahu; rating blog itu bisa dibuat, follower itu bisa dibeli dan keaktifan di dunia maya itu bisa dengan mudah dibuat bahkan dalam semalam. Googling aja kalo nggak percaya.
Benar memang, sarat punya banyak follower di twitter, rating blog yang tinggi atau keaktifan di dunia maya atau apapun sarat yang diajukan penerbit untuk menerima atau menolak naskah adalah wewenang penerbit yang tidak bisa diganggu oleh penulis. Namun sarat ini juga harus jelas, seperti mencantumkannya dalam website mereka. Agar penulis bisa menimbang-nimbang dan mempersiapkan ke mana mereka akan mengirim naskah. Ini lebih fair.
Huh… Mungkin yang dikatakan Ryan Aditya Achadiat di akunnya @aditryan ada benarnya, “TV penyembah rating. Penerbit penyembah selebtwit.”
Rabu, 28 Agustus 2013
Selangkah Menuju Surga
“Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” - (QS. Az-Zumar: 18)
Keimanan memang sesuatu yang abstrak dan sulit dikatakan bentuknya. Perjalanan untuk menuju keimanan juga terkadang naik turun bahkan berputar seperti roda. Bisa saja hari ini seseorang tidak mempercayai sesuatu, tapi di lain hari berubah. Hidayah bisa datang kapan dan dimana saja. Begitulah, banyak jalan orang memeluk agama Islam. Ada yang karena keturunan, budaya, ilmu pengetahuan, sejarah, akal, ibadah, Muhammad, Al Qur’an dan lain-lain.
Ketulusan para mualaf memeluk Islam, bahkan dari yang sebelumnya membenci Islam, mengingatkan kita pada kisah Umar Bin Khattab ketika baru masuk Islam. Sebelum mengenal Islam, Umar bin Khattab adalah penentang dan pembenci Islam yang paling keras. Bahkan ia berusaha membunuh Nabi Muhammad dan menghalang-halangi setiap orang yang ingin memeluk Islam. Tetapi hidayah memang datang tak terduga, justru ketika ia mengenal Muhammad dari dekat, ketika ia merasakan mukjizat Al Qur’an, ia mengalami lompatan iman yang luar biasa. Dan setelahnya adalah sejarah, dia menjadi salah satu orang yang paling dikenal dalam Islam, menjadi salah satu dari Khulafa Ar-Rasyidin. Ia menjadi Singa Padang Pasir karena keberanian dan pengorbanannya membela Islam dan melindungi Sang Rasul. Kisah Umar Bin Khattab tersebut mengingatkan kita bahwa kebencian merupakan salah satu bagian dari absurditas iman yang terkadang malah mengantarkan seseorang pada iman yang paling tinggi.
Akhir-akhir ini, sering kita dengar tentang pandangan yang negatif terhadap Islam, ada juga yang mengolok-olok Nabi Muhammad melalui kartun, atau membuat film dan tayangan yang menggambarkan Islam sebagai agama yang merusak. Tetapi, kebencian bukanlah akhir dari segalanya, mereka yang membenci itu bisa jadi hanya belum tahu apa-apa tentang Islam, tentang Muhammad, tentang Al Qur’an lalu kebencian mengusai hati mereka.
Dalam buku ini, pembaca akan disajikan beberapa kisah mualaf yang tidak biasa, yang kontras dengan Islam. Mereka yang pada awalnya sangat bertolak belakang dengan Islam, mereka yang punya profesi atau hobi yang bertolak belakang dengan nilai-nilai Islam, mereka yang sangat tidak mengenal bahkan membenci Islam.
Saat ini, ada seorang wanita Punk asal Newcastle-Inggris yang dibesarkan di tengah-tengah keluarga liberal menjadi seorang Muslimah. Hal yang sama juga terjadi pada seorang wanita penggila pesta asal Preston-Inggris, seorang Polisi Wanita di Amerika, seorang mantan Yakuza yang menjadi Imam Masjid, Politikus dari partai yang membenci Islam di Belanda, pembuat karikatur nabi Muhammad, sampai preman Tanah Abang Jakarta dan masih banyak lagi. Ada juga yang meyakini agama ini karena melihat kenyataan dalam umat Islam yang bertolak belakang dengan yang ia bayangkan sebelumnya. Mereka adalah bagian dari kaum Muslim yang tersebar di seluruh dunia saat ini. Mereka adalah mualaf yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda.
Dalam buku ini akan diceritakan tentang awal mula mereka tertarik kepada Islam. Apa yang membuat mereka tertarik kepada Islam? Bagaimana cara mereka masuk Islam? Apa tanggapan keluarga dan orang-orang terdekat mereka ketika tahu mereka masuk Islam? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang akan dijawab dalam buku ini.

Melalui buku ini, penulis ingin berbagi hikmah melalui kisah, tentang kenyataan bahwa kebencian mungkin hanyalah bentuk dari ketidaktahuan, atau ketidakingintahuan. Kisah-kisah dalam buku ini juga sekaligus mengingatkan kita untuk lebih menyebarkan nilai-nilai keagungan agama ini. Bila kita menyebarkan nilai-nilai luhur Islam, bila kita menyebarkan keagungan Muhammad, bila kita lebih mengedepankan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta, bisa jadi orang-orang yang selama ini membenci Islam jadi akan berbalik memendam cinta yang paling dalam. Bisa jadi mereka seperti Umar Bin Khattab kepada Islam.
Keimanan memang sesuatu yang abstrak dan sulit dikatakan bentuknya. Perjalanan untuk menuju keimanan juga terkadang naik turun bahkan berputar seperti roda. Bisa saja hari ini seseorang tidak mempercayai sesuatu, tapi di lain hari berubah. Hidayah bisa datang kapan dan dimana saja. Begitulah, banyak jalan orang memeluk agama Islam. Ada yang karena keturunan, budaya, ilmu pengetahuan, sejarah, akal, ibadah, Muhammad, Al Qur’an dan lain-lain.
Ketulusan para mualaf memeluk Islam, bahkan dari yang sebelumnya membenci Islam, mengingatkan kita pada kisah Umar Bin Khattab ketika baru masuk Islam. Sebelum mengenal Islam, Umar bin Khattab adalah penentang dan pembenci Islam yang paling keras. Bahkan ia berusaha membunuh Nabi Muhammad dan menghalang-halangi setiap orang yang ingin memeluk Islam. Tetapi hidayah memang datang tak terduga, justru ketika ia mengenal Muhammad dari dekat, ketika ia merasakan mukjizat Al Qur’an, ia mengalami lompatan iman yang luar biasa. Dan setelahnya adalah sejarah, dia menjadi salah satu orang yang paling dikenal dalam Islam, menjadi salah satu dari Khulafa Ar-Rasyidin. Ia menjadi Singa Padang Pasir karena keberanian dan pengorbanannya membela Islam dan melindungi Sang Rasul. Kisah Umar Bin Khattab tersebut mengingatkan kita bahwa kebencian merupakan salah satu bagian dari absurditas iman yang terkadang malah mengantarkan seseorang pada iman yang paling tinggi.
Akhir-akhir ini, sering kita dengar tentang pandangan yang negatif terhadap Islam, ada juga yang mengolok-olok Nabi Muhammad melalui kartun, atau membuat film dan tayangan yang menggambarkan Islam sebagai agama yang merusak. Tetapi, kebencian bukanlah akhir dari segalanya, mereka yang membenci itu bisa jadi hanya belum tahu apa-apa tentang Islam, tentang Muhammad, tentang Al Qur’an lalu kebencian mengusai hati mereka.
Dalam buku ini, pembaca akan disajikan beberapa kisah mualaf yang tidak biasa, yang kontras dengan Islam. Mereka yang pada awalnya sangat bertolak belakang dengan Islam, mereka yang punya profesi atau hobi yang bertolak belakang dengan nilai-nilai Islam, mereka yang sangat tidak mengenal bahkan membenci Islam.
Saat ini, ada seorang wanita Punk asal Newcastle-Inggris yang dibesarkan di tengah-tengah keluarga liberal menjadi seorang Muslimah. Hal yang sama juga terjadi pada seorang wanita penggila pesta asal Preston-Inggris, seorang Polisi Wanita di Amerika, seorang mantan Yakuza yang menjadi Imam Masjid, Politikus dari partai yang membenci Islam di Belanda, pembuat karikatur nabi Muhammad, sampai preman Tanah Abang Jakarta dan masih banyak lagi. Ada juga yang meyakini agama ini karena melihat kenyataan dalam umat Islam yang bertolak belakang dengan yang ia bayangkan sebelumnya. Mereka adalah bagian dari kaum Muslim yang tersebar di seluruh dunia saat ini. Mereka adalah mualaf yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda.
Dalam buku ini akan diceritakan tentang awal mula mereka tertarik kepada Islam. Apa yang membuat mereka tertarik kepada Islam? Bagaimana cara mereka masuk Islam? Apa tanggapan keluarga dan orang-orang terdekat mereka ketika tahu mereka masuk Islam? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang akan dijawab dalam buku ini.

Melalui buku ini, penulis ingin berbagi hikmah melalui kisah, tentang kenyataan bahwa kebencian mungkin hanyalah bentuk dari ketidaktahuan, atau ketidakingintahuan. Kisah-kisah dalam buku ini juga sekaligus mengingatkan kita untuk lebih menyebarkan nilai-nilai keagungan agama ini. Bila kita menyebarkan nilai-nilai luhur Islam, bila kita menyebarkan keagungan Muhammad, bila kita lebih mengedepankan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta, bisa jadi orang-orang yang selama ini membenci Islam jadi akan berbalik memendam cinta yang paling dalam. Bisa jadi mereka seperti Umar Bin Khattab kepada Islam.
Langganan:
Komentar (Atom)