Halaman

Minggu, 20 September 2026

Kita adalah Sungai yang Mengalir: Pesan dan Kesan dari Perwakilan Alumni

Tulisan ini adalah versi tertulis dari sambutan yang saya sampaikan sebagai perwakilan alumni dalam acara Pisah Sambut Mahasiswa STIBA IEC Jakarta dan Universitas Pertiwi pada 19 September 2026.

Beberapa bagian dalam tulisan ini tidak sama persis dengan yang saya sampaikan saat acara. Ada beberapa bagian yang saya hilangkan, terutama candaan-candaan yang sangat personal dan, demi keselamatan saya sendiri, sebaiknya tetap disimpan di panggung. 😄

 
-------------------

Tahun 2007 adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di gedung itu sebagai mahasiswa baru. Usia saya waktu itu sudah 23 tahun. Cukup tua untuk ukuran mahasiswa baru.

Saya masih ingat, orang yang mengospek saya saat itu adalah Umar. Kalau tidak salah, ia termasuk salah satu mahasiswa angkatan awal STIBA IEC Jakarta. Motor yang saya gunakan untuk pergi ke kampus adalah Astrea tahun 1985. Lampu belakangnya berbentuk kotak dan gigi persnelingnya hanya tiga.

Dari Bekasi, saya biasanya melewati jalan sepanjang Kalimalang untuk menuju kampus. Waktu itu Kalimalang masih satu jalur. Tol Becakayu masih berupa deretan tiang-tiang beton yang belum selesai dibangun. Pohon-pohon besar masih cukup banyak berdiri di sepanjang jalan.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa hampir dua puluh tahun kemudian saya akan kembali mengingat perjalanan itu dengan cara yang berbeda. Banyak yang berubah. Jalannya berubah. Gedung-gedung di sekelilingnya berubah. Kota berubah. Transportasi berubah. Dan, sadar ataupun tidak, saya juga berubah.

Tidak lama setelah menjadi mahasiswa, saya bergabung dengan IEC. Saya masih ingat pertama kali datang ke kantor IEC Bekasi 01 dan bertemu Pak Slamet. Waktu itu saya datang menawarkan diri. Saya berharap diperbolehkan bergabung dengan IEC. Beliau kemudian menawarkan pekerjaan sebagai receptionist di IEC Bekasi 10.

Dari sanalah perjalanan itu dimulai. Saya menjadi receptionist, kemudian assistant teacher, lalu teacher. Saya belajar banyak hal yang mungkin tidak pernah saya bayangkan ketika pertama kali datang sebagai mahasiswa. Saya belajar bekerja sama, berkomunikasi, dan menghadapi berbagai macam manusia. Kemampuan bahasa Inggris saya berkembang. Namun yang lebih penting, saya belajar memahami kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas.

Dan seperti kebanyakan orang, saya juga belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah saya buat. Saya merasakan putus cinta dan belajar memahami orang lain. Mungkin memang begitulah cara manusia belajar. Sebagian pelajaran datang dari ruang kelas dan buku-buku yang kita baca. Sebagian besar lainnya datang melalui pengalaman. Dan ada pelajaran tertentu yang baru terasa maknanya setelah bertahun-tahun kemudian.

Ketika memasuki semester lima atau enam, saya membuat keputusan besar: menikah. Istri saya, yang sampai hari ini masih menjadi dosen STIBA IEC, ikut menjadi bagian dari perjalanan itu. Ketika akhirnya saya lulus dan mengikuti wisuda, saya bahkan sudah menjadi seorang ayah.

Jika hari ini saya mencoba menghitung kembali apa yang saya dapatkan dari STIBA IEC, jawabannya jauh lebih banyak daripada sekadar ijazah. Saya mendapatkan pekerjaan, pengalaman, sahabat-sahabat yang kini sudah saya anggap seperti keluarga, dan berbagai kesempatan yang mungkin tidak akan saya peroleh jika tidak pernah menjadi bagian dari kampus ini.

Dan pengalaman itu bukan hanya milik saya. Ada sekitar seribu orang yang pernah menempuh perjalanan serupa sebagai Alumni STIBA IEC. Masing-masing memiliki cerita, perjuangan, kegagalan, dan keberhasilannya masing-masing.

Kalau saya mencoba mencari satu gambaran yang paling tepat untuk menjelaskan perubahan itu, saya selalu teringat Kalimalang.

Kalimalang yang sering kita lewati sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan masih ada sampai sekarang. Ia tetap berada di tempat yang sama. Walaupun segala hal di sekitarnya telah berubah, kita masih menyebutnya Kalimalang. Bentuknya kurang lebih masih sama. Namun air yang mengalir di dalamnya tidak pernah sama. Setiap hari airnya berganti. Setiap detik airnya berubah.

Mungkin hidup juga seperti itu. Tanpa kita sadari, kita berubah setiap hari, walaupun tetap menggunakan nama yang sama untuk menyebut diri kita. Kampus berubah. Lembaga berubah. Nama berubah. Kita semua berubah. Tetapi kita tetaplah diri kita sendiri.

Perubahan adalah keniscayaan. Dan semoga perubahan berupa penggabungan STIBA IEC ke Universitas Mayapada serta bergabungnya mahasiswa ke Universitas Pertiwi menjadi perubahan yang membawa kebaikan bagi semua pihak.

Kepada mahasiswa yang masih aktif, semoga perubahan ini menjadi jalan menuju hal-hal yang lebih baik dan lebih berkah. Bagaimanapun, sebuah lembaga, seperti manusia, tidak pernah benar-benar hidup dalam satu bentuk selamanya. Yang bisa dilakukan adalah menjaga agar hal-hal baik dari masa lalu tidak hilang begitu saja ketika bentuknya berubah.

Selama menjadi manusia, kita akan selalu terikat pada waktu dan ruang. Ada tempat-tempat yang hanya kita lewati. Ada tempat-tempat yang kita tinggali. Dan ada tempat-tempat yang, tanpa kita sadari, ikut membentuk diri kita. STIBA IEC mungkin adalah salah satunya.

Saya teringat pada beberapa baris dari In My Life, lagu John Lennon dan Paul McCartney:

There are places I remember
All my life, though some have changed
Some forever, not for better
Some have gone and some remain

All these places had their moments
With lovers and friends, I still can recall
Some are dead and some are living
In my life, I've loved them all


Mungkin memang begitu cara kenangan bekerja. Kita tidak selalu mengingat sebuah tempat karena tempat itu masih sama, justru karena ia sudah berubah.






Jumat, 18 September 2026

Keberuntungan Pemula: Sambutan untuk Mahasiswa Baru STIBA IEC Jakarta

Sewaktu SMA, saya pernah membaca novel karya Paulo Coelho yang berjudul The Alchemist. Dari novel itu, saya mengenal satu istilah: beginner's luck atau keberuntungan pemula, yaitu keberuntungan untuk mereka yang baru pertama kali melakukan sesuatu.

Saya ingat, keberuntungan pemula saya terjadi pada tahun 2008. Saya masih kuliah semester 3. Waktu itu, naskah yang pertama kali saya kirimkan ke penerbit langsung diterima. Nama penerbitnya Bukune, dan saat itu Raditya Dika menjadi Pemimpin Redaksi di sana. Itulah satu-satunya naskah yang sekali kirim ke penerbit langsung diterima.

Sampai sekarang, setelah saya menerbitkan belasan buku, tidak ada satu pun naskah saya yang seberuntung naskah pertama itu. Itulah mengapa saya menyebutnya keberuntungan pemula.

Tapi, apakah keberuntungan adalah sesuatu yang kebetulan dan datang tanpa usaha?

Dulu saya berpikir begitu. Namun, setelah saya pikir-pikir lagi, dan setelah menemukan sebuah penelitian oleh Profesor Richard Wiseman, pandangan saya berubah. Ternyata, untuk menjadi beruntung itu ada ilmunya dan bisa dipelajari.

Beberapa bulan sebelum saya mengirimkan naskah pertama, saya pernah mengikuti sebuah pelatihan pengembangan diri. Ada satu sesi di mana tiap peserta diminta maju ke depan untuk menyampaikan harapan positif di masa depan. Saya ingat, waktu itu saya bilang, “Suatu hari nanti, buku saya akan ada di rak toko-toko buku Gramedia.”

Sejujurnya, saat itu saya belum punya naskah ataupun rencana mau menulis apa. Namun, saya tetap mengucapkannya dengan semangat positif dan tanpa beban.

Hampir bersamaan dengan itu, seorang kawan kuliah mengenalkan saya pada buku dan tulisan-tulisan Raditya Dika. Suatu hari, saya mendapat peluang untuk mengikuti workshop kepenulisan yang salah satu pembicaranya adalah Radit. 

Saya percaya pada pertanda, dan saat itu, intuisi saya mengatakan bahwa ini adalah salah satu peluang untuk mengenal dan belajar tentang dunia kepenulisan.

Workshop itu diadakan selama dua hari secara gratis dengan syarat mengirimkan sebuah tulisan. Singkat cerita, saya mengirim sebuah tulisan dan terpilih sebagai salah satu peserta.

Setelah workshop selesai, saya kembali beraktivitas seperti biasa: kuliah, bekerja, dan menulis cerita. Sampai akhirnya, iseng-iseng, saya mengirimkan naskah pertama ke penerbit, dan naskah itu dipertimbangkan untuk diterbitkan.

Tapi, dan ini bagian buruknya, bukan naskah asli saya yang akan diterbitkan. Penerbit meminta naskah itu dirombak total, dan sialnya, saya diminta menulis ulang dari nol dengan tenggat waktu dua bulan.

Untuk penulis pemula seperti saya waktu itu, hal tersebut sangat sulit. Namun entah mengapa, saya melihat kesulitan itu secara positif. Saya menulis ulang novel tersebut dari nol, hingga akhirnya, setahun kemudian, naskah itu dicetak menjadi buku dan benar-benar ada di rak toko-toko buku Gramedia.

Itulah refleksi terhadap keberuntungan saya, ketika saya membaca penelitian Prof. Richard.

Jadi, Prof. Richard meneliti 400 pria dan wanita berusia antara 18 hingga 84 tahun dari berbagai latar belakang. Dalam salah satu eksperimennya, baik orang yang merasa beruntung maupun yang merasa tidak beruntung diberi sebuah koran dan diminta menghitung jumlah foto di dalamnya.

Rata-rata, orang yang merasa tidak beruntung membutuhkan waktu sekitar dua menit untuk menghitung foto-foto tersebut, sedangkan orang yang merasa beruntung hanya membutuhkan beberapa detik. Mengapa?

Karena di halaman kedua koran itu, dengan huruf besar, tertulis pesan: “Berhenti menghitung, ada 43 foto di koran ini.”

Sebagai tambahan, Profesor Wiseman juga menaruh pesan besar kedua di tengah koran yang berbunyi: “Berhenti menghitung, beri tahu peneliti bahwa Anda telah melihat ini dan menangkan $250.”

Orang-orang yang tidak beruntung melewatkan kesempatan ini karena mereka terlalu sibuk mencari foto.

Temuan ini menunjukkan bahwa keberuntungan bukanlah kemampuan magis atau hasil dari kebetulan semata. Orang tidak dilahirkan beruntung atau tidak beruntung. Sebaliknya, pikiran dan perilaku kitalah yang sangat menentukan keberuntungan atau kemalangan yang kita alami.

Penelitian ini membuktikan bahwa keberuntungan lebih banyak dipengaruhi oleh pola pikir kita sendiri daripada faktor eksternal.


Sekarang silakan bertanya kepada diri masing-masing: apakah masuk ke STIBA IEC adalah keberuntungan? Apakah lahir dari orang tua kita yang sekarang adalah keberuntungan? Apakah dipertemukan dengan mentor yang baik adalah keberuntungan?

Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Dan semua itu ada pada pola pikir kita sendiri, bukan pada faktor eksternal lainnya.

Orang yang beruntung menciptakan keberuntungan mereka sendiri melalui empat prinsip dasar:

  1. Berpikir Positif tentang Masa Depan - Orang yang merasa beruntung biasanya yakin bahwa hal-hal baik akan terjadi. Pikiran positif ini membuat mereka tetap semangat meski gagal, terus mencoba, dan berani mengambil lebih banyak peluang.
  2. Mengikuti Intuisi - Mereka sering membuat keputusan berdasarkan firasat atau perasaan. Bahkan, ada yang melatih diri agar lebih peka terhadap intuisi.
  3. Menciptakan dan Menangkap Peluang - Orang yang beruntung aktif mencari dan memanfaatkan momen-momen tak terduga. Caranya bisa dengan memperluas pergaulan, mencoba hal baru, dan tetap santai agar tidak melewatkan kesempatan karena stres atau takut.
  4. Mengubah Kesialan Menjadi Peluang - Saat mengalami hal buruk, mereka tidak larut dalam kesedihan. Sebaliknya, mereka mencoba melihat sisi positif, belajar dari kesalahan, dan mencari cara untuk memperbaiki keadaan.
Cerita saya dan penelitian Prof. Richard bukan tentang saya pribadi. Ini tentang kita, tentang para mahasiswa dan calon mahasiswa dalam forum ini, dan tentang semua orang.

Bayangkan kita berada dalam penelitian Prof. Richard. Bayangkan, pada lembaran kedua kehidupan kita, ada kesempatan yang datang. Bayangkan jika pada semester ketiga ada kesempatan untuk bekerja atau memperluas jaringan. Bayangkan kita terus membuka peluang dengan berkenalan dengan orang baru, mengungkapkan ide yang kita miliki, dan tidak menyerah ketika gagal. Bayangkan semua itu.

Jadi, menurut Prof. Richard Wiseman, keberuntungan bukan cuma soal nasib. Keberuntungan bisa muncul dari cara kita berpikir, sifat kita, dan kebiasaan sehari-hari. Jika kita mau mengubah pola pikir dan mulai membiasakan diri dengan hal-hal positif, peluang untuk menjadi “beruntung” dalam hidup pun bisa meningkat.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip Paulo Coelho dalam The Alchemist:
“Jika kamu benar-benar menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta akan ikut membantu kamu untuk mewujudkannya.”

Semoga Tuhan menjadikan kita orang-orang yang beruntung.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiaga (dan teguh pendirianmu), serta bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali 'Imran, ayat 200)



-------------------------------

Ini adalah materi yang saya sampaikan sebagai Ketua Modesti (Mitra Solidaritas dan Sinergi Alumni STIBA IEC) kepada Mahasiswa Baru STIBA IEC Jakarta pada acara PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru) 2025, tanggal 27 September 2025.

Setahun kemudian pada tanggal 19 September 2026, STIBA IEC resmi digabung dengan Universitas Mayapada, namun karena Universitas Mayapada masih dalam proses mempersiapkan program studi dan fakultas yang sesuai, maka mahasiswa STIBA IEC yang masih aktif melanjutkan perkuliahan di Universitas Pertiwi. Untuk membaca kesan dan pesan yang saya sampaikan, bisa ke link ini.