Halaman

Senin, 28 November 2022

Berdiskusi di Depan Es Krim tentang Mitos Orangtua Sempurna

Saya dan istri duduk berhadapan, di tengah kami ada meja persegi yang di atasnya ada segelas Mixiu Smoothies Strawbery Ice Cream. Sambil menggengam Cone Ice Cream yang ujungnya telah habis saya jilat, saya berdiskusi dengan istri tentang pendidikan anak-anak.

Diskusi adalah kata kerja sehingga ia perlu dikerjakan, harus ada usaha untuk mewujudkannya. Menghentikan diskusi atau dialog berarti memperlebar jurang pertengkaran atau kesalahpahaman. 

Saya ingat pertengkaran pertama saya dengan istri beberapa bulan setelah kami menikah. Istri saya mengajar di Jakarta dan malam itu ia minta dijemput di halte bis, tempat biasa saya menjemputnya. Saya sudah setengah perjalanan ketika ingat tidak membawa handphone. Karena waktu sudah mepet dan khawatir istri saya menungu terlalu lama jika saya kembali pulang, maka saya memutuskan meneruskan perjalanan tanpa membawa HP. Lagi pula, pikir saya waktu itu, lokasinya sudah jelas dan itu bukan kali pertama saya menjemputnya.

Saya sampai di lokasi tepat waktu dan mulai menunggu bis. Saya sadar ada yang janggal ketika sudah hampir setengah jam lebih istri saya belum juga sampai. Banyak hal bisa terjadi, termasuk kecelakaan. Saya harus mencari tahu, tapi saya tidak menemukan orang yang bisa dipinjam HP. Hal yang lebih parah adalah saya tidak hafal nomor telpon istri, bahkan nomor telpon saya sendiri. Satu-satunya nomor yang saya ingat adalah nomor kantor. Pilihannya antara saya menunggu terus tanpa ada penjelasan apa yang terjadi atau saya mencari konter untuk membeli pulsa dan meminjam HP dengan resiko jika istri saya datang, saya tidak ada di tempat. Setelah menunggu kurang lebih satu jam, barulah saya memutuskan untuk mencari konter pulsa.

Saya menelpon kawan saya di kantor untuk meminta nomor telpon kawan kantor saya yang lain yang tahu nomor telpon istri saya.

Dari sebrang telpon istri saya menjawab ketus, "Aku udah sampe rumah! Kenapa telponnya gak diangkat sih?"

Saya kesal. Istri saya lebih kesal karena ia sudah mengabarkan lewat SMS bahwa lokasi penjemputan pindah. Karena terlalu lama menunggu, ia akhirnya pulang naik angkot.

Jika diceritakan kembali memang terdengar lucu, tapi tidak saat itu. Saat itu kami hanya melihat kesalahan orang lain. Saya menyalahkan istri saya, istri saya menyalahkan saya. Kami bertengkar dan tidak ada yang mau disalahkan.

Sejak saat itu sampai sekarang kami terus belajar untuk saling mendengarkan. Istri saya tidak selalu salah, dan saya tidak selalu benar. Kami sadar butuh kerendahhatian dan kemauan untuk mengalah. Seperti saat ini, di depan segelas es krim, kami mengobrol dan saling mendengarkan.

"Kamu gak usah merasa salah apalagi sampai menyesal." Kata saya setelah mendengar keresahan istri saya tentang beberapa penyesalan karena merasa tidak maksimal dalam mendidik, "Apa yang kamu lakukan buat anak-anak adalah hal yang sudah bagus. Bahkan hal terbaik yang bisa kita lakukan. Kita berada pada jalur yang tepat."

Sebagai praktisi homeschooling kami bertindak menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak kami sendiri, sehingga wajar jika kami terkadang risau pada pola pendidikan yang kami sudah terapkan apakah tepat atau tidak. Keresahan tersebut adalah tanda kami masih hidup, ingin belajar dan berkembang. Ketika kami memilih untuk melakukan homescholing, berarti kami memilih jalan yang menggelisahkan. Bukan karena ini jalan yang salah, tapi karena tantangan-tantangan yang kami hadapi menjadi seperti tantangan dalam hidup sendiri. Kami tidak memisahkan pendidikan dengan kehidupan sehari-hari, tapi menyatukannya, menjadikannya lebih relevan. Pendidikan adalah kehidupan, kehidupan adalah pendidikan.

"Aku sudah gak muda lagi. Aku khawatir gak bisa mengakomodasi kebutuhan anak-anak." Istri saya meneruskan. Kami sadar bahwa kostumisasi dan fleksibilitas waktu adalah salah satu hal yang penting yang menentukan keberhasilan homeschooling. Istri saya adalah pelaksana kurikulum pendidikan harian di rumah dan selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anak. Tentu saja, semua orangtua menginginkan itu.

"Gak usah khawatir." Saya menenangkan, "Kita punya Allah. Tazkiyatun Nafs, supaya Ilham Tuhan terus menerus menerangi jalan kita."

Saya mengingatkan. Istri saya sudah paham di luar kepala tentang itu, hanya terkadang manusia lupa dan butuh pengingat. Itu guna pasangan sebagai teman diskusi, atau teman bertengkar, untuk saling mengingatkan. Istri saya juga sering mengingatkan saya ketika saya lalai dalam banyak hal.

Kami sadar dalam mendidik selalu ada campur tangan Tuhan, sehingga kami tidak bisa sombong. Sebagaimana anak yang punya fitrah atau potensi yang sudah ada sejak lahir, orangtua juga punya fitrah atau potensi alami yang diberikan Tuhan untuk mendidik. Tazkiyatun Nafs atau menyucikan jiwa dengan cara ibadah, beramal saleh, mencari ilmu, atau tirakat adalah usaha agar jiwa bening hingga mampu membaca petunjuk Rabbani untuk menumbuhkembangkan potensi mendidik tersebut. Saya kagum kepada istri bukan karena kami selalu sepaham, tapi karena walaupun sering berbeda pendapat namun ia adalah sosok yang penuh cinta dan ketulusan. Begitulah Tuhan menciptakan wanita dengan karakteristik fitrah itu.

Fitrah mendidik telah ada pada diri setiap orangtua, Allah memberikan kemampuan itu sesuai jumlah anak. Jika ada 4 anak, maka mungkin ada 4 macam gaya pengasuhan. Pendidikan homeschooling adalah pendidikan yang dikostumisasi, disesuaikan dengan keunikan anak. Karena begitulah kenyataannya, setiap anak unik sehingga tidak bisa diseragamkan.

Saya sungguh beruntung karena sejak awal menikah banyak kesamaan pandangan dalam hal pendidikan. Sejak saya tidak menjemput istri di halte bis, kami selalu pada fase tidak pernah selesai memperbaiki komunikasi. Jika ada perselisihan, kami bicarakan dan cari jalan tengah untuk menghindari pertengkaran di depan anak-anak. Hal ini penting karena riset menemukan bahwa ketika orangtua sering bertengkar di depan anak, stres yang dirasakan orangtua bisa dirasakan anak dan mempengaruhi perkembangan otak mereka. Sebaliknya jika mereka sering melihat kasih sayang yang ditunjukan ayah-ibunya, ada pembentukan neuron di otak mereka. Jadi keliru jika mengatakan satu-satunya yang terpenting adalah hubungan orangtua dengan anak, karena kesuksesan anak dalam hal kognitif dan emosional bukan ditentukan berdasarkan secure attachment antara ibu dan anak, tapi secure attachment antara ayah-ibunya.

Ya, sosok ibu dan ayah adalah dua hal yang penting dalam mendidik. Sekali lagi saya katakan sosok, bukan personalitas. Artinya anak yang tidak memiliki ayah atau ibu (yatim/piatu) bisa tetap memiliki sosok ayah-ibu melalui orang lain, paman-bibi atau kakek-nenek mereka contohnya. Sebaliknya bisa saja anak yang secara biologis masih punya ayah atau ibu, tapi tidak menemukan sosok yang bisa dijadikan panutan. Bagaimanapun anak berkembang dengan rasa cinta dan contoh hubungan terdekat yang mereka lihat setiap hari adalah hubungan ayah-ibunya. Hubungan tersebut yang akan jadi pola ketika mereka bersosialisasi nanti.

Tidak bisa dipungkiri komponen pendidik paling penting adalah teladan, pemberi semangat serta inspirasi (Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani). Jika itu dilakukan orangtua dengan benar, maka tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa memiliki anak bisa membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih baik. Walaupun saya akui bahwa menjadi orangtua yang sempurna adalah mitos.

"Aku merasa ada hal-hal yang kurang di masa lalu yang seharusnya bisa aku perbaiki." Istri saya mengutarakan perasaannya.

"Kita sudah berusaha dan akan terus memperbaiki diri," kata saya kemudian, "Kita nggak bisa menjadi orangtua yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Penyucian Jiwa selain berguna agar kita terbuka untuk mendapat pengetahuan baru, juga berguna agar kita tidak angkuh dengan menganggap pola pendidikan kita yang membuat anak-anak menjadi sukses. Tidak sama sekali. Tuhan melalui alam semesta yang membimbing mereka, dan memberi kita kemampuan untuk menjadi pendidik. Sebagai orangtua kita pasti punya kekurangan, mudah-mudahan Tuhan menutupi dan memperbaiki, karena Allah adalah sebenar-benar pendidik yang sempurna."

Kami beranjak pulang ketika es krim sudah habis. Di jalan kami meneruskan percakapan yang mungkin tidak akan pernah habis.


Wallahu 'alam

Minggu, 20 November 2022

Ini Budi

di papan tulis
Ibu Guru menulis
Ini Budi

Semua murid membaca
Ini Budi

Ibu Guru menulis
Budi pergi ke sekolah

Semua murid membaca
Budi pergi ke sekolah

Ibu Guru menulis
Budi tidak sejahtera

Semua murid diam
dan diam-diam bersedih

Ibu Guru tersenyum
dan tetap tegar


2022

Jumat, 18 November 2022

Sri Asih, Seperti Mengetahui Rahasia yang Sudah Diobral

Dugaan saya terbukti, Sri Asih tidak sebagus pendahulunya Gundala. Jika saja layar bioskop seperti layar Netflix tentu saya lebih memilih untuk menonton kembali Gundala untuk yang ke 3 kali.

Berbeda dari Gundala yang dibuka dengan 15 menit awal yang memikat dan menurut saya adalah pembukaan terbaik film superhero yang pernah saya tonton, Sri Asih dibuka dengan canggung dan menyisakan banyak pertanyaan di benak penonton.

Sejak awal saya sudah ragu dengan aspek visual, karena triler yang dirilis sebelumnya sangat meragukan, apalagi ditambah jadwal tayang yang mundur dari semestinya. Melalui Twitter Space, Upi sang sutradara mengumumkan, "Kita tidak pengin mengecewakan. Di sisi lain saya merasa masih ada hal lain yang masih harus dipoles lagi. Saya berpikir antusiasme tinggi kayaknya harus dibayar sebanding dengan menonton filmnya nanti,". Walaupun statement itu membuncahkan sedikit harapan agar ada perbaikan, saya tetap masuk ke dalam bioskop pada hari pertama penayangan dengan ekspektasi rendah.

Tidak bisa ditutupi, urusan visual serta koreografi Sri Asih sangat kedodoran, dengan penjahat kacungan dungu dan CGI kasar yang klimaksnya pada adegan kemunculan Nani Wijaya dengan bentuk kepala tidak proporsional seperti sobekan koran yang ditempelkan begitu saja. Aspek komedi juga menjadi bagian yang terkesan dipaksa. Bukan memberikan komedi brilian yang memanfaatkan mimik dan dialog seperti dalam My Stupid Boss, Upi menghadirkan komedi tempelan dengan dialog yang boros dan tidak relevan.

Hal yang paling merusak adalah unsur mistery yang disusun sejak awal terbaca dengan mudah pada pertengahan awal film karena kemunculan terlalu banyak clue, mengakibatkan set-up yang dibangun sepanjang cerita, dengan tujuan membongkar Villain yang diniatkan menjadi twist pengejut, terasa sia-sia seperti mengetahui rahasia yang sudah diobral.

Seperti Wonder Women yang sangat cocok diperankan oleh Gal Gadot, satu-satunya hal yang sungguh menghibur adalah Pevita Pearce. Semata-mata karena ia adalah Pevita Pearce.



Sabtu, 05 November 2022

Kepada Para Penggemar K-Pop di Seluruh Dunia

Satu hal yang saya mengerti adalah saya tidak punya masalah dengan para penggemar K-Pop, jika saja mereka tidak banyak drama dan emosional. Suatu waktu saya pernah diminta penggemar K-Pop untuk mendengar lagu-lagu dari boygrup favoritnya. Saya melakukan permintaan itu namun sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan. Mungkin bukan selera saya, maybe I am not into the pop culture. Apa yang terjadi kemudian? Dia tidak lagi membalas WA saya. Entah apa alasan sebenarnya.

Para penggemar K-Pop juga sering meminta orang lain untuk tidak melakukan stereotyping dengan menganggap semua boygrup melakukan operasi plastik, bergaya hidup hedonistik, lipsync, mementingkan tampilan fisik dan lain-lain. Padahal tanpa sadar ada juga mereka yang melakukan stereotyping kepada yang bukan penggemar K-Pop. Tanpa sadar sebagian mereka menganggap orang yang tidak menyukai K-Pop adalah orang-orang yang tidak tercerahkan atau haters. Hanya ada dua pilihan itu. Mereka menganggap orang-orang yang tidak suka dengan boygrup mereka adalah orang-orang yang tidak bisa melihat kebenaran dan keindahan. Karena bagaimana mungkin idola mereka tidak disukai?

Saya tidak menyangkal banyak hal baik yang dilakukan Idol dan penggemar K-Pop, itu fakta yang harus diakui. Para idol dapat menggerakkan fans untuk mengumpulkan dana sumbangan, mengangkat isu-isu sosial, memotifasi banyak orang, membantu penggemar dalam melalui masa-masa sulit, dekat dengan para penggemar di media sosial. Bahkan fandom besar K-Pop mungkin bisa disandingkan dengan penganut agama, sementara Idol bisa disandingkan dengan agama dalam fungsi motifasi, inspirasi, memberikan ketenangan dan kebahagiaan hidup. Ya, tidak bisa dipungkiri K-Pop adalah agama baru.

Pada dasarnya saya tidak punya masalah dengan Idol kalian. Mau Idol kalian berprestasi, terpuruk, bunuh diri, dipenjara, putus cinta, kucingnya melahirkan atau urusan pribadi lain sungguh saya tidak peduli. Saya hanya peduli dengan karya mereka. Jika karya dari Idolmu bagus, maka saya akan dengarkan, jika menurut saya tidak bagus, maka jangan paksa saya untuk suka. Maka satu-satunya masalah saya adalah dengan kalian para Stan ekstrimis. Kalian yang menjalin hubungan Parasosial yang menyebalkan, yang rela mendukung dan membela Idol dengan cara apapun, bahkan bertindak berlebihan. Jika memang kalian penganut ekstrim seperti itu, kalian sudah tidak asik.

Hwaiting!

Minggu, 30 Oktober 2022

Surat Cinta untuk Nada

Umurmu 11 tahun, dan pagi itu kamu bertanya tentang mimpi basah. Oh, sungguh aku lebih siap jika kamu bertanya apa saja selain itu. Aku siap jika kamu bertanya tentang menstruasi, atau tentang bagaimana proses bayi dalam kandungan, atau perbedaan alat kelamin wanita dan pria, tapi pertanyaan tentang apa itu mimpi basah, itu hal yang di luar dugaan dan aku tidak siap menjawab.

"Ya, itu seperti menstruasi pada perempuan, yang menandakan kematangan tubuh manusia untuk bisa melakukan reproduksi atau hamil. Pada laki-laki tandanya ia akan mengalami mimpi basah, yaitu keluar cairan dari alat kelaminnya namun bukan seperti pipis." akhirnya aku menjawab tanpa persiapan.

"Tapi kenapa harus mimpi, Pak?" Kamu bertanya kritis.

Sejujurnya aku makin tidak siap. Entah apa yang aku jawab hari itu, tapi hari berikutnya, setelah berpikir dan menyusun kata, aku kembali menjelaskan, "Pubertas dalam bahasa arab disebut Balig, Kak. Pada laki-laki, tubuh akan mulai menghasilkan hormon testosteron yang akan memproduksi sperma. Kalau sudah cukup banyak sperma, maka laki-laki akan mulai merasakan ereksi atau kelaminnya mengeras. Ereksi bisa terjadi dalam waktu yang berbeda-beda, bisa waktu di kamar mandi, saat bermain game, bahkan saat tidur. Nah, ketika air mani atau sperma sudah cukup banyak ia akan terlepas dengan sendirinya. Karena sering terjadi saat tidur, maka itu disebut mimpi basah."

Kamu sepertinya sudah puas dengan jawaban itu, atau mungkin juga sedang mencerna, berpikir dan mungkin nanti akan menanyakan hal lain. Namun sampai sekarang tidak ada pertanyaan lain.

Umurmu 12 tahun 4 bulan, dan itu saat kamu mendapat menstruasi pertama. Ibumu memberitahu melalui pesan WhatsApp karena menemukan darah di celana dalammu waktu ia ingin mencuci pakaian. Sepertinya kamu tidak menyadari, mungkin karena darahnya masih sedikit. Aku akan mengatakan ini padamu; secara fisik kamu sekarang perempuan dewasa dan sehat, Kak. Itu artinya juga kamu bisa hamil jika berhubungan seks dengan lelaki yang secara fisik juga dewasa dan sehat. Jangan khawatir, kamu punya kendali terhadap tubuh dan apa yang kamu lakukan, termasuk juga untuk menetetapkan batas. Sekarang kamu bertanggungjawab atas perbuatanmu sendiri, baik kepada sesama manusia atau kepada Tuhan. Tentu saja bapak dan ibu masih mengingatkan, menasehati dan melindungi, tapi kamu yang bertanggungjawab atas semuanya. 

Secara fisik kamu sekarang sudah dewasa dan semoga juga secara mental. Sebagai bapak, aku akan selalu menyayangimu sampai kapanpun. Kamu adalah cinta pertama sebelum adik-adikmu ada dan akan tetap begitu selamanya. Aku tahu setiap orang harus tumbuh, begitu juga aku harap kamu akan tumbuh. Namun ada hal-hal yang kamu punya dari sejak kamu mengenal bahasa yang sebaiknya kamu pertahankan sampai dewasa.

Kamu berkeinginan kuat dan mudah termotivasi. Kamu tentu masih ingat saat berumur 7 tahun, kamu mulai puasa Ramadhan pertama. Aku menjanjikan uang setiap hari kamu melakukan puasa penuh sehari. Kamu mulai menghitung berapa banyak yang akan kamu dapatkan jika dilakukan 30 hari. Sampai sekarang aku tidak pernah menyangka, bagaimana kamu bisa melakukannya sebulan penuh, tanpa satu haripun yang bolong. Keinginan kuat juga yang membuat kamu bisa cepat mengendarai sepeda, berenang juga membaca buku-buku tebal.

Kamu juga berani dan sensitif. Ini cerita yang selalu aku ulang-ulang ketika menceritakan keberanianmu. Kamu masih usia TK dan saat itu ada acara dongeng di masjid komplek perumahan kita. Sesaat setelah pendongeng selesai membawakan cerita, ia meminta anak-anak tunjuk tangan untuk diberikan pertanyaan tentang cerita. Ada hadiah buku bagi yang bisa menjawab. Kamu segera mengangkat tangan sendirian. Anak-anak lain, bahkan banyak yang lebih dewasa dari kamu melihat dengan takjub. Orangtua yang hadir di majelis itu kagum akan keberanianmu. Kamu berjalan ke depan, menghadapi tatapan orang-orang, dan menjawab pertanyaan. Kamu mungkin masih ingat cerita yang sering aku ulang-ulang itu, tapi ingatkah kamu ketika suatu sore kamu bersandar di tembok sambil menangis?

Umurmu 7 tahun, aku mendekati dan bertanya mengapa kamu menangis. Kamu makin sesenggukan. Kamu nggak mau ngaji? Aku bertanya. Itu sore hari waktu mengaji di masjid. Kamu masih menangis. Apa ada yang jahatin di pengajian? Tanyaku lagi. Kamu tetap menangis. Aku mengingat-ingat, "Apa karena kamu denger percakapan bapak dan ibu tentang berkemah?"

Kamu sedikit tenang dan dari matamu aku tahu kamu mengiyakan. Beberapa menit sebelumnya, aku dan ibumu bercakap-cakap tentang membatalkan acara kemping keluarga yang telah kita rencanakan beberapa bulan sebelumnya karena Aira dan Safa sakit. Sebenarnya kami belum memutuskan, ada opsi untuk hanya kita yang pergi. Tapi kamu yang mendengar percakapan itu diam-diam, hanya menangkap bahwa kita tidak jadi berkemah.

“Kita jadi kemping kok. Kan semua keperluannya udah ada. Tapi cuma kamu dan bapak yang ikut. Ibu, Safa, Aira dan Bee gak bisa ikut.” Aku menjelaskan. Tangismu berangsur-angsur mereda.

Beberapa hari setelah kejadian itu, kita telah berada di Bumi Perkemahan Sentul di kaki Gunung Pancar. Sepanjang perjalanan menanjak dengan kendaraan, kamu tidak henti menatap keluar jendela dengan mata berbinar dan senyum berkembang.

Kualitas yang juga harus kamu pertahankan sampai dewasa adalah kejujuran dan keingintahuanmu. Aku tidak pernah melarangmu bertanya, mulai pertanyaan yang datang dari keresahan seperti mengapa kita bosan? Mengapa Tuhan tidak menjadikan semua orang masuk surga? Mengapa ada neraka? Atau bahkan pertanyaan yang paling kasar sekalipun. Pertanyaan itu disamping menandakan proses aktif dalam belajar, juga menandakan kamu diizinkan untuk mengatakan yang sebenarnya, sehingga kamu tidak takut jujur pada diri sendiri juga orang lain. Kamu tidak terpengaruh untuk ikut menjadi pembohong walaupun teman-temanmu suka berbohong. Dalam dirimu ada mutiara cemerlang bernama integritas. Kamu sudah terbiasa berkata dan berlaku jujur bahkan pada hal-hal yang kecil, dengan begitu kamu akan dipercaya untuk hal-hal yang besar.

Memang terkadang kamu ceroboh dan keras kepala, namun itu wajar karena kamu belum punya banyak pengalaman. Tentu dengan berjalannya waktu kamu bisa mengatasi kelemahan dan kekuranganmu. Satu hal yang harus selalu kamu ingat adalah masih banyak hal lain yang mengagumkan tentangmu dan kamu harus mencarinya sendiri. Aku berharap segala keinginan dan cita-citamu terwujud, namun jika kamu lelah, dunia menolak dan tidak menghargaimu, ingatlah akan selalu ada rumah dimana telingaku selalu bersedia mendengar keresahanmu, tanganku selalu terbuka untuk memeluk dan menerimamu apa adanya. Apa adanya.

Semoga Allah selalu menolong, memberi kekuatan, keselamatan dan kebahagiaan dalam hidupmu.

Kebutuhan akan Tuhan

Seorang kawan yang anaknya akan masuk kuliah bercerita bahwa saat ini ia ingin mendorong anaknya untuk lebih dekat dan butuh ibadah kepada Tuhan.
 
Saya bertanya mengapa ia menyimpulkan anak gadisnya tidak dekat kepada Tuhan? Ia menjawab, "Aku sering banget lihat Fita lebih ngedahuluin kerjaan sekolahnya daripada salat. Atau menunda-nunda ibadah karena melakukan hal lain."

"Jadi tanda orang sudah terpenuhi kebutuhan kepada Tuhan itu apa?" saya bertanya.

"Ya, dia jadi lebih giat ibadah. Tidak menunda-nunda dan gak perlu diingatkan untuk melakukan kewajiban kepada Tuhan."

Saya bisa memahami kesimpulan kawan saya, karena sebagai manusia, kita hanya bisa menilai dari apa yang terlihat, nahnu nahkumu bidzawahir wallahu yatawalla sarair, kita hanya menghukum apa yang tampak, dan Allah menentukan apa yang tersembunyi di dalam hati. Sehingga ukuran saleh di mata manusia adalah terlihat saleh, terlihat rajin ibadah, terlihat rajin sedekah dan lain-lain.

"Tapi bukannya banyak amalan yang terlihat amalan akhirat, padahal itu amalan dunia, atau kebalikannya, amalan yang terlihat sebagai amalan dunia, padahal dimata Tuhan itu amalan akhirat?" saya bertanya tentang hadits nabi.

Ia tidak berkomentar, seperti menyetujui bahwa benar amalan dunia ataupun akhirat bukan ditentukan berdasar bentuk amalannya, tapi ditentukan oleh niat. Pada dasarnya banyak ulama yang tidak setuju ada pemisahan amalan dunia dan akhirat. Saya juga khawatir terhadap pemisahan amalan dunia dan akhirat berdasar bentuk amalan akan menyebabkan kerancuan berpikir. Agama tidak pernah memisahkan kedua amalan tersebut. Dunia dan akhirat adalah satu kesatuan. Apapun yang dikerjakan di dunia, akan mendapat ganjaran di akhirat.

Jadi menyatakan bahwa orang yang terlihat tidak banyak "ibadah" sebagai orang yang kurang butuh terhadap Tuhan tidak sepenuhnya benar. Karena ibadah bukan hanya semata-mata ibadah uluhiyah atau ibadah individual saja, bahkan ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual.

"Fita sekarang kuliah di Jogja dan sekalian aku pondokin di Afkaruna. Aku berharap dengan mondok, dia bisa lebih dekat kepada Tuhan. Tapi sekarang dia malah sibuk banget sama urusan kuliah. Aku baru tahu kalau ternyata kuliah Arsitek itu memang harus keliling mencari lokasi untuk pengamatan." Kawan saya kembali menjelaskan.

Tidak ada yang salah dari harapan kawan saya agar anaknya lebih dekat kepada Tuhan dengan giat salat, puasa, mengaji dan ibadah individual lain, tapi bukankah mencari ilmu, selama niat dan tujuannya untuk kebaikan, juga bisa sebagai sarana dekat kepada Tuhan? Rasulullah bersabda, “Mencari ilmu satu saat adalah lebih baik daripada salat satu malam, dan mencari ilmu satu hari adalah lebih baik daripada puasa tiga bulan” (HR. Ad-Dailami).

Saya pribadi juga mungkin pernah mengalami keresahan yang dialami kawan saya. Karena berdialog dengan anak adalah inti dari pendidikan Homeschooling, biasanya saya memulai dari pertanyaan atau keingintahuan anak. Saya senang mendengar, menjawab dan berdialog tentang keresahan anak-anak saya, karena selain itu menandakan keaktifan anak dalam belajar, keresahan dan pertanyaan adalah sarana untuk menjelaskan konsep. Anak-anak memahami dan mengingat konsep lebih baik ketika mereka belajar langsung dari pengalaman pribadi yang relevan. Keingintahuan atau kegelisahan adalah pengalaman yang paling real pada anak. Dalam hal ibadah misalnya, Nada waktu berusia 10 tahun pernah bertanya, kenapa kita harus beribadah kepada Allah? Itu adalah pertanyaan penting yang perlu dijawab dengan komperhensif. Karena apa guna ibadah tanpa pemahaman apalagi kesadaran?

Menurut saya, menjelaskan konsep dalam ibadah individual itu perlu, namun menjelaskan bahwa kesalehan sosial juga merupakan bentuk ibadah juga penting. Bukankah orang-orang yang bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang-orang miskin, adalah seperti pejuang di jalan Allah, dan seperti orang yang terus menerus salat malam dan terus menerus puasa? (HR. Bukhari & Muslim). Pada hadits yang lain, Rasulullah juga bersabda kepada sahabat-sahabatnya, “Maukah engkau aku beritahukan derajat apa yang lebih utama daripada salat, puasa, dan sedekah? (para sahabat menjawab, tentu). Yaitu mendamaikan dua pihak yang bertengkar” (HR. Abu Dawud & Ibn Hibban). Selain itu, Rasulullah menegaskan bahwa ibadah individual tidak akan bermakna bila pelakunya melanggar norma-norma kesalehan sosial, “Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan, dan tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahim”. Sedangkan dalam Al-Quran, orang-orang yang salat akan celaka, bila ia menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang-orang miskin, riya dalam amal perbuatan, dan tidak mau memberikan pertolongan kepada orang-orang lemah (Surat Al-Ma’un).

Saya banyak berdiskusi dengan kawan saya tentang pendidikan dan anak, apalagi saat ini Nada, yang saat ini berumur 12 tahun, akan tinggal terpisah dari orangtua, untuk mencari pengalaman hidup di pesantren. Sebelum memutuskan ke pesantren, Nada punya banyak kehawatiran. 

"Banyakin quality time bersama," Kawan saya menasehati saya untuk lebih banyak waktu berkualitas bersama Nada. Itu nasehat yang bagus dan berguna untuk orangtua di masa apapun. No meaningful learning occurs without a meaningful relationship, right?

Sampai sekarang saya masih terus belajar untuk mendengarkan, baik kepada kawan-kawan, istri bahkan anak. Saya sadar, terkadang saya melihat anak sebagaimana saya melihat diri sendiri di masa lalu. Saya melihat semua keburukan dan khawatir terjadi pengulangan atas semua yang menimpa di masa lalu. Padahal belum tentu yang orangtua anggap penting dianggap penting juga oleh anak. Dengan mendengarkan, orangtua belajar untuk mengetahui apa yang dirasakan penting oleh anak. Karena anak-anak, seperti juga orang dewasa, butuh didengarkan, dan mungkin pada beberapa keadaan melebihi kebutuhannya akan Tuhan. Seperti yang pernah ditulis Ralph G. Nichols, “The most basic of all human needs is the need to understand and be understood. The best way to understand people is to listen to them.”

Wallahu 'alam

Jumat, 26 Agustus 2022

Dua Film Thailand dan Satu Serial yang Hampir Thailand

Slamet merekomendasikan dua buah film thailand (Fast & Feel Love dan Happy Old Year) ketika di saat yang hampir bersamaan Kucey meminta saya menonton serial drama Korea berjudul Voice.

Fast & Feel Love dan Happy Old Year adalah dua film thailand yang disutradarai oleh Nawapol Thamrongrattanarit (jangan minta saya membaca apalagi menghapal nama itu), yang mengangkat isu hubungan cinta yang kandas.

"Lu emang suka film drama kayak gitu?" Tanya saya ke Slamet.

"Suka sih, Sir." Jawabnya cepat. Saat ini ia berusia 26 tahun, sudah lulus kuliah dan masih bekerja. Sewaktu SMP, ia pernah menjadi murid saya, maka ia tetap memanggil saya Sir. Sebagai egalitarian, saya tidak keberatan ia memanggil saya apapun dan saya sudah terbiasa memanggilnya sama seperti saya memanggil kawan-kawan lain.

"Relate sama kehidupan lu?" Saya tertawa.

"Sial!" ia kesal, "Bisa jadi. Kadang ya ngebayangin aja ntar kalo kejadian di gua gimana gitu,"

"Lu mo putus sama Refin?" Saya menggodanya.

"Astagaa!" Slamet kaget, "Nggak, Sir. Gak kepikiran putus. Lagi baik-baik aja."



Fast & Feel Love disajikan dalam nuansa komedi yang kuat namun tidak slapstik dan murahan, bahkan di beberapa adegan saya menangkap kesan satir dan gelap. Sinematografi dan pengambilan gambar di buat modern dengan warna pastel yang teduh, melengkapi adegan dan beberapa karakter yang sangat jelas sekali sedang memparodikan filem populer terkenal, bahkan sampai ke taraf Meta Comedy. Drama yang dimasukan, yang menjadi magnet kelucuan film ini memang terkesan lebay, namun disaat yang sama tetap memberikan bekas yang dalam.

Film ini bercerita tentang Kao, seorang juara dunia olahraga susun gelas yang dicampakkan oleh pacarnya dan harus belajar keterampilan dasar orang dewasa agar bisa hidup sendiri dan mengurus diri sendiri. Di akhir cerita, penonton terbawa emosi dengan resolusi yang menggantung namun juga dibuat senang akan perkembangan karakter Kao yang tumbuh menjadi manusia dewasa. Seperti kebanyakan kita yang tumbuh seiring dengan masalah serta orang-orang yang datang dan pergi di kehidupan, yang membuat kita menjadi lebih dewasa atau malah sadar bahwa kita terlambat dewasa.



Perpisahan yang pahit namun "baik-baik" saja juga disajikan Nawapol dalam Happy Old Year. Dibanding Fast & Feel Love, film ini lebih serius dan depresif walaupun juga masih menampilkan sedikit sisi komedi yang suram.

Saya penasaran serta punya ekspektasi tinggi ketika Slamet menceritakan premis Happy Old Year, dan itu terbayar lunas setelah saya selesai menonton. Film ini bercerita tentang Jean, wanita yang ingin mengubah design tempat tinggalnya menjadi minimalis, namun terbentur kenyataan bahwa membuang barang-barang dari masa lalu tidak semudah yang ia bayangkan, karena setiap benda punya cerita dan kenangan.

Pada beberapa adegan, penonton dibuat ikut merasakan kecanggungan, kegugupan, getaran dalam suara, serta konflik dalam klimaks yang terasa dekat karena dibuat dengan dialog datar tanpa teriakan namun berbobot, membuat nyeri dan menggugah. Itu yang membuat film ini menjadi halus, dalam serta mengaduk perasaan.

Minimalisme yang diusung film ini bukan hanya terwakili dari tampilan layar yang diubah menjadi 4:3, menurunkan kontras warna serta memasukan tema usang tentang melupakan masa lalu, namun juga karena peristiwa di dalamnya begitu sederhana, relevan, nyata bahkan sangat puitis. Ada sebuah benda metaforis yang kokoh memberikan nuansa seperti puisi dalam film ini, jika dalam Parasite metafora itu berbentuk batu, dalam film ini berbentuk piano. Ada shoot sekitar 1 menit yang hanya menampilkan wajah Jane dengan segala emosi di dalamnya. Betapa wajah bisa menapilkan visualisasi emosi yang tidak bisa dilukiskan oleh gambaran secanggih apapun.

Seperti dunia minimalis, film ini menyempitkan pandangan para karakter kepada dunia yang hitam putih, antara membuang dan melupakan, atau mengenang dan menyimpan. Dua ekstrim mutlak yang tidak punya resolusi jalan tengah. Tidak ada persahabatan, pilihannya antara meneruskan atau melupakan.

Itu sama seperti ketika saya akan memutuskan apakah akan memeruskan atau melupakan serial rekomendasi Kucey yang belum sempat saya tonton habis. So many movies and books, so little time, kata saya kepadanya melalui pesan WA.

"Mister Nailal jangan lupa nonton Voice," Sebelumnya Kucey meminta dengan emotikon berharap. Ia mungkin seumur dengan Slamet, dan tidak pernah jadi murid saya, tapi entah mengapa ia memanggil saya Mister. Saya tidak keberatan dipanggil apapun, but I've never felt like I was any teacher for her.

Voice adalah drama thriller asal Korea yang juga sudah diadaptasi ke Thailand. Serial yang tayang sejak 2017 ini bercerita tentang seorang detektif urakan dan seorang operator Emergency Call Centre dengan bakat mengenali suara, bekerja sama untuk menangkap penjahat yang membunuh orang yang mereka cintai. Saya menggoda Kucey yang merupakan fangirl NCT dengan menampilkan screenshot Voice versi Thailand, tapi sepertinya ia sedang tidak ingin bercanda, atau memang selera humor kami yang berbeda.

Saya sadar akan konsekuensi Cancel Culture karena mengolok-olok fandom K-Drama, namun bagi saya, lucu adalah ketika di telinga masih hangat terngiang "swadikaap", saya membuka Netflix dan menemukan Voice versi Thailand yang menampilkan adegan awal yang klise dengan penjahat psycho tapi dungu karena tidak menyita handphone dari orang yang ia culik. Saya sempat berharap mungkin akan lebih menarik jika sepanjang episode para karakter mengucapkan swadikap saja sebanyak-banyaknya.

Sungguh saya tidak terbiasa mendengar bahasa Thailand atau Korea. Bahkan ketika menonton Money Heist --yang saya lebih suka versi Korea dibanding Prancis, saya men-dubbing dengan Bahasa Inggris. Senang sekali bisa mendengar tokoh-tokohnya fasih berbahasa Inggris dan bisa mengucapkan huruf akhir tanpa suku kata dengan benar. Mantap! Bukan Mantapu!

Sejujurnya, Voice versi Thailand jauh lebih saya suka karena ia menghilangkan atau mengganti adegan, drama serta dialog yang tidak perlu pada versi Korea, disamping juga membuat alur dan logika cerita menjadi lebih jernih. Di episode perdana, kemampuan unik Irin/Lee Hana membuat saya teringat Patrick Jane dalam The Mentalist yang mencari psikopat pembunuh istri dan anaknya dengan keahlian mentalisme, atau crime serial Amerika seperti Castle, Lie to Me, Forever, atau Perception, yang menggunakan keahlian unik para protagonis untuk memecahkan masalah kriminal. Satu hal yang mungkin paling kentara membedakan Voice dengan serial kriminal Amerika adalah ia menyajikan ketegangan dari hasil perpaduan sound, pengambilan gambar dan pemotongan adegan yang bisa membuat penikmatnya kecanduan.

Araseo!