Halaman

Jumat, 05 Maret 2010

Pada Sebuah Puisi

aku kembali lagi ke dalam buai puisi
mencari pelepasan atau sekedar rindu

mencemooh hampir mengejek
meremehkan segala yang dianggap akbar
-uang-popularitas-jabatan-kesombongan-dendam-ketidakberdayaan

aku kembali lagi ke dalam renung puisi
mencari pelepasan atau sekedar rindu

mengindahi halhal kecil
yang ditutup tabir rutinitas

aku kembali lagi ke dalam elok puisi
mencari pelepasan atau sekedar rindu

maukah ikut bersamaku menjadi burung
terbang bebas pada lanskap senja
maukah ikut bersamaku menjadi kabut
pada segenggam gelap subuh

maukah ikut bersamaku menjadi embun
di daun
atau
ingin tetap berpilu perih dengan cinta
yang kau sembunyikan sendiri

Akhirnya, aku kembali lagi ke dalam lorong sunyi puisi
mencari pelepasan atau sekedar rindu

maukah ikut
bersamaku


Bekasi, 5 Maret 2007


Jumat, 01 Januari 2010

Seperti Sebatang Bambu

Aku akan kembali bertahan,
demi sujar kata
yang sebentar lagi akan kau ucapkan

Seperti sebatang bambu,
yang menanti kecupan
hangat senja
setelah badai seharian

Aku akan kembali bertahan,
demi sekotak janji
yang sejenak lagi akan kau lupakan

Seperti sebatang bambu,
yang menanti pelukan
hangat pagi
setelah badai semalam

Jumat, 27 November 2009

Ketika Kau Tertidur

Aku lupa kapan pertama kali mengenalmu.

Lagi-lagi pada lipatan waktu yang tak tercatat. Mungkin ketika para kurcaci waktu melindungimu dari sihir perempuan gila yang ingin supaya kau musnah.

Dan kau pun hanya tertidur.

Dalam balutan sutra hijau dan tersenyum. Tidur yang paling indah yang pernah kau sajikan. Sampai datang seorang pangeran yang terobsesi dengan petualangan.

Dan kau pun hanya tertidur.

Diam.

Pangeran tampan pergi meninggalkanmu di tengah hutan, karena tak tahu yang mesti ia lakukan. “Tidurnya menyisakan perih.” Katanya kepada para hulubalang sambil ngeloyor pulang.

Dan kau pun hanya tertidur.

Ketika malam menyelimutimu dengan kedamaian, dan gerimis mulai membasahi sutra hijau yang kau kenakan.

Dan kau pun hanya tertidur.

Ketika musim terus berganti dan para pangeran berlalulalang bahkan tanpa memandang. Burung-burung akhirnya membuat sarang di rambutmu yang ikal dan hangat. Laba-laba memintal benang di wajahmu. Dan kurcaci waktu hanya diam termagu.

Dan kau pun hanya tertidur.

Sampai datang satu musim lagi. Suatu musim yang ia melupakanmu dan kamu melupakannya. Di musim yang teduh tanpa hujan. Panas tanpa kekeringan. Musim yang paling sempurna yang pernah dibuat tuhan. Semua berbahagia kecuali kamu. Karena kamu masih tertidur.

Dan kaupun hanya tertidur.

Sampai suatu hari dimana para musim enggan tuk menyapamu lagi. Setelah hewan-hewan hutan tidak lagi peduli. Dan para pangeran mati. Dan panggung sepi. Dan drama telah selesai.

Dan kaupun masih tertidur.

Menyunggingkan senyum kemarin yang telah bercampur kegetiran abab mulut. Matamu terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan memandangku tajam.

Bangkit dan mendekati,

penonton barisan depan yang tak pernah sedetikpun matanya terpejam.


Bekasi, 27 Nopember 2009

Kamis, 12 November 2009

Ambiguitas Sastra dan Tanggungjawab Sosial

Pernah ada seorang sahabat yang mengirim SMS yang menjelaskan bahwa novel BaRung (Badung Kesarung) adalah sebuah rekayasa, adalah sebuah pembohongan publik.

Awalnya, ketika menerima SMS itu, saya luar biasa tidak terima dan ingin sekali memberikan pembelaan saat itu juga. Namun, kemudian saya sadari bahwa pembelaan itu hanya akan semakin memperlihatkan kepicikan saya. Karena dalam hal ini, pembaca selalu benar. Merekalah yang menilai. Penulis tidak berhak turut campur untuk menilai karyanya sendiri. Kalaupun pembaca menilai novel itu sebagai novel sampah, penulis seharusnya menerimanya dengan legawa.

Dalam kasus saya, ada pro dan kontra. Ada yang senang dengan novel itu ada juga yang tidak. Memang novel ini tidak seheboh Da Vinci Code-nya Dan Brown. Atau Tuhan Ijinkan Aku Jadi Pelacur–nya Muhiddin M. Dahlan. Atau bahkan seperti Satanic Verse-nya Salman Rusdie. Saya pun tidak berniat untuk membuat kontroversi besar seperti mereka. Sama sekali tidak.

Tulisan ini saya tulis karena saya merasa punya tanggungjawab untuk menjelaskan apa yang telah saya tulis. Saya akan mendahuluinya dengan menjelaskan tentang apa yang mendasari saya menulis novel.

Novel sebagai salah satu bagian dari sastra muncul telah lama sekali. Ide pertama tentang novel di Eropa dimulai oleh Rebelais dan Cervantes. Rebelais melahirkan Gargantua and Pantagruel sementara Cervantes mengarang Don Quixote (Kundera, The Art of the Novel; 1988). Menurut Kundera, sastra memiliki satu spirit, yaitu ambiguitas, maka musuh utamanya adalah agelaste. Agelaste adalah bahasa Yunani yang artinya orang-orang yang tidak bisa tertawa dan tidak punya sense of humor. Kaum agelaste adalah yang berpendirian bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang jelas, sehingga semua orang niscaya akan berpikir tentang hal yang sama, tentang kebenaran yang tunggal. Kaum agelaste yakin bahwa pengetahuan mereka tentang diri mereka sama persis dengan diri mereka.

Memang dalam keseharian, kita selalu menghindari ambiguitas. Kita selalu menghindari makna ganda dalam berbicara. Itu semua agar pendengar menangkap dengan jelas apa yang kita bicarakan. Agar tidak ada kesalahpahaman. Lebih dari itu, agar pendapat yang kita sampaikan bisa lebih diterima dengan mudah. Saya pun setuju dengan itu.

Namun, dalam lingkup yang lebih luas lagi, ketika pikiran-pikiran manusia saling bertentangan, kita menyadari bahwa dunia berisi berbagai macam pendapat yang mustahil disatukan. Begitulah ambiguitas dalam novel. Ambiguitas ini seakan-akan ingin mengatakan bahwa kebenaran itu relatif. Oleh karenanya, maka karakter novel seharusnya selalu bersifat polifonik. Ia menampung banyak suara yang datang serempak, saling mendahului dan berlapis-lapis, dengan tidak ada kata putus tentang suara siapa yang benar.

Nah, berdasar pada pemahaman bahwa novel itu ambigu, dan berangkat dari sebuah tema yang sungguh sederhana bahwa kebebasan butuh konsekuensi yang besar, maka saya menulis novel ini.

Novel ini bergenere komedi dan diberikan label pelit (personal literature) oleh Bukune sebagai penerbit. Kemungkinan besar banyak yang memahami bahwa isi di dalamnya adalah kisah nyata sang pengarang. Padahal, sudah saya jelaskan dalam pembukaan di novel itu bahwa tidak semua cerita di dalamnya kisah nyata yang pernah saya alami. Ini penting saya jelaskan karena tidak sedikit sahabat-pembaca yang menilai novel ini sebagai autobiografi.

Saya setuju dengan ungkapan, “pengarang mati setelah karyanya selesai”, yang mengindikasikan kemandirian sebuah karya. Bahwa sebuah karya, setelah selesai dibuat, menjadi sesuatu yang ‘lain’ dari penulis. Memang ada bagian dari penulis, tapi hanya sebagian. Tidak ada identifikasi bahwa penulis adalah karya atau karya adalah penulis. Analogi ini seperti hubungan ibu dan anak. Lebih dari itu, pembaca menjadi bebas mengartikan sebuah karya tanpa takut berlainan dengan apa yang dimaksud oleh penulis. Karena dalam karya itu penulis sudah tidak ada, ia telah mati.

Disamping itu, saya juga setuju bahwa tulisan (cerita dalam hal ini) dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pembaca. Bahkan bisa sampai merubah cara seseorang menilai sesuatu. Maka ketika itu terjadi, mau tidak mau penulis menjadi bagian tak terpisahkan dari pengaruh itu. Pendapat ini tentu tidak bertentangan dengan pemahaman ‘pengarang mati setelah karyanya selesai’, karena seperti yang diteorikan oleh M.H.Abrams (The Mirror and The Lamp: Romantic Theory and The Critical Tradition; 1953), pada dasarnya karya sastra menampilkan empat sisi: pengarang, masyarakat (universe), teks karya dan pembaca.

Dalam kasus saya,
Citra Mufthi, sahabat-pembaca, pernah berkomentar....

G0od!
Q dah bLi bkux, bGuz bgt dEch!
Q iKt saLud! Dgn bku nie,, q bsa l0l0z dr pKsaAn 0rtuq bwt msUkin q ke pSntren, jd q bSa bukTiIn law msUk pSntren g' mNjamin saNtri yg bÆk,,
he... :-) thAnkZ!

Saya menanggapi kalimat ‘masuk pesantren gak menjamin santri yang baik.’ dengan satu kesadaran bahwa tidak ada yang salah dengan kalimat itu.

Begini, ada
survey yang menyatakan bahwa anggota DPR adalah anggota dewan yang paling tidak dipercayai masyarakat. Banyak terjadinya korupsi, kolusi, perzinahan dan lain sebagainya. Sampai pernah diabadikan dalam lagu Slank. Dalam masyarakat luas sudah termaindset bahwa anggota DPR buruk. Namun, beberapa pakar politik yang tahu ada beberapa anggota DPR yang masih bersih, mengatakan “gak semua anggota DPR buruk, masih ada mereka yang baik.”. Di tengah orang-orang yang buruk itu masih ada orang-orang baik. Simpelnya: banyak orang buruk sedikit orang baik.

Nah, kebalikannya dari itu, pondok pesantren telah termaindset dalam kepala masyarakat sebagai tempat berkumpulnya orang-orang baik. Lulusan ponpes adalah orang-orang yang dihormati. Namun seperti institusi lainya yang punya cela, begitu juga pesantren. Sehingga timbulah ungkapan “gak semua anak pondok baik, ada juga yang buruk.” artinya masih banyak yang baik daripada yang buruk. Lagipula, di belahan dunia mana yang terdapat orang baik seluruhnya?

Kemudian jika ada sahabat-pembaca yang memutuskan untuk tidak mau masuk pesantren, menurut hemat saya itu semata-mata karena pilihan mereka untuk tidak mau masuk pesantren. Bukan karena pemahaman bahwa ‘gak semua anak pondok itu baik’, karena sekali lagi itu adalah kesimpulan yang wajar. Sehingga saya berkesimpulan bahwa novel itu bukan sebab tapi hanya pemicu.

Dan dengan ini, mudah-mudahan saya telah menyelesaikan tanggungjawab saya untuk menjelaskan; kepada para sahabat-pembaca juga terutama kepada Allah.


Your Humble Writer

Nailal Fahmi


Minggu, 06 September 2009

Kau Ada

Pada selembar pagi
cobalah pergi ke kebun belakang
dimana suara burung dan alam merdu terdengar

sesekali cobalah bangun pada tengah malam
ketika degup jantungmu jernih berdebar

bukan untuk apa
tapi tuk pikir dan renungi
bahwa Kau ada


Bekasi, 6 September 2007

Jumat, 28 Agustus 2009

Aku Hanya Ingin Menulis, Terserah Mereka Mau Bilang Apa



Pada sebuah pilihan hati aku berdiri. Aku punya harapan kecil agar selaksa rasa ini bisa ditulis. Karena aku hanya mampu menulis. Supaya ini bisa dikenang atau jika mungkin diabadikan. Ya, aku sadar tidak ada sesuatu yang abadi. Tapi biarlah, biarlah sekali lagi aku menulis. Hanya menulis. Membuat segalanya bisa dikenang walau tanpa abadi.


Hai....

Sedang apa malam ini? ini sudah pagi untukku, entah bagimu. Masih malam mungkin. Dan engkau mungkin masih tidur. Sebenarnya aku tidak sampai hati melakukan ini; mengingatmu. Takut aku mengganggu tidurmu. Tapi, semua ini di luar kemampuanku.


Dan sekarang kamu telah berada di depan lembaran putih ini...


Mungkin pada sebuah pagi. Ketika kamu membuka mata dari tidur indahmu semalam. Bersyukur atas kehidupan yang tuhan berikan padamu. Dan kemudian bergegas melaksanakan aktifitas. Ketika itu, aku ingin sekali melihatmu dalam keadaan yang paling alami.


Atau pada selembar senja, setelah kamu menyelesaikan segala kegiatan. Setelah kamu mandi dan membersihkan tubumu dari aroma siang-siang yang lelah. Ketika aroma sabun kemudian ganti melekat di kulit halusmu. Dan ketika itu aku ingin sekali melihatmu dalam keadaan yang paling alami.


Atau mungkin juga pada seujar malam yang sering kau rindukan. Pada sunyi sepi kesendirian. Pada detak jantungmu sendiri yang bisa kau dengar. Ketika kamu sendiri dan merenungkan hidupmu yang sekarang. Pada kekinian. Dan ketika itu, sekali lagi, aku ingin sekali melihatmu dalam keadaan yang paling alami.

Ini akan terdengar sedikit romantis, sayang...


Kamu ingat, ketika aku mengungkapkan seluruh perasaanku padamu pada sebuah siang terik di awal bulan penghujung hujan. Di dekat sebuah jembatan yang di bawahnya mengalir sungai yang lapar akan air. Aku harap kamu tidak bisa melupakannya. Ketika aku mengatakan “Dua tahun lagi, atau mungkin bisa lebih cepat, maukah menikah denganku?”


Waktu seperti melambat.


Ada rasa heran bercampur kegugupan pada wajahmu. Dan, ma’af, sayang...

diam-diam aku mengaguminya. Semakin manis.


Dalam segala carut marut hidup yang tidak pasti, mungkin kamu mempertanyakan ucapan itu. Kata-kata itu tidak terucap tiba-tiba. Bukan karena aku dirasuki jin penunggu pohon yang di bawahnya aku berdiri ketika mengatakannya. Bukan juga karena pengaruh siang yang terik dan monoksida yang terlalu banyak kuhirup dari kendaraan yang lalu lalang di jalan itu. Dan tentu saja, juga bukan karena aku berada di bawah ancaman siluman kodok yang bersembunyi pada rerimbun semak yang ada di belakangku. Bukan. Bukan karena itu aku mengatakannya.


Setiap sesuatu punya alasan dan pertimbangan, seberapapun kecilnya. Tidak lepas juga dalam masalah ini. Yang pertama, menikah adalah sunah nabi, dengan mengikuti sunah nabi berarti aku juga mengikuti perintah Allah. Jadi alesan utamaku menikah adalah karena Allah. Ini bukan sesuatu yang naif, bukan? Malahan sesuatu yang fitrah. Yang kedua, karena menikah adalah kesiapan mental. Dan aku merasa punya mental untuk itu. Menundanya berarti merendahkan mental yang sejauh ini terbentuk. Diluar semua itu, kata-kata itu sudah sering aku ucapkan dalam segala bentuk fisualisasi dalam kepalaku.


Aku tahu, kamu tidak butuh penjelasan panjang lebar ini. Aku tahu itu, matamu yang mengatakannya. Namun sekali lagi, biarlah ini menjadi sekedar tulisan.


Tidak banyak yang kuharapkan. Bahkan tidak ada yang kuharapkan. Ya, aku tidak mengharapkan apa pun. Apakah ini terdengar aneh?...


Begini maksudku: apalah arti harapan ditengah-tengah kemasabodoan dunia. Seberapa berartinya harapan ditengah-tengah ke-skeptis-an. Bukankah kita hidup dalam lingkungan yang murni pesimis. Atau parahnya lagi pada lingkungan yang tidak punya harapan. Pada ujung dunia. Pada ujung penderitaan, sayang. Kita hidup pada tatanan dunia yang kacau balau walaupun belum hancur. Ditengah dunia yang absurd ini, kamu tahu.... kita seperti sisifus yang mendorong batu besar ke atas sebuah gunung. Makin banyak langkah yang kita ambil, makin berat batu terasa.


Manusia optimis mungkin berpikir kalau segala sesuatu bisa diselesaikan. Bisa dirubah. Bisa diatasi. Tapi kenyataannya, manusia optimis yang sukses seperti itu hanya ada pada buku-buku... hanya ada dalam workshop dan training. Justru orang-orang optimislah yang paling gampang jatuh pada sikap pesimis. Karena dalam pandangan mereka cuma ada dua kutub. Optimis atau pesimis. Berhasil atau gagal. Sudah.


Tapi tidak denganku! Aku bukan orang yang terlalu optimis memang, namun aku juga bukan pesimis. Kalau boleh memilih —karena dunia ini pilihan, aku ingin digolongkan sebagai manusia-manusia bertahan. Bertahan untuk tidak pesimis. Dunia ini bukan hitam dan putih, sayang! Pesimis dan optimis adalah penyederhanaan yang terlalu jujur.

Manusia optimis adalah manusia menyerang! Klasifikasi ini seperti pola dalam pertandingan sepak bola. Bertahan dan menyerang. Keduanya punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Pola menyerang menekankan usaha yang terus menerus untuk mendapatkan gol. Segala usaha dikerahkan. Namun sering sekali, pola ini malah melemahkan barisan belakang. Sementara pola bertahan adalah sebaliknya. Menahan sekuat tenaga serangan dari lawan. Bertahan untuk tidak kemasukan gol adalah prioritas utama. Tentu, sambil menunggu dengan sabar kesempatan menyerang. Menunggu lawan lelah dan lemah, maka pada kesempatan itulah penyerangan akan lebih telak.


Lalu kemudian aku ingin bertanya, apa artinya orang-orang optimis di tengah-tengah absurditas ini? Untuk kita yang setiap hari dihadapkan pada realitas. Terkadang ada pikiran: sulit untuk merubah sesuatu yang terlanjur sudah rusak. Tentu kita tidak dapat menyambung arang yang patah.... kita hanya dapat bersyukur terhadap sisa arang yang yang masih ada sambil menjaga sekuat tenaga agar sisa yang ada itu tidak patah kembali. Namun, dalam penjagaan yang susah payah itu, suatu saat, arang itu akan patah kembali. Apakah kita akan pasrah. Tidak! Belum saatnya! Yang mesti kita lakukan adalah sadar! Sadar bahwa segalanya mungkin patah dan tidak takut dengan kepatahan. Kita akan kembali lagi bersyukur atas sisa patahan yang masih tersisa dan kembali menjaga dengan sabar patahan yang telah mengecil itu agar tidak patah kembali. Sampai akhirnya kita tersadar bahwa arang itu kembali patah. Dan yang kita lakukan adalah kembali bertahan. Di tengah-tengah situasi yang hampir tanpa harapan ini, mental yang seharusnya ada adalah mental bertahan. Bertahan dan bertahan.
Dan aku butuh sedikit senyummu untuk itu.


Cuma itu.


Ma’af kalau penjelasanku barusan terkesan arogan, Dee...


Aku akan membumi.


Sejujurnya, masih banyak hal yang ada di dunia ini yang tidak kumengerti adanya. Bahkan sama sekali tidak kuketahui. Aku lemah atas pengetahuan itu. Karena itu, walaupun segala pendapat yang barusan kutulis bernada pasti, aku masih mau menerima laku kritik dari siapa saja. Juga kamu, tentu. Kehidupan yang akan kita jalani nanti tentu akan berbeda dari kehidupan yang sekarang. Masalah yang ada sekarang bisa menjadi bukan masalah di kemudian hari. Begitupun sebaliknya. Dan masalah-masalah baru pasti akan selalu ada. Seperti biasanya, aku akan senang dengan masalah-masalah itu. Bukankah memang kehidupan sendiri adalah masalah?


Dan akhirnya —memang akan selalu ada akhirnya, terimalah aku dengan segala kekurangannya.


Mungkin butuh waktu bagimu dan juga bagiku untuk mengerti. Maka dari itu, simpanlah kertas ini dalam tidur-tidur indahmu selanjutnya. Sebab apa yang diucapkan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tapi yang tertulis, tetap tertulis.

Kamis, 23 Juli 2009

Farih

gambar surga
pada tembok sekolah
taman kanak-kanak


Juli 2008